Become a Hero In Another World

Become a Hero In Another World
Malam Penuh Pertempuran



Akuto membuka peta lalu melihat kompas yang ia pegang dan ia terus berjalan dengan melompat dari atap ke atap.


"Baik kalau tidak salah kota ini dikelilingi oleh benteng besar seharusnya aku akan melihat gerbang nya dari kejauhan"


Lalu ketika Akuto sedang berada di atas atap atap bangunan dengan melompati atap atap tersebut.


Dari jalanan ia melihat ada pasukan berzirah berserta Kavaleri dan banyak perlengkapan yang disimpan dalam sebuah kereta angkut yang ditarik dua kuda.


"Itu ? sepertinya aku akan mendapatkan bala bantuan"


Rasa takut di hati Akuto sedikit menurun karena ia tahu kemungkinan pasukan tersebut sedang bersiap dan akan mendatangi lokasi yang sama dengan Akuto datangi.


"Kalau begitu aku harus bergegas sebelum penculik itu pergi !"


Akuto memperkuat penggunaan kekuatan nya walau dirinya sendiri tidak tahu pasti kekuatan seperti apa yang ia miliki ini.


Untuk sementara ia berpikir kalau kekuatan ini adalah kekuatan sihir imajinasi yang menggunakan kemampuan pikiran seseorang untuk mewujudkan sihir yang ia buat.


Setelah setengah jam berlalu dikarenakan ia harus mengambil sedikit jalan memutar menuju gerbang timur.


"Aku sampai !"


Akuto sudah sampai ia berada didekat gerbang dan bersembunyi di sebuah gang kecil yang berada di antara dua rumah dan Akuto melihat sebuah pintu besar yang dijaga kelompok prajurit.


"Sepertinya itu jalan keluarnya ya tapi .. mari kita coba dahulu lewat sana !"


Akuto pun berjalan dan menangkan nafasnya yang terengah-engah, Berusaha tetap santai ia datang menghadap ke kelompok prajurit tersebut.


"Selamat malam tuan tuan !"


"Malam apa yang kau lakukan disini anak muda ?"


"Aku adalah pengembara"


"Pengembara ?"


Prajurit itu melihat ke arah temannya dan temannya melirik dengan tajam.


"Sebaiknya kau tidak keluar untuk saat ini dan tunggulah saat matahari terbit"


"Maaf tapi aku harus buru - buru"


"Kenapa ?"


"Ah.. aku tidak bisa menjelaskannya maaf"


Prajurit itu sekali lagi terdiam dan melihat Akuto dari atas sampai bahwa seakan - akan mencoba mengingat wajah Akuto.


"Baiklah kau -"


Dari arah arah belakang terdengar ringkikan kuda dan ada seorang lelaki membawa surat ditangannya.


Lalu prajurit itu mengabaikan Akuto untuk sementara dan mendekati lelaki yang berada di atas kuda.


"Maaf aku harus berbicara dari sini sebelumnya"


"Ah tidak usah kau pikirkan dan pesan apa yang kau ingin sampaikan"


"Aku menyampaikan pesan dari kapten ksatria untuk membuka gerbang timur segera dan yang ku pegang saat ini adalah surat resminya"


"Baiklah biar ku lihat"


Prajurit itu membaca surat perintah dari kapten ksatria tersebut dan ia mengangguk.


"Baiklah aku mengerti akan segera kubuka gerbang utamanya"


"Baiklah terimahkasih"


Lelaki itu memegang tali pengekang kudanya dan mencoba memutar balik akan tetapi ia berhenti ketika melihat jubah yang dikenakan Akuto.


"Hmm siapa orang itu ?"


"Dia ? dia adalah seorang pengembara dari yang ia katakan"


"Aku rasa aku pernah melihat jubah yang ia kenakan"


Orang tersebut tak bisa melihat terlalu jelas postur tubuh Akuto karena gelap dan hanya diterangi obor yang diatasnya nyala api.


"Pernah melihatnya ? apa sebelumnya kau pernah melihatnya mengembara ?"


"Ah tidak kurasa akan tetapi.. oh iya ! kalau tidak salah .."


menggali pikirannya untuk mencari tahu dimana ia pernah melihat Akuto dan ia menemukan nya.


Segera setelah itu ia berteriak.


"Ia tahanan yang kabur !! tangkap dia !!"


"Apa ?! kau serius ?!"


"Ya !!"


Dan lelaki itu segera memacu kudanya mengarah ke Akuto dan mengambil pedang yang tersarung berusaha melumpuhkan Akuto dengan itu.


Mendengar suara lelaki itu Akuto samar samar familiar dengan suaranya dan dia sedikit waspada dan kecurigaan nya benar ketika lelaki itu berteriak segera setelah itu ia langsung memacu kudanya.


"Huwaaa !!!!!!"


Sekuat tenaga Akuto membangkitkan kekuatannya lalu ia melompat tinggi ke atas langit.


"Apa ?!"


"Dia seorang pengguna sihir !"


"Dimengerti prajurit !! bersiap !! dan tembak !!"


Sementara Akuto berada di atas langit prajurit itu berteriak memerintahkan anak buahnya untuk menembakan panahnya ke arah Akuto.


"Hop ! Hyaaa ! itu tak akan mengenaliku !"


"Tcih !"


Prajurit yang ada diatas benteng kesal karena Akuto berhasil menghindari panah panah yang menghujani nya.


Akan tetapi sebaik baiknya tupai melompat tupai itu akan terjatuh pula, Banyak panah yang mengarah kepada Akuto secara bersamaan.


"Gaaa !!"


"Fi - Fire Ball !!"


Bola api itu membakar habis anak panah yang di tembakannya kepada Akuto.


"Tcih !"


Dari bawah Lelaki yang menunggangi kudanya menatap ke atas melihat kepada Akuto.


"Pantas saja ia sengaja menyerahkan dirinya.."


"Ada apa tuan ?"


"Sepertinya orang itu adalah mata mata !"


"Mata mata ? kalau begitu sebaiknya engkau sampaikan kepada kapten !"


"Dimengerti ! aku izin pamit !"


"Serahkan yang disini kepada kami !!"


"Baik ku serahkan kepadamu !"


Lelaki tadi membalikkan kudanya dan kembali dengan cepat sedangkan prajurit yang ditinggal kan itu bingung cara mengalahkan Akuto seperti apa.


"Sebaiknya Aku menahannya disini sampai mereka memanggil seorang pengguna sihir lainnya"


Di kalangan prajurit penjaga gerbang tak banyak orang yang bisa menggunakan sihir mereka hanya menempa kemampuan fisik, berpedang, memanah, dan hal hal lainnya selain sihir.


Akuto juga menyadari kalau ia tidak bisa menghabiskan waktunya disini karena Shironeko sedang menunggu untuk diselamatkan.


"Kalau begitu sebaiknya Aku pergi !"


"Dia bergerak !"


"Apa ?! jatuhkan dia ketika melewati kita !"


"Baik !"


Akuto memang melewati atas benteng itu akan tetapi ia melesat dengan cepat dan menjatuhkan sihir airnya ke bawah hingga mementalkan prajurit prajurit pemanah tersebut tanpa melukai mereka.


"Sial ! dia berhasil kabur !"


"Tidak apa apa nanti kita akan mendatangi langsung markas mereka untuk sekarang kita harus membuka gerbangnya terlebih dahulu !"


"Baik dimengerti !"


Setelah itu mereka membuka membuka gerbang besar itu bersamanya dibutuhkan tenaga yang banyak untuk membuka gerbang sebesar tersebut maka dari itu mereka harus membukanya sebelum pasukan tiba.


"Baiklah sebaiknya kita tak membukanya dengan lebar karena mungkin saja musuh bisa menyerbu dan kita tak bisa menutupnya dengan cepat"


Mereka pun berhenti membuka gerbang nya hingga terbuka cukup untuk sebuah kereta pengangkut melewatinya.


Di sisi lain pria yang mengendarainya kuda yang dengan segera menyampaikan pesan adanya mata mata.


"Akhirnya aku sampai !"


Dirinya sampai di sebuah mansion besar dan ada disana banyak ksatria atau bisa dibilang prajurit sedang bersiap dan ada juga beberapa petualang untuk membimbing mereka melewati hutan Ollieanoer.


"Kapten ! dimana kapten Alicia !"


"Ada apa ?"


Lelaki itu segera turun dari kudanya dan memberikan salam hormat kepadanya.


"Di gerbang timur ! ada tahanan kabur saya duga ia terlibat penculikan dan perdagangan manusia"


"Dia adalah seorang mata mata kapten ! sepertinya mereka akan segera mengetahui akan menyerang markas mereka"


Raut wajah kapten ksatria Alicia cemberut karena kesal.


"Baiklah sampaikan kepada yang lainnya untuk segera bersiap kita akan memulai penyergapan atau bisa dibilang penyerangannya"


"Baik dimengerti !"


Setelah memberi salam hormat lelaki itu pergi dan masuk ke dalam tenda tenda prajurit untuk menyampaikan pesan kapten mereka.


Jumlah pasukan kapten Alicia tidaklah terlalu banyak mereka hanya berjumlah enam puluh orang ditambah lima orang petualang jadi jumlah mereka semua adalah enam puluh lima orang.


Dan itu akan memudahkan mereka bergerak di hutan rencana mereka awalnya adalah memastikan jumlah musuh dan kekuatan mereka sebelum menyergap akan tetapi setelah adanya mata mata dari musuh kemungkinan mereka lebih waspada dan justru malah akan membantai habis pasukan Alicia di hutan dengan gerilya.


"Sepertinya aku salah memperhitungkan strategi.. tapi sebaiknya aku tidak menyatukan mereka dalam satu titik aku harus membagi hingga membuat garis horizontal"


"Kapten !"


"Ada apa ?"


"Saya memiliki pesan yang belum saya sampaikan !"


"Apa itu ?"


"Bahwa mata mata tersebut bisa menggunakan sihir"


"Apa yang benar saja ?!"


Di sisi lain Akuto sedang terbang melewati hutan dan ia melihat peta yang ia pegang dengan kuat.


"Baiklah jika mereka memiliki markas persembunyian maka mereka akan sembunyi dimana ?"


Akuto melihat sekitarnya sekarang ia telah sampai di lokasi dimana diberi tanda lingkaran tersebut di hutan ini.


"Pertama mereka tidak akan berkemah di alam terbuka karena api unggun bisa memberitahukan lokasi mereka"


Yang artinya mungkin saja mereka bersembunyi dalam sebuah gua disekitar sini dari yang ia lihat di dalam lingkaran tersebut diberi beberapa tanda silang.


"Jika kulihat lagi tanda silang yang disini sepertinya menunjuk gua yang ada disana dan yang ini juga"


Terdapat dua kemungkinan yang menjadi sarang persembunyian mereka antara gua yang itu dan yang ini.


"Kurasa aku lebih suka yang ini"


Akuto datang mendekati gua tersebut agar tidak ketahuan ia perlahan lahan mendarat di tanah lalu ia berjalan mendekati gua tersebut.


"Disini sunyi dan tidak ada tanda tanda pencahayaan ?"


Akuto semakin mendekati gua tersebut dan ia sekarang memasuki gua itu.


" Fire !"


Gua yang Akuto lewati ini cukup lebar dan gua ini memiliki jalan yang terus turun kebawah terdapat banyak kelelawar yang menghinggapi langit langit gua.


"Sebaiknya aku harus berhati hati agar tidak membangunkan mereka"


Akuto tidak ingin kelelawar biru bangun lalu membuat suara menggema hingga keberadaan nya disadari penculik penculik itu.


"Baik aku sudah semakin dekat"


Akuto melihat ada jalan yang mengarah ke kanan dan ia segera melewati jalan itu.


"I - ini jalan lurus !"


Akuto melihat ke sisi lainnya untuk melihat celah kosong akan tetapi tidak ada sama sekali ada celah untuk dirinya bersembunyi.


"Yang artinya aku harus segera membungkam orang yang kutemui"


Akuto menelan ludahnya karena baru kali ini ia harus membunuh seseorang karena sebelumnya ia hanya membunuh serigala dan beruang di hutan.


"Seharusnya Aku bisa ! ini untuk Shironeko !"


Akuto memantapkan hatinya dan menanamkan alasan yang kuat kedalam hati nya dan ia terus berjalan dari kejauhan ia mendengar suara.


"Suara ? anak kecil ? pria ?"


Akuto berjalan perlahan lahan mendekati sumber suara tersebut dan jalan sempit lurus sebelumnya menjadi lebih lebar.


"Disini lebih terang dan ada beberapa ruangan disini"


Akuto melihat seperti ada tempat yang terlihat seperti gudang karena disana terdapat banyak barang barang.


"Sebaiknya aku menyabotase senjatanya terlebih dahulu"


Mengingat game perang yang ia selalu mainkan Akuto selalu mengambil senjata musuh ataupun temannya ketika mereka sudah terbunuh didalam game tersebut.


Dan Akuto pun masuk kedalam sana dan ia tercengang dengan keadaaan didalam sana banyak anak kecil setengah hewan yang dikurung dan kondisi mereka sangat mengenaskan.


"Tolong.."


"Ibu.."


"Sial orang orang biadab !"


Akuto segera mendekati mereka dan menghancurkan jeruji jeruji besi tersebut dan ia melihat mereka menatap kepadanya.


"Siapa kau ?"


"Hmm ?"


"Semuanya sekarang tidak apa apa !"


Akuto mencari sesuatu dalam gudang tersebut ia mengambil air, makanan, dan kain kain disana lalu ia berikan kepada mereka.


"Makan ini dan gunakan ini agar kalian tidak kedinginan"


"Siapa kau ?"


"Eh.."


"Dia pahlawan ! ibu selalu mengatakan kepada ku kalau bila kita sedang kesusahan ada pahlawan yang akan datang !"


"Benarkah ?"


"Ah... kurasa memang bisa dibilang begitu"


Akuto menggaruk kecil pipinya karena malu.


"Baiklah apa ada yang lainnya"


Anak anak itu bergetar lalu Akuto memandang mereka dengan tersenyum untuk menenangkan hati mereka.


"Umm.. mereka ada disana !"


"Di sana ? baiklah sebaiknya kalian keluar melewati jalur yang di kiri dan.."


Akuto mengambil sebuah kayu dan memberikan sihir api untuk membakarnya.


"Sihir.. "


"Apa ? kau belum pernah melihatnya ?"


Anak anak itu menggelengkan kepala mereka Akuto tertawa kecil karena kepolosan mereka.


"Bawalah ini dan keluarlah lewat sana gunakan ini dengan hati hati ya"


Akuto menyuruh dua orang anak kecil yang keadaan nya lebih baik dari pada yang lainnya untuk memegang obor dan memimpin jalan keluar.


"Ingatlah setelah kalian keluar bersembunyilah dibalik pohon oke ?"


"O - oke"


Mereka pun pergi sesuai perintah yang dikatakan Akuto kepada mereka yaitu mereka menyusuri gua dan menuju keatas.


Setelah melihat mereka hilang dalam kejauhan Akuto diam diam melihat ke dalam pintu gua didalam disana suasananya lebih hangat dari pada yang tadi.


Sepertinya apa mereka menjadikan tempat yang ini sebagai pemandian air panas.


"Owh ! ramuan ini akan berguna"


Akuto membeli ramuan kamuflase di kedai nenek nenek dan itu sangat berguna bila keadaan sudah seperti ini.


"Biar ku tebak ini mungkin bisa menyembunyikan wujud ku tapi tidak dengan suaranya bukan ?"


Akuto pun meminum ramuan kamuflase tersebut dan ia menggunakan air minum sebelumnya untuk membuat genangan air kecil.


"Ini benar benar berkerja tapi aku belum memastikan suaranya"


"Hyaaa !!"


"Shironeko !"


Akuto tiba tiba teralihkan akibat suara teriakkan yang mirip seperti gadis kucing putih yang ia temui yaitu Shironeko.


"Sebaiknya aku bergegas !"


Akuto pun jalan dengan mengendap dan perlahan akan tetapi pasti ia terus mendekat dan ia mendengar suara Shironeko dan beberapa yang lainnya.


"Hahaha ! Sepertinya aku mendapatkan yang imut disini"


"Huh kau tidak akan tahu bila tidak mencobanya !"


"Lihatlah inilah keindahan yang sebenarnya"


Akuto mengintip masuk dan melihat Shironeko diangkat oleh seorang pria tua yang memiliki bekas luka tebasan di mata kirinya dan di tangannya ada Shironeko yang diangkat olehnya.


"( Shironeko ! )"


Akuto tercengang ketika melihat Shironeko dengan keadaan baju terkoyak koyak dan beberapa anak kecil kainnya dalam keadaan yang sama.