Become a Hero In Another World

Become a Hero In Another World
Penyelamatan Shironeko 2



Akuto berjalan memasukki gua tersebut dan melihat Shironeko dengan beberapa anak kecil lainnya.


"Kak !!"


Didalam sana terdengar suara teriakkan, mendengar hal itu Akuto segera mempercepat jalannya dan mengintip masuk.


Di gua itu ada beberapa orang lelaki yang berjumlah 4 orang masing masing mereka ada seorang anak kecil yang rasnya adalah setengah hewan.


Lelaki lelaki dalam keadaan telanjang sedangkan pakaian yang dikenakan anak anak itu sudah terkoyak dengan di sengaja.


Sedangkan anak anak yang lainnya duduk meringkuk memegang kepala mereka di sudut sudut gua dan mereka saling berpelukan dengan gemetaran.


"Ha.. ini pertama kalinya aku mencoba anak kecil tapi tidak ada salahnya bukan ?"


'Ahahaha takutnya mereka sudah tiada sebelum acaranya dimulai"


"Acara ? bukannya kau sedang bersenang senang ?"


"Ayolah bukan kah ini acara ?"


"Acara adalah tempat orang merayakan sesuatu dan disini kita tidak merayakan apapun kau tahu ?!"


"Oi kalian berdua ! jangan banyak bicara dan nikmati saja gadis imut ini"


Pria yang bertubuh kekar berteriak kepada mereka dan yang bersamanya adalah Shironeko.


"Gadis ini imut sekali pakaiannya berbeda, hey gadis manis apa penduduk yang memberikannya saat kau di kota ?"


"hyaaa !"


Shironeko menendang dan menampar lelaki itu walau tamparannya tidak artinya akan tetapi tendangan nya ada.


"Urgghk ! kurang ajar !"


Lelaki itu memeluk Shironeko lalu melemparnya hingga ia menabrak dinding gua.


"Kak..."


"Huh ? kau bilang apa ?!"


Lagi lelaki itu menendang perut Shironeko dengan keras hingga membuatnya gemetar hebat.


'kak... !'


Shironeko tak berhenti menangis dan terus menangis dengan terus memanggil Akuto.


"Dengar ya.. jika kau tidak ingin mati disini turuti apa yang kukatakan kepadamu ! mengerti ?"


"Hyaaaa !!"


"Oi oi !"


Lelaki itu kembali melempar Shironeko ke meja dan ia perlahan berjalan menujunya dengan wajah yang tersenyum lebar.


Melihat Shironeko yang terbaring lemas dan tidak bisa melakukan apapun amarah Akuto sudah memuncak.


"Sial aku tak bisa diam saja !"


Segera setelah itu Akuto berlari menuju lelaki itu dengan cepat dan ia melompat di belakang nya.


"Rasakan ini kau dasar sialan tak berotak !!"


Akuto memukul tengkuk kepala orang itu dengan perisainya setelah itu ia langsung pingsan karena pukulan keras tepat di belakang kepalanya.


"Ooahh !!"


Akuto merasakan ada sesuatu yang mengalir deras di sekujur tubuhnya tapi ia tidak memperdulikannya dan segera menendang tubuh lelaki itu segera sebelum tubuhnya sempat untuk terjatuh.


Tubuh lelaki itu terlempar dan menabrak dinding gua dengan keras dan menghancurkan batu dan tulang tulangnya.


"A - apa ?!


"Oi siapa yang melakukannya ?!"


"Bagaimana bisa ? ha - hantu !!"


Rekan rekannya yang tersisa tercengang ketika mendengar suara dentuman keras dan melihat temannya dalam keadaan yang sudah *****.


"Apa yang harus kita lakukan ?!"


"La - lari !!"


"Oi !! tunggu angkat pedang kalian ini hanya mantra kamuflase !!"


Sudah terlanjur lari karena terdorong oleh rasa takut mereka, kedua lelaki itu lari meninggalkan satu orang sendirian.


Akan tetapi Akuto tidak akan membiarkan mereka lari ketika mereka berada di pintu gua dan berusaha untuk kabur.


"Wind Blade !"


"Uaarrrghk !"


"A -"


Kedua tubuh orang itu terbelah menjadi dua bagian dengan melesatnya sebuah bilah angin horizontal.


Pria yang tertinggal sendirian ia merinding ketakutan ketika melihat keadaan temannya yang sebelumnya masih hidup sekarang hanya tinggallah sebuah tubuh yang berserakan.


"Kau !! sini !!"


"Hyaaa !!"


Pria itu segera menarik gadis yang bersamanya walau ia belum sempat untuk menyentuhnya akan tetapi ia harus terlebih dahulu menyelamatkan nyawanya.


"Si - siapapun kau ! jangan mendekat ! atau akan ku penggal kepala gadis ini !"


"Baik !" Akuto berseru.


Mendengar suara Akuto pria itu segera memindahkan arahnya.


"Ahaha sepertinya aku beruntung tidak kau serang dari belakang"


"Kurasa begitu"


Tetap melihat tajam ke arah orang itu Akuto terus memperhatikan tindak tanduknya untuk mencari celah.


Pria itu menarik nafasnya perlahan dan tetap tidak menurunkan penjagaan dan tetap mempertahankan posturnya.


Dengan posisi gadis kecil didepan sebagai perisai dan pria itu berlutut sambil bersembunyi di balik punggung gadis itu.


"Baiklah apa yang kau inginkan ?"


"Jatuhkan pedangmu dan berikan kepadaku !"


"Baiklah"


"Tunggu ! jatuhkan sesuai aba aba dari ku kau dengar !"


Tidak mendengar respon balik dari Akuto pria itu semakin memantapkan kewaspadaan nya dan siap memenggal gadis yang didepannya kapanpun yang ia mau.


"Satu ! dua ! tiga !!"


Ting !.


"Ku tendang !"


Ketika pria itu sudah mendengar suara Akuto pria itu memastikan lokasinya dan langsung mengangkat gadis didepannya dan berusaha menghantam Akuto dengan gadis itu.


"Dasar !"


Akuto melompat cukup tinggi karena langit langit gua itu tidak lah terlalu pendek dan Akuto melihat tubuh pria itu dari atas dan langsung mengarahkan tangannya.


"Fire Ball !"


"Urgghk !!"


Sebuah bola api melesat dengan cepat dan menembus punggung pria yang ada dibelakang gadis kecil itu.


Gadis kecil yang dijadikan sebagai perisai orang itu terlempar karena orang yang di belakangnya jatuh tersungkur dan mendorongnya.


Beruntung nya pedang yang sebelumnya dipegang pria itu terlepas dan terhempas jauh dari gadis kecil itu.


"Urgghk.. pu - !"


Akuto menembakan kembali bola apinya dan membakar kepala orang itu.


"Aaaarrr !!"


"Menjauh dariku !"


Akuto menendang keras pria itu dan orang yang terbakar kepalanya itu menabrak dinding lalu terjatuh tepat diatas pria kekar yang sebelumnya menjadi korban pertama serangan Akuto.


"Ha... apa sudah selesai ?"


Akuto melihat kakinya dan ia kembali mengecek tangannya sekarang efek dari ramuan itu sepertinya sudah hilang.


"Oh ya !'


Akuto membalikkan badannya dan segera melihat gadis yang terjatuh.


"Kau tidak apa apa ?!"


"A - aduh !"


Terdapat luka gesekkan di lutut dan sikunya segera setelah melihat itu Akuto segera menggunakan sihir penyembuhnya.


"Berhasil !"


"Te - terimahkasih"


Akuto mengangguk lalu ia berlari kembali menuju Shironeko yang terbaring lemas dibawah meja.


Sama seperti gadis sebelumnya Akuto juga menggunakan sihir penyembuhnya kepada Shironeko.


"Shironeko ? ayolah ! Shironeko bangun !"


"Kak ..?"


"Syukurlah !"


"Apa itu benar kau ? huh ?! hyaaa !! lepaskan !!"


Shironeko menendang Akuto lalu ia terhempas kebelakang karena dirinya sendiri, Shironeko terus mencoba melawan.


Melihat itu Akuto segera mengambil tindakan ia memeluk Shironeko di dekapannya untuk menghentikan pergerakannya.


"Tenanglah semuanya Baik baik saja ! kakak ada disini untuk melindungi mu"


"Krr.. kak.. hiks !"


Shironeko membalas pelukan Akuto dengan kuat gadis kecil itu memeluk Akuto dengan keras dan tidak ingin melepaskannya dan ingin terus menangis disana.


"Rupanya kau bisa menangis juga ya ?"


"Kakak !!"


Akuto terus mengelus kepala Shironeko dengan perlahan-lahan.


Gadis gadis yang lainnya yang sebelumnya meringkuk di sudut gua melihat ke arah Akuto dan Shironeko yang sedang berpelukkan.


Melihat suasana yang haru itu seisi gua itu juga ikut menangis.


"Huwaaa ! Ayah !"


"Hiks ! hiks !"


"Oi ? ayolah kalian serius ?"


Akuto kebingungan anak anak itu terus menangis ketika Akuto menenangkan Shironeko lalu pergi menenangkan yang lainnya Shironeko menangis kembali.


Dan terus begitu ketika ini sudah tenang yang sebelumnya menangis kembali ketika kembali ke sebelumnya yang setelahnya menangis kembali.


Terus berulang hingga setengah jam sudah berlalu dengan menit menit yang dihabiskan menenangkan tangis anak anak dan mendengar tangisnya juga.


"Ha... kalian sudah selesai"


"Umm..."


"Hu -"


"Ah ! sudah sudah tidak apa apa !"


"Hiks !"


"Ah... !! kalau kalian menangis terus aku juga akan ikut menangis Lo !!"


"Hummph..."


Gadis - gadis kecil itu mengelap air mata mereka terlihat mata mereka membengkak karena terlalu banyak menangis dan ada lendir yang keluar dari hidung mereka.


"Kurasa kita akan mengambil waktu sampai kalian benar benar tenang"


Tidak mau berlama-lama Akuto menunggu 5 menit lalu melihat nafas gadis gadis kecil itu dan memastikan mereka bernafas tanpa tersendat.


"Baiklah saatnya kita pergi dari sini teman teman kalian sudah menunggu di atas"


"Baik.."


"Umm.."


"Baik kak"


Akuto kembali ke ruangan gua alami di sebelah tempat mereka saat ini untuk mengambil kain yang tersisa.


"Ini kalian pakailah maaf aku tak menemukan makanan lagi disini sepertinya disini hanya ada minuman keras"


"Baik.."


"Umm.."


Akuto melihat anggukan mereka dan tersenyum.


"Baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan kita terus ikuti aku"


Akuto berjalan menyusuri lorong gua untungnya jalannya cuman satu arah dan tidak berbelit-belit dan langsung menuju keatas setelah belok ke kanan.


Mengambil langkah kecil Akuto menyesuaikan kecepatan jalannya dengan gadis gadis dibelakang ia agar mereka tidak tertinggal dan beberapa di antara mereka ada yang sangat takut kegelapan dan ada yang hanya menahan rasa takut mereka.


"Baiklah kuras aku akan sedikit membesar kan sinarnya Light !"


Anak anak itu terlihat lega dan kembali tenang perlahan-lahan mereka menuju ke atas.


"Baik kita hampir sampa lihat disana"


"Itu .."


"Sinar .."


"Yups itu adalah sinar bulan"


Akuto perlahan mematikan sihir nya lalu ia berjalan dengan cepat untuk pergi memeriksa terlebih dahulu.


"Kak !"


"Ah tidak apa apa ! aku hanya ingin melihat teman teman kalian yang sudah duluan sampai mereka ada disana kalian tetaplah dan tunggu disini"


"Umph !"


Akuto menunjuk sebuah pepohonan dan gadis itu terlihat tenang setelah itu Akuto berjalan menuju dekat sana.


"Oi ! apa kalian di -"


Snap !


"Apa ?!"


Sebuah anak panah melesat di depan wajah Akuto dan menggores wajahnya.


"Kakak !!"


"Jangan mendekat !"


Akuto menghentikan langkah mereka lalu setelah Akuto berteriak seperti itu terdengar suara teriakkan pria.


"Semuanya tembak !"


"Apa ?! tunggu !"


Akuto melompat mundur dan berdiri didepan bibir gua lalu ia membakar setiap anak panah yang datang kepadanya.


"Fire Splash !"


Sebuah semburan api yang cukup besar keluar dari kedua telapak tangan Akuto dan membakar semua anak panah yang berusaha melewatinya.


"Oh ya ! Aqua Blast !"


Sebuah dinding air tercipta didepan gua dan menutup jalan masuk untuk anak panah yang dilontarkan oleh orang orang yang bersembunyi di balik pepohonan.


Akuto mempertahankan dinding air itu dengan terus mengangkat kedua lengannya tanpa melepaskan kekuatan pegangannya.


"Kak !"


"Aku tidak apa apa ! apa kalian tahu siapa mereka"


"Am.. mu - mungkin saja me - mereka teman orang jahat tadi !"


"Teman .. artinya mereka bukan prajurit yang menuju kesini ?"


"P - prajurit ?"


"Sudahlah kalian cepat pergi kembali ke bawah !"


"Ta - tapi kak.. "


"Cepat setelah kalian sampai ke tempat tadi segera ambil obor yang disana lalu pergi ke lorong yang berlawanan dari lorong yang kita lewati !"


"Tapi kakak bagaimana ?!'


"Hahahaha ! walau aku tidak tahu tapi tenang saja aku ini kuat tahu !"


"Se - serius ?"


"Ah.. serius ! cepatlah ! aku tak bisa terlalu lama !"


"Ba - baik"


Akhirnya Shironeko pergi lalu ia mengajak gadis gadis yang lainnya untuk pergi bersamanya.


"Baiklah aku akan tunggu sebentar lagi !"


Diluar dinding para pemanah terus berusaha menembus dinding air yang Akuto buat akan tetapi itu percuma setiap anak panah yang melesat ke sana lalu patah adapun yang berhasil masuk tapi langsung hancur karena derasnya air.


"Apa yang harus kita lakukan kapten !"


"Tidak ada pilihan lain kita tunggu sampai dinding nya hilang dan kalian bagilah menjadi dua kelompok ! kelompok pertama akan tetap disini menunggu bersamaku ! dan yang kedua kalian pergi ke jalan masuk gua yang disana !"


"Dimengerti kapten Alicia !"


Prajurit itu pergi lalu mengabarkan pasukan pasukan yang lainnya tentang perintah kapten mereka.


"Hebat juga orang ini bisa membuat dinding air sebesar ini"


"Kapten !"


"Wakil ? ada apa ? apa sudah selesai ?"


"Yah sudah saya sampaikan perintah anda mereka sekarang menuju jalan masuk yang satunya lagi !"


"Kerja bagus !"


"Terimakasih kapten ! tapi apa boleh aku bertanya ?"


"Tentu saja ! apa yang ingin kau tanyakan ?"


"Apa air yang menjadi dinding itu akan menghilang atau akan.."


"Kurasa air itu akan.. Segera !! pasukan menjauh dari dinding air itu !! mundur !!"


"A - apa ?! ada apa kapten !"


"Ada kemungkinan air itu akan menghantam kita sebaiknya kita menjauh !"


"Jadi begitu !"


"Cepat bantu aku ! mundur kalian semua !!"


"Ba - baik !! semuanya !!"


Kapten Alicia bersama dengan wakilnya berteriak menyuruh pasukannya untuk mundur.


Untung saja kelompok prajurit yang mereka sebut pasukan ini hanya berjumlah 32 orang hingga mudah bagi Alicia untuk menyampaikan perintah.


Segera setelah mendengar perintah itu para prajurit menjauh dari sana akan tetapi belum sempat untuk berdiri dinding air itu tampak goyah.


"Urrgghk !! apa Shironeko sudah jauh ya !!!"


"Di - dinding itu akan jatuh !! cepat !! lari !!"


"Wuaah. !!"


Para prajurit itu panik dan segera lari berhamburan menjauh dari dinding air yang akan runtuh itu.


"Wuaaaah ! aku tak bisa menahannya lebih la.a lagi !!"


Sebuah ombak yang tercipta dari dinding air Akuto mengalir dengan deras dan menghantam semua yang berada di jalannya.


"Oarrrghh !"


Beberapa prajurit yang tertinggal terhempas kencang oleh air sedangkan yang sudah cukup jauh hanya terbawa arus yang hanya seperti arus normal dan yang jauh mereka terbawa dan tidak terdorong hingga terlalu jauh.


"Fuih ! berapa yang bisa berdiri !


Sekitar 10 orang bangkit dan disana terlihat Wakil kapten termasuk.


"Bagus ! Serang orang yang disana !"


"Baik !!"


Alicia melihat seseorang yang berdiri di gua karena malam itu tampak tidak jelas akan tetapi instingnya berkata kalau itu adalah penyebab dari sihir air ini.


"Aaa !!!"


"Serang !!"


Mereka berteriak untuk membangkitkan semangat mereka dan ketika mereka berlari mereka melihat teman teman mereka yang tak sadarkan diri dan mengeluh kesakitan.


"Sial !"


Alicia yang juga melihatnya merasa malu karena ia telat menyadari hal itu seharusnya ia menyadarinya sejak dinding itu muncul.


"Walau begitu !"


Alicia terus berlari dan hampir mendekat walau lari mereka tidak terlalu cepat karena basah dan juga tanah licin mereka terus berlari mendekati Akuto.


"Yosh mereka datang !"


Ketika merasa mereka cukup dekat Akuto langsung melesat ke arah mereka dan tiba di depan mereka.


"Kena kalian dasar ba -"


"Tu - tuan Akuto !"


"A - Alicia !"


"Apa ?!"


Akuto tercengang ketika melihat wajah Alicia sedangkan beberapa orang kebingungan dan ada pun yang tidak.


"Tahan !'


"Dia sudah di depan mata kenapa ?!"


"Aku mengenalnya !"


"Kapten ?! apa kau bercanda ?! kau -"


"Tunggu kurasa ini hanya kesalahpahaman ! aku datang kesini untuk menyelamatkan temanku !"


"Apa ?!"


"Apa benar begitu tuan Akuto ?"


"Ya !"


Ketika Alicia akan mencoba yakin dan percaya dengan kata - kata Akuto seorang yang tergeletak di batang pohon yang sudah tumbang menyela.


"Di - dia tahanan ! aku sendiri yang menangkapnya ! dia adalah pelaku penculikan gila yang menyerahkan diri kepada kami !"


Alicia menatap Akuto dengan tajam lalu teman dari pria tadi ikut berbicara.


"Benar ! aku ingat dengan jelas wajahnya ! dia orangnya !"


"Kalau begitu !"


Seorang prajurit dengan cepat menghampiri Akuto walau prajurit ini tak ahli dalam sihir tali ilmu pedang mereka dan kekuatan fisik mereka sangatlah hebat.


Prajurit itu melesat lalu menebas pedangnya beruntungnya Akuto berhasil menghindari tebasan pertama akan tetapi yang ia lawan bukan hanya satu sesudah setelah itu prajurit yang lainnya datang.


Melihat itu Akuto melompat mundur dan menjaga jarak.


"Fire Splash !! Water splash !!"


Sebuah semburan api mendatangi mereka dan prajurit prajurit itu terbakar termasuk dengan Alicia yang memutuskan ikut menyerang.


Akan tetapi Akuto tidak ada niatan untuk membunuh mereka setelah itu datang lah sebuah air yang menyebut hingga membuat uap panas.


Walaupun apinya sudah dipadamkan akan tetapi rasa bakarnya tetap ada dan uap panas juga membutakan penglihatan mereka


"Baiklah kurasa disini selesai"


Akuto melihat sekeliling nya untuk melihat kondisi pasukan Alicia dan memastikan tidak ada meninggal akibat dirinya.


Ketika ia sudah bisa melihat keadaan prajurit dan Alicia yang berada dalam uap panas itu dalam keadaan baik baik saja Akuto pun lega.


"Baiklah.. artinya yang Shironeko dan yang lainnya temui adalah bandit bandit itu ya.."


Akuto segera pergi berlari kembali masuk kedalam gua untuk mengejar Shironeko dan anak anak yang lainnya.


"Aku-"


Alicia yang setengah tersadar melihat punggung Akuto dan berusaha untuk menghentikan dirinya.


Akuto sampai di bibir gua dan ia menggunakan sihir cahaya untuk membantunya dan lalu ia langsung berlari turun kebawah gua agar tidak tersungkur Akuto melompat ke pijakan yang lebar di jalan menurun gua itu.


"Shironeko ! jangan ke sana !!"


Ketika sudah tiba didepan lorong Akuto menggemakan suaranya agar sampai kepada Shironeko.


"Baiklah kuharap ia mendengar nya bila ia masih ada didekat sini !"


Akuto kembali berlari dan memeriksa tempat dimana ia bertemu dengan Shironeko di gua itu dan tidak ada orang kecuali tubuh yang sudah tak bernyawa disana.


"Tidak ada orang ? sebaiknya aku bergegas sebelum Shiro bertemu penculik - penculik loli itu !!"


Ketika Akuto sedang berlari ia mendengar sebuah suara gema.


"Hyaaaa !!"


Akuto berhenti dan mencoba memfokuskan pendengarannya.


"Hya ? hya ? Owh !! Shironeko !!!"


Akuto kembali berlari dan hampir tersandung di jalan




Disisi lain ada seorang pria besar dengan sebuah pedang besar di punggung nya dan ada beberapa orang lainnya yang ada disana bersamanya.



Mereka sedang berada tepat di jalan masuk gua yang kedua Shironeko dan lainnya telah tertangkap oleh mereka dan sekarang mereka diikat dan dibungkam dengan diikatkan sebuah tali di mulutnya.



Sedangkan di bawah di dalam gua ada gadis kecil yang malang yang menjadi umpan.



"Tolong ! hyaaa !!"



"Bagus lebih keras ! dasar !"



Pria dengan sebuah cambuk terus mencambuk anak itu dan memaksanya terus berteriak.



"Sebentar lagi dia akan datang oi teriak katakan kakak Tulung aku ! hahahaha !"



"Kak.. tolong !"



"He ? dia benar benar mengatakannya ? ha-ha-ha kau gadis kecil penurut rupanya bagus harga mu akan ku tinggikan nanti !"



Dan mereka berada di bibir gua dijalan yang tidak masukki Akuto yaitu jalan masuk gua yang kedua menunggu Akuto datang.