
"Kau ?! jangan bercanda ! tidak mungkin bocah sepertimu bisa mengalahkan beruang itu sendirian !"
Lalu orang yang terlihat lebih tua dari pria itu mendekat padanya.
"Hey nak.. jika memang benar kau yang mengalahkannya mau kah kau ceritakan pada kami kejadiannya ?"
"Baiklah"
Akuto menjelaskan bahwa dirinya sedang berkelana lalu melihat beruang itu dan bertarung dengannya.
"Dan saat aku melihat kesini aku menemukan sebuah kepala manusia"
"Jadi begitu.."
Terdapat raut wajah sedih diwajah pria tua itu dan dia hanya memandang dengan sedih kebawah.
"Viona.."
Pria yang pertama bertemu Akuto datang mendekat lalu mengangkat tubuh Akuto.
"Oi bocah !! jika kau bisa mengalahkanya kenapa kau membiarkan gadis itu mati ?!"
"A - aku"
"Dasar sialan !!"
Pria itu melayangkan tinjunya ke wajah Akuto lalu Akuto terpental kebawah dan memegangi wajahnya.
"Dasar sialan !!"
Pria itu melayangkan beberapa tinjuan kepada Akuto dan Akuto hanya menerimanya.
"Albert .. sudahlah bukankah dia bilang ketika ia datang beruang itu memangsanya"
"Oi ! dia itu anakmu !! anakmu !! kenapa kau dengan mudah !!"
Pria itu berteriak dengan keras diwajah pria tua itu dan lalu.
Praakk !!
"Ya !! dia adalah anakku !! dia adalah viona ku !! jangan kau buat viona ku merasa bersalah karena kau menyalahkan kematiannya kebocah itu !!"
"Cih !"
Pria bernama Albert itu menjentihkan lidahnya lalu pergi sendiri.
"Albert ! jangan pergi sendiri ! itu berbahaya !"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri dasar pak tua bodoh !!"
Albert masuk kehutan lalu pergi menjauh dari sana menyisakan Akuto, Pak tua itu dan beberapa orang lain.
"Hey kalian cepat bawa mayat viona lalu kita kembali kedesa"
"Baik !"
Setelah memerintahkan beberapa orang untuk membawa mayat itu pria tua itu mendekati Akuto.
"Hey nak"
"Iya ?"
"Kau bilang kau berkelana bukan ?"
"Iya benar"
"Bagaimana Jikau kau ikut kami kedesa dan menginap beberapa hari disana ?"
"Whoa baiklah !"
Perasaan Akuto kini tercampur aduk antara senang tujuannya telah tercapai dan terkejut karena pengalaman buruknya.
Dan mereka meninggalkan lokasi itu lalu dengan membawa mayat viona mereka berjalan menyusuri hutan untuk kembali ke desa.
Selama diperjalanan Akuto tidak berani memulai percakapan karena sesuana diantara mereka sangat muram.
"Em.. apa kita sudah dekat pak tua ?"
"Hm .. oh ! oh iya kita sudah dekat ! sebentar lagi kita akan memasuki desa"
"Owh baiklah kalau begitu"
Setelah satu pertanyaan itu suasana kembali seperti sebelumnya mereka berjalan selangkah demi selangkah.
Terlihat ada cahaya obor disana dan Akuto tahu bahwa dia telah sampai ke desa.
"Suamiku ! bagaimana dengan viona ?! apa dia baik - baik saja ? Albert tidak memberitahukan apapun dia langsung saja pergi , tolong beritahu aku"
"Dia.. viona telah.."
Pak tua itu memberi tahu kejadian yang terjadi sebelumnnya dan istri pak tua itu menangis dipelukan suaminya yaitu pak tua itu.
"Kenapa.... viona.. !"
"Maaf.. maaf.. aku.. terlambat seandainya.."
Akuto hanya terdiam saat melihat seorang ibu dan ayah yang sedang menangisi anaknya yang telah meninggal.
Setelah beberapa menit tangis kedua orang itu mereda wanita tua itu mengusap air matanya dan bisa dilihat matanya masih membengkak.
"Maafkan aku .. aku mengotori bajumu"
"Tidak apa apa"
"Sayang .. siapa orang itu ?"
"Dia adalah oengelana yang mengalahkan beruang itu"
Mata wanita itu terkejut lalu wajah yang sebelumnya ramah menjadi penuh dengan amarah.
"Kau !"
Wanita itu mendekati Akuto lalu menampar wajah Akuto dengan keras.
"Kau ! kenapa ! jika kau bisa mengalahlan beruang itu !! kenapa viona harus mati !! oi !! katakanlah !!"
"Aku.."
"Melia sudahlah ..! anak muda itu tidaklah bersalah ! dia hanya kebetulan lewat dan melihat beruang itu..."
"Kenapa kau membelanya ?!"
Wanita itu menatap tajam kearah pak tua lalu pergi sambil mengusap air matanya.
"Melia..."
Salah satu orang pria mendekati pak tua itu.
"Sudahlah pak dia hanya sedang terkejut atas kematian anaknya itu wajar"
"Melia tapi.."
Pria itu membawa pak tua itu pergi kedesa dan meninggalkan Akuto dengan orang yang membawa mayat gadis bernama viona.
"Hey bocah ! ayo cepat ikut kami apa kau ingin diam disitu saja ?"
"Oh ! tunggu aku !"
Akuto berlari mengejar kedua orang itu lalu ia melihat keadaan desa itu , setengaj rumah disana hancur dan ada beberapa orang yang sedang menangis
"I - ini ?"
"Beruang itu datang menyerang sayangnya kami yang bisa bertarung sedang pergi berburu dihutan"
Dimata pria itu terdapat sebuah penyesalan dan amarah ketika melihat keaadaan desanya.
"Sial ! seandainya kami masih disini ketika beruang itu datang pasti kami bisa melawannya !"
Pria itu mengepalkan tangannya lalu ia tersadar Akuto sedang melihatnya dengan ketakutan.
"Eh ?! ah maaf maaf aku terbawa suasana .. kami akan mengubur mayat viona kau sebaiknya temui pak tua tadi"
"Baiklah dimana aku bisa mencarinya ?"
"Dia ada digubuk disebelah sana"
Pria itu menunjuk gubuk dengan atap jerami dengan ukuran yang lumayan besar.
"Jadi itu"
Akuto berpisah dengan kedua orang itu dan berjalan menuju gubuk milik pak tua yang sebelumnya pergi bersama dengan seorang pria.
"Permisi.."
Akuto mengintip masuk dan melihat meila , albert , pak tua, dan pria yang tidak ia ketahui namanya.
"Oh ternyata kau nak"
"Eh iya.."
Akan tetapi isitri dan Albert menatap tajam Akuto.
"Baiklah.. bagaimana kalau kita mengobrol diluar saja"
"Baiklah"
Pak tua itu membawa Akuto pergi dari sana lalu ia memulai pembicaraan.
"Hey nak.. jadi kau seorang pengelana ya"
"Umuu kurasa begitu"
"Yah dari baju aneh yang kau pakai mungkin kau berasal dari negeri yang jauh dari sini"
"Hehe iya"
Akuto menggaruk pipinya dan tertawa kecil lalu pak tua itu bertanya dengan serius.
"Hey nak.. apa kau tahu kata terkhir gadis itu ?"
"Hm.. saat aku bertemu dengan beruang itu dia gadis itu sudah tidak bernyawa lagi"
"Oh iya.. maaf aku membuatmu merasa tidak enak dan juga maafkan istri dan menantuku"
Pak tua itu menundukan kepalanya kepada Akuto dan mengucapkan permintaan maafnya.
"Eh ?! tidak apa apa ! itu tidak apa apa mereka tidaklah salah.. seandanya aku tiba lebih cepat.."
"Hmm sepertinya kita telah sampai"
"Huh ? apa ?"
Akuto kebingungan dengan perkataan pak tua itu
"Disini kau akan tinggal untuk sementara"
"Huh ?? owh baiklah"
Akuto pikir dia hanya berjalan jalan tanpa arah dan ternyata pak tua itu membawanya kesini.
"Maaf kau harus tinggal disini karena yang lainnya telah hancur oleh beruang itu"
"Ah tidak apa apa ! ini sudah sangat cukup bagiku"
"Baiklah kalau begitu nak aku akan pergi dahulu"
"Oke !"
Akuto melihat pak tua itu berjalan menjauh lalu ia masuk kegubuk itu dan melihat isinya.
"Hmm ? sepertinya keadaan lumayan parah.. tapi tidak apa apa !"
Akuto mensyukuri ia bisa tidur disebuah gubuk dengan jerami sebagai kasur dan dinding yang menahan hawa dingin.
"Yosh kau kutaruh disini tas san dan"
Akuto melepaskan jubah serigalanya dan melompat ketumpukan jerami.
"Apa yang harus kulakukan didunia ini ya.."
Akuto menatap atap lalu memejamkan matanya dan terlelap tidur.