
Akuto sedang berjalan dengan Shironeko sambil berpegangan tangan mereka menuju ke gerbang timur kota untuk mengabulkan permintaan Shironeko sebelumnya.
"Sepertinya kita masih jauh ya Shironeko"
"Humph ! Sebentar lagi sepertinya kita akan sampai"
Shironeko sangat bersemangat sekarang sepertinya aku harus meniru semangatnya itu, Akhirnya kami pun sampai di tengah kota.
Akuto dan Shironeko sekarang berada di tengah kota dan berada di dekat air pancur dimana ada perempatan jalan besar dan jalan untuk pejalan kaki yang cukup lebar.
"Sepertinya kota ini cukup besar dan ekonomi disini lumayan baik"
"Hummph ! tempat ini besar Shironeko sudah melihatnya sendiri !"
"Hoho ! Shironeko apa kau pernah lewat sini ?"
"Ya Shiro pernah lewat sini !"
Shironeko menjawab dengan penuh percaya diri dan kepercayaan dirinya cukup manis dirinya menyatukan kedua tangannya dan melompat kecil untuk menunjukkan kalau dia serius.
"Jadi apa kau tahu jalan pintas menuju gerbang timur ?"
"Umm..."
"Ada apa Shironeko ? wajah mu memerah apa kau demam ?!"
"Ti - tidak sebenarnya itu.. anu.."
"A - ada apa ??"
Huh ?! apa Shironeko jatuh cinta kepadaku ? semoga saja itu benar ! tidak tidak tidak ! aku tidak bisa menikahi seorang anak kecil ! itu terlalu kejam.
"Coba jelaskan perlahan tidak apa apa aku akan mendengarkannya Shironeko"
eh ? kenapa dia diam saja apa aku membuatnya tidak nyaman ?! ayolah aku sudah berusaha menggunakan kata kata sebaik mungkin tunggu, Apa aku terlihat seperti seorang pedofil yang menggoda anak kecil dengan kata katanya ?!.
"Se - sebenarnya Shironeko lari ke kota dan Shironeko berkeliling ke kota ta - tapi Shironeko tidak tahu jalan yang dilewati Shironeko akan tetapi Shironeko ingat jalannya !"
"Umu ! aku mengerti jadi sebelumnya kau tersesat Shironeko ?"
"Eh.. hu.. Huwaaa !!!"
"( Kenapa ? kenapa ? ada apa ? kenapa dia menangis ?! )"
Shironeko menangis dengan keras memekakkan telinga Akuto dan menarik perhatian orang orang yang sibuk hingga melihat mengarah kepada mereka berdua.
"Apa yang dia lakukan ?"
"Sepertinya dia penculik"
"Apa ? ada penculik di kota ini ? "
"Yah itu wajar saja karena kerja ksatria disini tidaklah becus hingga tidak tahu yang mana penjahat dan yang tidak"
Mendengar kata kata dari lidah tajam orang orang Akuto berusaha mencari cara agar bisa menenangkan Shironeko awalnya ia berpikir untuk menenangkan Shiro dengan sebuah sapu tangan dan bersikap layaknya seorang ksatria.
Akan tetapi dirinya belum cukup dianggap sebagai seorang ksatria justru ia akan terlihat sebagai pengembara aneh dengan pakain aneh dan menggunakan jubah menyeramkan dari kulit serigala.
"( Ah !! apa yang dilakukan orang tua ku dahulu ?? oh aku tahu !! )"
"O - oi apa yang dia lakukan ?!"
Ha-ha-ha ! apa aku sudah benar ?? sudah kuduga cara ini adalah cara yang paling ampuh menghentikan tangisan anak kecil ! terimahkasih Ayah !! Ibu !!.
Akuto mempelajari pengalaman nya dalam menangis dan ia sudah mendapatkan kesimpulan apa bila ada seorang anak kecil yang menangis maka tutuplah mulutnya dan peluklah dia agar mengendapkan suaranya.
"Perkiraan ku tepat ! Shironeko berhenti menangis"
Dan tiba tiba dari kerumunan datanglah seorang pria bertubuh besar yang terlihat menyeramkan.
"Oi lepaskan bocah itu !"
"Huh ?"
Akuto menerima pukulan keras di pipi kirinya dan ia terlempar jatuh sedangkan Akuto melepas Shironeko agar tidak terbawa arusnya.
"Beraninya kau mencoba menculik anak ini di kota ini !"
Dari kerumunan ada beberapa wanita yang berbicara dengan pelan mereka memuji keberanian dan ketulusan dari pria itu karena berani bertindak dan juga walau Shironeko adalah gadis setengah hewan ia tidak memperdulikannya.
"Aduh.. ah..."
Pria itu serius meninju wajahku, sial ! itu benar-benar sakit tahu !.
Akuto mencoba bangkit kembali akan tetapi belum sempat membalas pria tadi menghilang ke dalam kerumunan dengan membawa Shironeko.
"Oi ! oi ! seriusan membawa anak kecil tanpa pamit terlebih dahulu !!"
"Malulah kau sampah ! justru kaulah yang ingin membawanya sialan !!"
Seorang pria baru datang berlari dengan penuh emosi ke arah Akuto akan tetapi Akuto berhasil menghindarinya tapi tidak untuk kedua kalinya.
Melihat tindakan dari pria pertama dan kedua warga disana mulai terprovokasi warga lainnya berinisiatif menangkap Akuto.
"Kalian panggil ksatria untuk membawanya ke penjara dan kalian ayo kita hajar dia terlebih dahulu !"
"Baik !"
Melihat ada sekitar lebih dari 10 orang yang mencoba menangkapnya atau lebih tepatnya ingin menghajar habis Akuto, Akuto menelan ludah.
"Aku harus pergi !!"
"Hey !! apa ?!!"
Orang - orang itu terkejut melihat Akuto ia melompat tinggi dan langsung berada di atas atap bangunan sepertinya Akuto sudah bisa mengaktifkan kekuatan nya semaunya.
"Saat yang tepat sekarang saat mencari Shironeko !"
Akuto pun meloncat turun akan tetapi ia tidak memilih tempat yang sama ia pergi ke sebuah gang lalu setelah keadaan nya sudah membaik ia memulai pencariannya.
"Kemana mereka pergi ? apa mereka ke kantor polisi ? Di masa kerajaan seperti ini sepertinya mereka mengandalkan ksatria kalau begitu"
Akuto berpikir mungkin ia bisa menemukan pria itu yang membawa Shironeko di kantor polisi atau markas ksatria karena kemungkinan pria itu menyerahkan Shironeko ke pihak berwajib.
"Baiklah dari pada aku mencari tanpa arah sebaiknya aku harus langsung ke sumber yang lebih memungkinkan !"
Akuto pun kembali ke atas atap bangunan lalu mencari bangunan tertinggi, Di sana Akuto mencari tempat yang mungkin saja sebuah markas lapor 24 jam.
"Seharusnya ada tempat yang tempat dimana ada ksatria.. Di sana !"
Akuto melihat seorang ksatria lelaki yang sedang berjalan dan matanya terus mengikuti jalannya karena aku mengira ia akan ke kantor mereka.
Dan dugaan Akuto benar ksatria itu masuk ke sebuah bangunan.
"Ditemukan saatnya pergi ke sana"
Akuto bergegas turun dari atap dan berlari menuju bangunan yang dimasuki ksatria itu.
"Bersabarlah Shironeko aku akan menyelesaikan ke salah pahaman ini !"
Akuto pun sampai didepan kantor itu tanpa masalah hanya saja nafasnya sedikit habis karena berlari.
"Fiuh saatnya masuk !"
Akuto pun masuk kedalam kantor tersebut dan mengucapkan permisi.
"Iya ciri - cirinya adalah berambut hitam menggunakan jubah terbuat dari kulit serigala dan menggunakan kaus putih dengan celana abu abu"
"Jubah serigala, rambut hitam , pakaian putih dan celana abu abu ?"
"Iya itu benar"
"Kalau begitu apa itu orangnya ??"
"Huh ??"
"Umm maaf aku kesini u-"
Belum sempat menyelesaikan kata katanya dari belakang seorang kesatria memukul Akuto dengan keras di bagian telungkup kepalanya dengan sarung pedang.
"Apa dia sudah gila ?!"
"Yah dia menyerahkan dirinya sendiri "
"Cepat periksa barangnya kalian ! lihat apa ada yang bahan peledak !!"
"Baik !"
"( Huh ..?? apa ..?? )"
Akuto samar samar mendengar suara mereka dan ia kehilangan kesadarannya dan pingsan.
Sekarang sudah beberapa jam sejak Akuto pingsan, Para ksatria itu menempatkan Akuto di sel tahanan sementara yang ada di kantor tersebut sebelum di bawa ke penjara.
Perlahan Akuto mulai tersadar dari pingsannya dan ia mulai mengingat ia dimana.
"Akhir - akhir ini banyak anak anak setengah hewan yang hilang"
"Ha.. malang sekali nasib mereka.."
"Yah semoga saja orang itu cepat tersadar dan kita bisa menanyakan persembunyian mereka"
"Yups"
"( Persembunyian ? apa yang mereka katakan ? penculikan.. jangan - jangan Shironeko )"
"Oi lihat dia sudah bangun"
"Baiklah ayo kita tanyakan dirinya"
Kedua ksatria itu membawa Akuto ke lantai dua dan mereka masuk bersama Akuto di sebuah ruangan.
Dengan kasar ksatria itu mendudukkan Akuto ke kursi lalu merantai kaki dan tangannya agar tidak bisa bergerak.
"Baik kita mulai dari mana .. "
"Kalau begitu aku ingin bertanya lencana apa ini ? dan lambang macam apa ini ?"
"Itu.."
Akuto ingat lencana itu adalah lencana yang diberikan kepada Akuto oleh pak tua di desa tapi Akuto hanya menganggapnya jimat.
"itu bisa dibilang hiasan"
Satu pukulan mendarat di wajah Akuto.
"Masih mencoba mengelak ya ? dari mana kau mendapatkan ini ? cepat jawab !"
"Huh ? desa ? tidak ada desa disana dalam peta kerajaan jangan kau berbohong sialan !!"
Kedua ksatria itu memukuli Akuto habisan habisan membuat Akuto yang duduk di kursi dan terikat jatuh tersungkur ke belakang.
Dan mereka terus memukuli Akuto seraya terus bertanya tanpa memberikan kesempatan kepada Akuto untuk bertanya.
"Ha.. kurasa ini sudah cukup lebih dari ini kita bisa membunuhnya"
"Dasar sialan !"
Salah satu ksatria memberikan tendangan terakhir lalu mereka membawa kembali Akuto ke sel tahanan di lantai satu.
"Baiklah kurasa kita tinggal melapor kalau tersangka tidak menjawab pertanyaan kita dan tetap bungkam"
"Ahaha melihat keadaannya kapten pasti yakin tenang saja"
"Aku sudah tenang"
"Hahaha !!"
" Sepertinya kau yang harus tenang disini"
"Ah lupakan saja ayo kita mampir ke bar dan kita minum bersama disana !"
Belum sempat membuka pintu keluar seseorang dari luar membukanya dengan cepat dan berteriak tepat di depan mereka.
"Kapten !! Markas para penculik itu sudah ditemukan !!"
"Oi jangan teriak teriak !"
"Itu benar !"
"Ma - maaf senior !"
Di pintu keluar tersebut nampak seorang pemuda dia adalah seorang ksatria dari seragamnya yang sama dengan dikenakan oleh kedua ksatria sebelumnya akan tetapi ia terlihat lebih muda dan seumuran dengan Akuto.
"Dimana kapten dan juga kita harus bergegas !"
"Huh ? dia tidak ada disini"
"Yups tidak ada siapa siapa disini"
Pemuda itu melihat sekitar dan yang mereka katakan sepertinya benar karena keadaan sepi dan tak tampak ada orang lain selain mereka disini.
"Kalau begitu dimana kapten ?"
"Umm dia ada di mansion sedang mengurus berkas disana hari ini dia belum kantor kau tahu ?!"
"Ya itu benar kau kemana saja hingga tidak tahu hal itu ? apa kau tidak ke kantor ?"
"Uh.. itu.. bukankah aku sudah pergi ke kantor sebelum nya"
"Iya itu sebelumnya saat kau asal memukul orang dengan sarung pedang mu !"
"Ya ya !"
"Eh ?! maaf !!"
Kedua ksatria itu tertawa terbahak bahak karena sikap pemuda itu akan tetapi setelah mereka berhenti tertawa wajah mereka terlihat tanpa ekspresi.
"Hmm.. ayo kita pergi"
"ayo !"
"Ka - kalian mau kemana ? senior ?!"
kedua ksatria itu pergi mengabaikan panggilan pemuda itu.
"Ah mereka berdua"
Pemuda itu segera berlari menuju meja yang ada di samping sel tahanan dan menaruh beberapa kertas disana.
"Untung saja aku membawa salinannya ! baiklah semoga saja Kapten melihat ini bila ia ada disini"
pemuda itu menyusun rapi kertas di atas meja dan menancapkan jarum di atasnya.
"Baik rencana B siap sekarang saat ke rencana A yaitu pergi ke mansion !!"
Ia segera pergi dari kantor dan meninggalkan kantor tanpa ada penjagaan sama sekali karena ia tak tahu kalau Akuto sedang ditahan di sana.
Sudah beberapa menit sejak pemuda ksatria itu telah pergi dan kini Akuto berteriak.
"Uaaah !! sakit ! Aduh !"
Agar kedua ksatria itu berhenti memukulinya Akuto menggunakan jurus andalannya dahulu ketika ia sering di bully oleh teman sekelasnya yaitu pura - pura pingsan.
"Hahaha ! terbukti ! itu berkerja ! Aduh !"
Akan tetapi tetap sama dampak yang ia terima salah beberapa kebab di wajahnya dan sakit di area perutnya.
"Baik saatnya berimajinasi ! dan .. Heal !"
Cahaya hijau bersinar dan tubuh Akuto yang sebelumnya terluka sembuh hingga rasa sakitnya hilang.
"Bagus sekarang saatnya pergi dari sini !"
Akuto pun menghancurkan rantai yang mengikatnya dengan Water Splash lalu ia menghancurkan jeruji besi dengan sihir yang sama.
"Baiklah dari yang kutahu sebuah persembunyian telah ditemukan dan itu.."
Akuto melihat Berkas yang ditaruh oleh pemuda tadi yang ada diatas meja tersusun dengan rapi.
"Hmm tidak ada ruginya mari kita lihat.."
Akuto pun melihat lihat isi berkas tersebut dan banyak sekali tulisan tulisan yang Akuto tak bisa baca dan banyak yang diberi tanda lingkar mereka.
Hingga di lembaran terakhir Akuto menemukan hal aneh, Halaman tersebut teras lebih tebal.
"Ini sepertinya di lipat ya ? kalau begitu"
Melepaskan jarum yang menancap yang ditujukan agar kertas tersebut tetap tersusun rapi Akuto membuka kertas yang terlipat tersebut.
"Ini peta ? hmm ada tanda lagi di arah barat .. tunggu apa peta ini terbalik ?"
Akuto melihat peta tersebut dan disana ada jarum ada yang berwarna merah dan putih.
"Ini mengarah ke arah jam sebelas ? eh ? apa yang kukatakan ? arah jam sebelas ? itu dimana ?"
Mencoba mengingat tapi Akuto tidak berhasil mengingatnya pada akhirnya ia mencoba membuka laci laci meja untuk mencari sebuah kompas.
"Seharusnya ada kompas bila di tempat seperti ini.."
Melihat lihat kembali Akuto menemukannya kompas tersebut ditaruh di depan meja yang ada disampingnya meja lainnya.
"Kurasa pemilik meja yang disana lebih rajin dari pada meja yang disini, Lihat saja meja ini berantakan karena ulahku hehehe"
Akhirnya Akuto menemukan arah yang benar dan ia terbalik menggunakan peta tersebut.
"Baiklah lingkaran itu ada di timur.."
Akuto melihat sesuatu yang aneh kalau tidak salah lingkaran tersebut sama persis yang dikatakan oleh Cristia ketika di penginapan itu adalah hutan Ollieanoer.
"Jika benar maka ada kemungkinan Shironeko ada disana kalau begitu !!"
Akuto pun bersiap terlebih dahulu ia mencari tempat barang sitaan disimpan dan ia menemukan lemari besi segera Akuto menghancurkan jeruji nya lalu mengambil semua perlengkapan nya.
Akuto pun bergegas keluar dari sana dan pergi keluar saat berada di luar Akuto melihat Alicia ksatria wanita, Orang pertama yang ia temui di Kota ini tunggu seharunya ia bertemu dengan bandit terlebih dahulu.
"Tuan Akuto ? apa yang kau lakukan disini ?"
"Ah itu .."
"Itu kertas ? apa itu kertas dari seorang ksatria ?"
"Ah iya ! dia pemuda seperti ku !"
"Owh ! kerja bagus! baiklah serahkan kepadaku !"
Alicia ingin segera mengambil kertas kertas tersebut tapi Akuto ragu untuk memberikannya karena ia membutuhkan petanya.
"( Baiklah sepertinya tidak ada cara lain! )"
Akuto menendang sebuah batu lalu berpura pura terjatuh dan ia menghamburkan ke atas kertas kertas lembar lainnya kecuali petanya ia dengan cepat menaruh petanya ke dadanya dan menyelipkan ke dalam jubahnya.
"Tuan Akuto ! kau baik baik saja ?"
"Ah tidak apa apa ! aku baik baik saja !"
"Apa kau serius ?"
"Iya aku tidak apa apa selain itu kertasnya"
"Oh iya kertasnya"
"Maafkan aku anu.. nona Alicia !"
"Um ? Ah tidak apa apa tuan Akuto !"
Akuto pun membantu memunguti kertas yang berhamburan dan lalu ia mendengar Alicia berkata "Penculiknya ditemukan !".
Seraya memegang perutnya Akuto perlahan berdiri dan memberikan kertas yang ada di tangan kanannya dan tangan kirinya memegang dadanya bagian kanannya.
"Sebelumnya saya ucapkan terimahkasih tuan Akuto"
"Ah sama sama tidak perlu dipikirkan !"
"Umm apa dada mu sakit tuan Akuto ?"
"Uh ? tidak sama sekali"
"Kalau begitu kenapa kau menyentuhnya dengan keras ?"
"Ah !! itu.. oh iya ! apa kau lupa ada tugas penting yang harus kau lakukan !!"
"Itu benar maafkan aku tuan Akuto ! aku harus pergi !"
"Tak perlu meminta maaf pergilah wahai ksatria cantik !!"
"Ummh.."
Alicia pergi berlari dengan memeluk kertas di dadanya dan ia tampak tersenyum ceria.
"Yosh urusanku disini selesai dan urusan selanjutnya adalah disini !"
Membuka peta Akuto melihat lingkaran merah yang menandai sebuah area.