
Akuto berbalik lalu melihat gadis kucing itu menahannya ia menangis akan tetapi Akuto kebingungan kenapa gadis kecil itu menangis.
Memikirkan beberapa kemungkinan Akuto berpikir jika dia sendirian dan tidak memiliki rumah dan dia memutuskan untuk membawanya bersamanya.
Akuto mencoba menenangkannya dengan mengusap air matanya lalu menggendongnya untuk diajak pergi dengannya.
"Hey apa kau serius ingin pergi bersamaku ?"
Akuto melihat Gadis kecil itu di pelukannya sepertinya dia sudah tertidur karena terlalu lelah.
yah itu wajar saja seorang gadis kecil berada di sebuah kota sendirian dan dia di ganggu oleh para bandit.
"Umm kira kira aku kemana dulu ?"
Akuto memikirkan tujuannya tapi sebelum itu ia memikirkan gadis kecil yang tidur ini.
"Kurasa aku akan mencari sebuah penginapan terlebih dahulu !"
Kali ini Akuto mengabaikan saran pedagang sialan itu untuk mencari penginapan didalam gang gang kecil.
Memilih tempat yang tepat untuk bertanya Akuto datang memasuki sebuah toko roti untuk bertanya.
Jika tidak di perhatikan dengan baik orang orang tak akan sadar bila ada toko roti disitu karena lokasinya ada ditengah tengah bangunan yang lebih besar darinya.
Dan juga itu tak terlihat seperti sebuah toko roti karena tak banyak roti yang dipajang di sana.
"Selamat datang !"
"Terimakasih aku datang ingin menanyakan sesuatu apa boleh ?"
"Tentu saja tuan jadi apa yang bisa kubantu ??"
Pelayan itu menjawab dengan ramah tapi matanya tertuju kepada gadis kucing yang Akuto gendong.
"Jadi apa kau mengetahui penginapan murah disekitar sini ?"
"Penginaoan ? kebetulan sekali tuan ! kami menyewa satu tempat disini dan biaya sewanya cukup murah akan tetapi.."
"Baiklah !! aku terima !!'
Ini adalah jackpot ! aku berhasil mendapatkan sebuah tempat menginap yang menyediakan makanan dan juga minuman ! dengan begini aku tak perlu jauh jauh membeli makan malam.
"Jadi dimana kamarnya ? oh ya harga untuk semalam ?"
"Itu per malamnya cukup bayar 5 koin tembaga tuan tapi tempatnya agak sedikit"
"Tentu saja tidak apa apa aku tak mengharapkan sesuatu yang lebih dari harganya"
"Terimakasih tuan"
"Baiklah ... bisa tolong gendong sebentar ?"
"Ba - baik !!"
Pelayan itu menerimanya dengan cepat ia terlihat sangat penasaran dengan gadis kucing ini.
Setelah memberikan gadis kucing itu ke tangan pelayan Akuto mengambil kantung besar yang penuh dengan uang curian.
"Apa ?!"
"Hmm ? kenapa kau terkejut ?"
"Tidak apa apa !"
"Baiklah"
Kantung yang Akuto bawa sudah cukup besar dan itu terlihat sangat berat karena terlalu banyak uang didalam sana.
Wajar saja Akuto menjarah sebuah kelompok bandit yang sudah berkali kali mencuri uang orang dan sepertinya mereka kurang beruntung karena ditemukan oleh Akuto.
"Baiklah ini 5 tembaganya , oh iya apa boleh aku pesan makanan untukku dan gadis itu ?"
"Baik aku akan membawakan roti dan susu itu cukup 5 tembaga !"
"5 tembaga ? hmm baiklah !"
kurasa semuanya disini adalah lima tembaga ? apa aku salah ? jika benar mungkin akan kuberi toko ini dengan uang lima tembaga.
Sambil menggendong gadis kucing pelayan itu memandu Akuto ke kamar yang akan ditempati Akuto dengan gadis kecil itu.
"Baiklah tuan , silakan"
"Terimakasih , heh ?"
"Hehehe"
kamar itu tampak seperti kamar perempuan dan bisa ditebak jika kamar itu adalah milik pelayan itu sendiri.
"Apa cuman ini kamarnya ?"
"Maaf !! tapi hanya ini kamarnya !"
"Huh ? kalau begitu kembalikan uangku !"
"Maaf aku tidak bisa !"
"Apa ?!!"
Akuto kebingungan dan ia terkejut karena kamar yang akan dia sewa adalah kamar pelayan itu dan pelayan itu menolak untuk mengembalikan uangnya.
"Jika aku ada didekat tuan maka aku bisa melayani tuan kapan saja !!"
"Jika aku berada satu kamar dengan. pemilik penginapan apa penginapan itu benar sebuah penginapan ?"
Kepalanya tertunduk malu lalu dia dengan mata berkaca-kaca memohon kepada Akuto untuk menginap di tempatnya.
"Tolong ! toko roti ku akan bangkrut dan akan belum membayar pajak sama sekali !"
"Heh ? aku tidak peduli"
"A - aku akan melakukan apapun jadi tolong menginap lah di sini !"
"Apapun ??...."
Akuto memikirkan kata kata gadis itu lalu ia setuju untuk menginap di sana karena dia menemukan sebuah keuntungan lebih.
"Baiklah ! kalau begitu layani aku sebaik mungkin selama aku ada disini ! muehehe"
"Ba - baik..."
Akuto membayangkan sebuah kehidupan Dimana dia menjadi seorang bangsawan.
Pelayan itu akhirnya meninggalkan Akuto untuk menyiapkan makan malam mereka sedangkan Akuto memeriksa isi kamar itu dan membaringkan gadis kecil yang ia bawa ke tempat tidur.
"jadi aku akan tidur dimana ?"
Akuto melihat sekitar ruangan , tempatnya cukup besar ada tempat tidur yang cukup untuk dua orang dan satu anak kecil dan ada meja kecil lalu lemari.
"Baiklah kurasa aku akan menyimpan barangku di lemari"
Akuto membuka pintu lemari dan ia menemukan pakaian pakaian wanita didalamnya.
"Ini... ? pedang ?"
Dari pintu kamar ada aura aneh yang datang tapi Akuto masih sibuk dengan rasa penasarannya dengan pedang di dalam lemari itu.
"Apa yang kau lakukan tuan ?"
"Oh Hai ! aku hanya melihat sebuah pedang disini apa kau seorang petualang ?"
"Pedang ? oh tidak tuan pedang itu adalah milik ayahku"
"Hoho apakah ayahmu seorang petualang ?"
"Tidak tuan dia adalah seorang ksatria akan tetapi ia tewas di pertempuran , prajurit yang selamat memberikan pedangnya sebagai kenangan"
"Uhmm.. maaf"
"Tidak apa apa tuan , kalau begitu silakan hidangannya tuan"
"Baik terimakasih"
Akuto berbalik lalu berjalan ke pelayan itu untuk mengambil makanannya dan tak disangka sebuah benda sakral menempel di celana Akuto.
"Tu - tuan !! dasar mesum !!!"
"Weh ? apa ? sejak kapan itu di sana"
Pelayan itu berjalan cepat mengantarkan makanan kepada Akuto setelahnya pelayan itu mengambil celana dalamnya yang tertempel.
"Aku akan kebawa untuk membersihkan toko"
"Tu - tunggu ! sebelum itu !"
Belum sempat meminta maaf pelayan itu pergi dari tempat tidur seorang gadis kecil terbangun karena keributan.
"Hmm ? kak ? apa itu kau ?'
"Kau sudah bangun ?"
"Umph ! umph !"
Dia mengangguk yang artinya dia sudah bangun Akuto hanya terdiam ketika melihat keimutan yang menggetarkan otaknya.
"Otakku bergetarrr !!"
"Kakak ! kakak kenapa ??"
"Maaf maaf aku hanya meniru seseorang !"
"Benarkah ?"
"Tentu saja"
'Orang yang kakak tiru sangat menyeramkan !"
"Ahaha aku setuju !"
Akuto tertawa karena gadis itu bisa mengetahui orang yang ia tiru adalah orang yang menyeramkan.
Lagi pula itu memang benar karena Akuto sedang meniru karakter antagonis di sebuah serial animasi terkenal.
"Aku membawa sebuah makananan ayo kita makan !"
"Baik !"
Akhirnya mereka menyantap makanan yang sudah ditunggu tunggu akan tetapi gadis itu masih terlihat sedih dan bingung.
"Hmm ada apa ?"
"Itu.. kenapa Kakak membawaku bersamamu ?"
"Sebelumnya kau meminta bantuan kepadaku jadi aku pikir kau tidak memiliki rumah jadi kubawa kau bersamaku"
Gadis kucing itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.
"Jika kau ingin pergi ke suatu tempat akan kuantarkan jika bisa tapi jika kau ingin bersamaku aku akan bersamamu !"
"Wuah ! aku akan bersama kakak !"
Akuto tersenyum karena dia memiliki teman petualangan yang imut dan lucu akan tetapi.
"Oh iya apa namamu gadis kecil ?"
"Nama ?"
"Yups namaku adalah Sai Akuto ! kau bisa memanggilku Akuto ! dan namamu adalah ?"
"Hmm.. teman putih ?"
"Teman ? ahaha hahaha !"
"Eh ?! tidak lucu kak !"
"Ahaha hahaha !"
"Hmm !"
Gadis kecil itu cemberut Akuto yang melihatnya berhenti tertawa lalu tersenyum dan mengelus kepala gadis itu.
"??"
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Shironeko !"
"Shiro neko ?"
"Yups itu adalah namamu !"
"Horreeeyy !! namaku adalah Shiro neko !!"
Shironeko mengangkat kedua tangannya keatas dan berteriak dengan gembira , itu membuatnya terlihat imut karena masih ada sisa susu di bibirnya.