
Prak ! Prak !
"Baiklah ! baiklah aku bangun ! Aku bangun !"
Karena tamparan tamparan kecil Akuto terbangun lalu ia membuka matanya dan melihat ada seorang gadis kecil duduk dipangkuannya.
"Selamat pagi !"
"Eh ? um selamat pagi .. apa yang kau lakukan disini ?"
"Aku membangunkan kakak ! aku membawa roti untuk kakak makan !"
Sambil tersenyum manis gadis kecil itu menunjukan sebuah roti gandum yang ada dikedua tangan kecilnya.
"Oh ini sarapanku ! terimah kasih ya !"
"Ehehehe.."
Akuto mengelus kepala gadis kecil itu dengan pelan dan dia hanya tertawa.
"Baiklah kalau begitu akan kuambil"
"Hup !"
Gadis kecil itu menangkap roti yang akan Akuto ambil lalu pipinya mengembung.
"Berikan aku hadiah !!"
"Hadiah ??"
"Aku ingin hadiah !"
"Oh .. Oh ! baiklah !"
Akuto mencari sesuatu di tas kayu bakarnya.
"Apa yang cocok untuknya ya.."
Akuto melirik gadis kecil itu dan matanya penuh oleh harapan sebuah hadiah.
"( Sial ! kalau begini aku tak bisa menolak ! )"
Akuto mencari barang barang yang bisa dijadikan hadiah dan ia menemukan satu.
"Hmm.. bagaimana kalau ini"
"Kakak ??"
Dari belakang gadis kecil itu bertanya dengan penasaran.
"Ta da !! lihat ini !!"
"Apa itu ?"
"Ini adalah taring serigala putih !!"
Akuto berbicara bagaikan host acara tebak tebakan berhadiah dan lalu dia memberikan kalung dengan taring ke gadis itu.
"Baik sudah terpasang !"
"Terimah kasih kakak !"
Gadis kecil itu memeluk Akuto dengan erat.
"Eheheh bagaimna kalungnya"
"Bagus ! tapi bagaimana kakak bisa mendapatkannya ?"
"Aku mengalahkan serigala kufufufu !"
Mata gadis itu berkaca kaca lalu ia bertanya sambil menundukan kepalanya.
"Hmm kakak .. apakah kakak bisa mengalahkan beruang ?"
".. Tentu saja !! aku bisa mengalahkannya !"
Akuto dengan bangga mengatakannya.
"Kakak keren !"
Wajah Akuto memerah saat gadis kecil itu memeluknya lagi.
"( Sial ! jiwa loliconku bergetar !! sebaiknya aku ganti ke mode sunyi saja )"
"Oi bocah ?"
"?"
"?"
Mata orang itu terbelangak saat melihat Akuto sedang memeluk gadis kecil itu dan melihat mata gadis itu berkaca kaca.
"Dasar kau bocah !"
"Eh ! eh.. !!!"
20 menit berlalu dan sekarang Akuto sedang berdiri diluar memandangi desa bersama pria yang memanggilnya bocah dan gadis imut.
"Eh.. kenapa kau langsung memukulku !"
"Ahahaha ! maaf maaf ! seharusnya aku bertanya terlebih dahulu"
"Oh disini kau rupanya zen !"
"Oh ada apa ?"
"( Huh ? nama paman ini zen ya )"
Sambil melihat kedua orang itu bicara gadis kecil itu beryanyi kecil sambil mengandengkan tangannya.
"Kakak ? apa kakak tidak membawa kayu ?"
"Membawa kayu ?"
Kedua pria yang sebelumnya berbicara menatap Akuto.
"Huh ? ada apa ?"
"Kebetulan kami kekurangan pekerja !"
"Ahaha ! bagaimana kalau ikut membantu bocah ?"
"Membantu ?"
Gadis kecil itu tersenyum dan Akuto melirik lirik dengan bingung.
"Yosh !! artinya kau mau baiklah ayo !"
"Eh !"
"Bagaimana ?? rasanya bergandengan denganku ? Ahahaha !"
"Sial ! oi paman lepaskan !!"
"Ahahaha !!"
Akuto melihat ke belakang dan disana gadis kecil itu melambaikan tangannya.
"Ta ta !! selamat berkerja kakak !"
"( Karena dia.. tapi .. dia.. !!! )"
Akuto tidak ada pilihan lain dan sekarang ia mengikuti pria itu menebang pohon dihutan.
"Baiklah bocah ambil ini lalu tebang pohon yang disana !"
Akuto mengambil sebuah kapak dan itu sedikit berat untuknya.
"Kau bisa ? jika tidak aku akan memberikan tusuk gigiku untukmu !"
"Aku bisa !"
Akuto pergi, paman zen memandangi Akuto dari belakang lalu ia melanjutkan perkejaannya.
Akuto mengayunkan kapaknya dan lalu ia merasakan kekuatannya aktif.
"Whoff !"
Pohon tumbang bersama ketiga pohon yang berdiri sejajar dibelakangnya.
"Huh ??"
"Yang benar saja ?"
Seluruh orang yang disana menatap dengan terkejut saat melihat Akuto menebang sekali tiga pohon.
"Tak kusangka kau sekuat itu bocah !"
"Ehehe.."
"Kalau begitu sekarang kau bersihkan ranting dan daun disini"
"Eh ?!"
Sekarang Akuto tahu bahwa ia telah melakukan sekali ayun tiga perkerjaan.
"Ahaha ! kalau begitu kau kutinggal !"
Zen pergi lalu mengangkat kayu yang sudah tak beranting ke desa.
"Sial..."
Akuto melirik sekitar tapi tidak ada yang punya niat membantu sepertinya itu karena pengaruh Albert.
"Tidak pilihan lain mungkin dengan sihir akan lebih cepat"
Akuto memikirkan sebuah sihir apa yang bisa membantunya.
"( Sihir san ! Sihir san ! tolong bantu aku ! )"
"Oi apa yang kau lakukan ?!"
"Hmm siapa ?"
Ternyata itu Albert diikuti beberapa orang lainnya.
"Itu pasti kau yang membawa beruang itu kesini !!"
"Iya itu benar !!"
Beberapa orang lainnya berteriak setuju mempojokan Akuto.
"Hey tunggu ! bagaimna kalian bisa menyimpulkan begitu ?!"
"Jangan banyak cari alasankau bocah !"
Salah satu pria dibelakang datang menganyunkan kapaknya.
"Whop ! ha !"
"Dasar ! kemari kau!!"
Dan beberapa orang lainnya datang untuk membantu temannya yang kesusahan menyerang Akuto.
"Sial ! aku peringatkan ! sebaiknya kia bicarakan terlebih dahulu !"
"Tidak ada pembicaraan ! kau itu jelas jelas seorang penyihir jahat !!"
"Huh ? penyihir ?"
"Kena kau !!"
"Ahaha !! jangan remehkan kami !!"
Mereka berhasil mengepung Akuto dan terpaksa Akuto menggunkan sihir pada mereka.
"Wind Boost !!"
"Ahh !!"
Sebuah dorongan angin yang sangat kencang menghempaskan semua yang ada disekitarnya.
"Oh tidak ! aku terlalu berlebihan !"
Orang - orang yang mengepung Akuto terlempar jauh dari tanah dan pohon yang Akuto tebang terpental.
"Oi !! Kalian tidak apa apa ?!"
Paman zen datang berlari dengan cepat.
"Huh ? bocah ! dimana yang lainnya ?"
"Mereka .."
"Ada apa ini ?!"
"Dimana Albert ?!"
Beberapa penduduk lainnya datang bertanya dengan cemas mereka membawa senjata tajam ditangannya.
"Huh mereka disana ?!"
"Apa bagaimana bisa ?"
Mereka menemukan orang yang menyerang Akuto terpental jauh dari situ.
"Bocah apa yang terjadi ?"
"Uh.. tadi mereka menyerangku dan aku menggunakan sihirku untuk membela diri tapi"
"Dasar iblis !!"
Orang yang dibelakang zen berteriak dengan suara yang bergetar
"Eh apa ?"
"Kau iblis !! teganya kau menyerang mereka secara tiba - tiba !!"
"Huh ? Tunggu ! aku tidak melakukan apa - apa mereka yang menyerangku !"
"Dasar !! zen kita tak bisa membiarkannya hidup !!"
"Sebaiknya kita membahasnya nanti ketika tiba didesa"
"Memangnya iblis sepertinya bisa diajak berbicara !!"
"Oi ! apa maksudmu !!"
Akuto berteriak dengan keras karena sudah jengkel dengan tingkah laku mereka.
Penduduk desa terdiam ketakutan saat Akuto meneriakinya.
"Ka - kami hanya akan berbicara denganmu jika kau diikat !"
"Huh ? omong kosong apa ini ?!"
"Zen bantu kami mengikat dia !"
"Hey tunggu- !"
"Kita tak bisa menunggu dia berbahaya !"
"( Apa apaan ini ? apa mereka bercanda ? )"
Paman zen menatap Akuto lalu.
"Maafkan aku nak jika aku tidak melakukannya maka akan terjadi keributan"
"A - apa ?! oi tunggu ! ap-"
pak !!
Zen memukul Akuto lalu Akuto jatuh pingsan.