Become a Hero In Another World

Become a Hero In Another World
Diusir Dari Desa



"( Huh ?! Dimana ini ?! )"


Akuto mencoba bergerak tetapi gerakannya tertahan.


"( Apa aku terikat ?? dan juga mengapa mereka menutup mataku !! )"


"Umm !!! Umm !!!"


Akuto mencoba menggeliat dan berteriak sekeras mungkin, berharap ada yang menolongnya.


Di dekat Akuto terdengar suara langkah kaki dan setelah itu ada pintu yang terbuka.


"( Apa aku berhasil ?! )"


"Diam kau dasar sialan !!"


Pakk !!


"Ughk !"


"Lebih baik kau diam saja ! dan menunggu ajalmu !"


"( Apa maksudnya ? apa mereka benar benar mengira aku penjahat ?? )"


Orang itu pergi dan pintu yang sebelumnya terbuka ditutup dengan keras.


"( Sial ! Jika begini tidak ada pilihan lain ! )"


Akuto berencana mengalirkan sihir ketangannya untuk melepas ikatan lalu kabur akan tetapi seseorang datang.


"Oi bocah ?"


"( Sial ! menggangu saja ! )"


"Sebelumnya maafkan aku .. Yah mau. bagaimana lagi jika kubiarkan mereka akan membunuhmu"


"( Membunuhku ?! yang benar saja !! )"


"Saat ini kami akan mendiskusikan apa yang kami lakukan nantinya, kuharap kau akan menerima setiap keputusannga"


"UMM !!!"


"Huh ? ahahaha ! tenang saja kami tak akan mengeksekusimu"


"( Dasar akan kuhajar kalian semua !! )"


"Kalau begitu aku pergi"


Orang yang berbicara dengan Akuto berjalan pergi meninggalkannya sendiri dan akuto berpikir apa ia akan melanjutkan apa yang dia lakukan.


Akuto memikirkan sebuah rencana pertama dia akan kabur dari sini dengan memotong ikatan tali dengan sihirnya , Kedua dia akan membiarkan dirinya dibawa keluar dan mendengar keputusan mereka.


Resikonya jika Akuto pergi dengan cara pertama ia akan meningkatkan kecurigaan kalau ia adalah penyihir jahat yang dirumorkan.


"( Aku tidak tahu siapa penyihir itu tapi jika mereka mengangap dia adalah aku , bisa bisa aku jadi buronan !! )"


Akuto membayangkan jika ia akan menjadi seorang buronan dan diincar seluruh negara.


"( Tentu saja aku tak menginginkan itu )"


Perlahan Akuto mengantuk kali ini akuto tak perlu memejamkan matanya karena sudah tertutup.


Dan Akuto tertidur entah berapa lama akan tetapi datang lagi seseorang yang dengan kasar membangunkannya.


"Oi ! Bangun !!"


Prak !!


"Ughk ! ... UMM !!"


Melihat Akuto telah bangun orang itu menyeretnya keluar.


"Dasar kau berat sekali ! sepertinya kau hidup mewah ya penyihir sialan !"


"( Hidup mewah ? ) kufufufu !"


"Bisa bisanya kau tertawa !!"


Prakk !!, Orang itu menendang Akuto lagi.


"Ughk !"


"Lebih baik kau diam saja !"


Akuto diseret entah kemana dengan keadaan terikat tak bergerak dan mata tertutup.


"( Angin ? Aku sudah diluar ? )"


Akuto merasakan angin sepoi sepoi disekitarnya dan tak lama kemudian di merasakan keberadaan orang.


"Jadi rupanya pengelana itu seorang penyihir yang membuat beruang itu menyerang kita ?"


"Yah.. ! kudengar para pria mengatakan itu"


Banyak orang yang berbisik bisik atau lebih tepatnya membicarakan Akuto.


"Jika itu benar.. ini benar benar berbahaya !"


"Sebaiknya kita melaporkannya ke kerajaan saja ?!"


"Yah aku khawatir jika kita tak bisa menghentikannya"


Banyak argumen argumen dan banyak pula orang yang cemas dengan keberadaan Akuto.


"Kita sudah sampai !"


Prakk !!


Kali ini orang itu melemparnya dan menendangnya agar terpental.


"( Sial ! )"


"Kalian sudah sampai ?"


"Hey nak perlakukan dia lebih baik"


"Ayah tapi dia yang menyerang kami !"


"Iya sayang dia benar benar berbahaya tak sepantasnya orang sepertinya kita perlakukan dengan baik"


"Dia harusnya mati saja !"


"( Oi ! oi ! kau punya dendam apa ?! )"


"Sudahlah , sekarang cepat buka ikatan yang ada dimata dan mulutnya !"


"Baiklah !"


"Su - sudah !"


"Rasakan ini !"


Akuto menyundul perut orang itu dengan keras dan membuatnya memuntahkan darah.


"Bagaimana ?! antara tendanganmu dengan sundulanku mana yang lebih kuat ?!"


"Dasar sialan !!"


Albert datang berniat menyerang Akuto akan tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Akuto berdiri dengan mudah dan semua ikatan terlepas.


Warna mata Akuto berubah menjadi jingga dan ia menatap tajam kearah albert.


"Sebaiknya kau berpikir sebelum menyerangku"


Akuto menatap lengan yang diperban sepertinya tulangnya patah.


"Da - dasar !"


"Albert !"


"Cih !"


Akuto melihat albert mundur dan lalu ia menatap Pak tua yang sepertinya kepala desa disana.


"Jadi kita akan berdiskusi ?"


"Sebenarnya kamilah yang akan berdiskusi disini tapi.." Pak tua itu menggaruk garuk dahinya.


"Yah karena kau bocah sudah mengamuk seperti itu"


"Oi siapa yang tak marah saat dirinya dituduh dan diperlakukan seperti itu ?!"


"Ahahaha !"


Zen hanya tertawa ketika Akuto menggurutu dengan kesal.


"Sebelum itu.. kami ada pertanyaan untukmu anak muda"


"Aku ? apa itu ?"


"Apa kau seorang penyihir ?"


Mendadak suasana menjadi sunyi dan perhatian mengarah kepada Akuto dan pak tua itu.


"Yang benar saja ! Kau langsung bertanya kepadanya ?? tidak mungkin dia akan mengaku !"


"Meila sudahlah ! lagi pula kita tak punya bukti apa apa"


"Yah ! kau benar ! kalian tidak punya bukti apa apa untuk menuduhku penyihor jahat yang membuat desamu diserang !!"


"Kami minta maaf.. tapi bisakah kau jamin jika kau bukan seorang penyihir nak ?"


"Kalau dibilang penyihir.. Ya aku adalah seorang penyihir !"


Lagi lagi orang orang yang ada disana kaget dan menatap Akuto dengan penuh amarah.


"Aku bisa menggunakan sihir contohnya Fire ! akan tetapi aku tak mengetahui sihir apa yang bisa mengendalikan makhluk lain"


"Cih ! kau pasti berbohong ! kau lah yang membuat beruang itu menyerang kami dan membunuh viona !!"


"Jika aku yang melakukannya untuk apa aku membunuh beruang itu ?"


"Kau menginginkan sebuah pujian dan rasa terimah kasih dari kami maka dari itu kau melakukannya"


"Jika aku menginginkan sebuah pujian maka... aku akan membuat beruang itu menghancurkan desa dan membuat beritanya tersebar !"


Albert tersedak ketika mendengar kata kata Akuto dan beberapa orang lainnya merasa takut ada juga yang waspada.


"Dan lalu membunuh beruang saat ia menuju desa lain mungkin saja aku akan dipuji dan banyak gadis yang ingin menikahiku !"


"Dasar li -"


"Tapi ! aku tak akan melakukannya karena aku bukanlah penyihir jahat yang ada diimajinasi kalian !!"


Semua orang terdiam dan mencerna kata kata Akuto.


"Yah sepertinya kamilah yang salah disini.. tolong maafkan kebodohan kami.."


Pak tua itu menurunkan kepalanya dan orang yang disekitarnya terbelangak.


"Pak ! kau tak perlu melakukan itu ! dia adalah penyihir lihatlah saat ia bicata !"


"Diamlah !! Pakai otakmu untuk berpikir !! beruang itu lah yang menyerang desa ini ! dan tak ada penyihir yang mengendalikannya"


"Tapi .."


"Sebaiknya jangan kau salahkan orang lain"


Suasana menjadi sunyi lagi lalu pak tua itu mendekati Akuto dan memegang bahunya.


"Nak tolong maafkan mereka , mereka hanya sedang dalam keadaan buruk jadi tolong maafkan"


"Uh ? hmm.. baiklah aku tahu itu tapi pak tua kau tak perlu meminta maaf"


"Baiklah.. dengan begini diskusi selesai anak ini tidak bersalah dan sebaiknya kalian mengakui kesalahan kalian"


Semua orang langsung membubarkan diri Akuto hanya berdiri dengan diam karena kesal.


Ketika semua orang telah pergi pak tua, dan paman Zen mengajak Akuto untuk berbicara.


"Bocah kurasa kau harus pergi dari desa ini"


"Yah nak.. jika kau tetap disini kau akan diperlakukan buruk oleh penduduk desa dan aku akan merasa bersalah..."


"Baiklah aku akan pergi sekarang"


"Tu - tunggu ! setidaknya menginap dulu satu malam !"


"Jika aku menginap lagi bukankah mereka akan merasa kesal ?"


"Yah itu benar .. tapi kau butuh melakukan persiapan bukan ?"


"Ukhg !"


"Ahahaha ! Lagi pula bocah , Kau sepertinya tak mengerti apa apa ! ahahaha !!"


"Sudahlah zen.. lihat mukanya memerah karena malu"


"Ahahah ! maaf maaf !"


"Ya - yah.. kurasa benar aku perlu belajar membaca dan sebuah peta"


Kedua orang itu terkaget saat medengarnya.