Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 9



Kereta kuda sedikit terguncang karena jalanan yang tidak rata. Nathania yang baru pertama kali naik kereta kuda langsung dilanda rasa pusing dan mual.


Wajahnya yang pucat pasi, membuat Carlos merasa khawatir. "Kamu baik-baik saja, Nathania?" tanyanya.


Nathania langsung menggelengkan kepalanya kuat dan membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin yang terasa sedikit saja karena mereka melewati hutan yang rindang, masuk ke dalam kereta kuda dan menghempas wajahnya.


"Huff ... ini terasa lebih baik," gumam Nathania, menghela napas lega dan menatap ke arah luar jendela kereta kuda tersebut.


"Pemandangannya bagus, kan?" cetus Carlos, membuat Nathania menoleh padanya dan mengangguk pelan sambil mengulas senyuman tipis.


"Ya, hutan pinus yang indah. Seandainya ada kamera untuk mengabadikan suasana ini. Pasti akan lebih bagus untuk disimpan dan dijadikan kenang-kenangan," sahut Nathania, membuat Kakak lelakinya terus memandangnya dengan tatapan lurus.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Nathania, tidak paham dengan ekspresi Kakaknya yang terkejut dan setengah bingung, setelah mendengar perkataan Nathania.


"Kenapa sih?!" pekik Nathania, benar-benar tidak paham kenapa Kakak lelakinya sampai harus melihatnya dengan tatapan seserius itu.


"Bagaimana kamu bisa tahu benda itu? Seharusnya kamu tidak mengetahui hal itu karena benda itu belum dipublikasikan secara terbuka. Kamu tahu dari mana Nathania?" tanya Carlos, terlihat sangat mengintimidasi.


Nathania mengerutkan keningnya bingung. "Maksudnya? Kakak ini bicara apa? Aku malah tidak paham, sebenarnya Kakak membicarakan tentang apa?" tanya Nathania, untuk ke sekian kalinya, setelah dia berulang kali di buat bingung oleh Kakak lelakinya.


"Tentang kamera. Sejak kapan kamu tahu kalau benda itu-"


Gdubrak!


Kereta kuda mereka langsung terguncang bahkan sampai hampir oleng ke samping. Untungnya dengan sigap Carlos memegang tangan Adik perempuannya, sampai mereka terhindar dari hal buruk.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Carlos, melihat wajah Nathania yang cukup terkejut sampai bengong.


Nathania menganggukkan kepalanya ambigu. "Ya, aku baik-baik saja, Kak. Tapi apa yang terjadi?" tanyanya, mengingat tidak ada suara dari sang kusir setelah insiden guncangan itu.


"Aku akan-"


Ssstt ....


Nathania membekap mulut Carlos game memintanya biar. Kedua manik matanya sudah mengawasi sekeliling. Dengan tatapan waspada, Nathania membuat Carlos menjadi khawatir.


"Sepertinya ada orang di luar. Aku akan melihatnya keluar. Kamu tunggulah di sini," bisik Carlos, sambil menarik turun tangan Nathania dari mulutnya dan menggenggamnya beberapa saat.


Nathania balas menggenggam tangan Kakaknya dengan semakin kuat. Seakan tidak mengizinkan lelaki itu untuk beranjak dari tempatnya.


"Kak, apa kamu tidak merasa aneh dengan situasi ini?" tanya Nathania, mencengkeram erat kedua bahu Carlos seakan dia benar-benar berusaha menahan lelaki itu untuk tidak keluar dari kereta kuda mereka.


Carlos mengerutkan keningnya dalam, seakan tidak memahami arti perkataan Adik perempuannya.


"Apa maksud kamu, Nathania?" tanya Carlos, semakin merapatkan diri ke arah Nathania ketika dia mulai merasakan kejanggalan yang di maksud Adiknya.


"Mereka seperti bukan prajurit ataupun bandit, kan?!" bisik Nathania, membuat Carlos diam dan memikirkan perkataan Adiknya dengan sungguh-sungguh. "Kalau mereka memang prajurit, bukankah seharusnya mereka memiliki kuda ataupun pedang? Tapi dari tadi aku tidak mendengar apa pun kecuali ******* napas mereka yang begitu kuat. Mereka pasti bukan manusia, Kak!"


"Bukan manusia? Apa mak-"


Nathania menggenggam kuat kedua tahu Kakaknya dan memintanya diam kembali. "Tahan napasmu, Kak," gumamnya, dengan suara memerintah dan ekspresi wajah tegas.


"Kamu benar, Nathania. Sepertinya mereka bukan manusia," bisik Carlos, anggukkan mantap dari Adik perempuannya.


"Kalau begitu, kita harus keluar dan merebut kudanya sebelum mereka membinasakannya juga!" gumam Nathania, di tentang keras oleh Carlos.


"Bagaimana caranya kita keluar kalau mereka memiliki jumlah yang sangat banyak? Kita bisa diterkam mereka, Nathania. Jangan gegabah!" tegur Carlos, dengan ekspresi yang sangat tegas.


"Kalau begitu, Kakak mau di sini sampai mereka pergi? Sampai kapan?" tantang Nathania, memandang Carlos dengan tatapan membunuh.


Carlos pun terdiam dan berusaha memikirkan cara yang lain, tapi juga aman. Lantas setelah beberapa saat dia berpikir, kereta kuda mereka berguncang dengan di sertai suara lengkingan kuda yang mengamuk.


Nathania bangkit di tengah-tengah guncangan hebat kereta kuda mereka.


"Kamu mau ke mana?!" seru Carlos, menggenggam tangan Adik perempuannya dengan kuat.


Nathania menghempas tangan Carlos dari tangannya dan memandangnya tajam. "Jangan menghalangiku. Kalau Kakak mau tetap di sini sampai malam, sebaiknya jangan mengganggu rencanaku!"


Setelah mengatakan itu, Nathania menarik pedang yang panjangnya hanya setengah dari pedang sesungguhnya, dari dalam roknya.


Carlos terkejut saat melihat pedang itu di genggaman kecil tangan Adiknya. Tapi tampaknya, tekad Nathania juga tak kalah mengerikannya dengan senjata itu.


"Kakak mau ikut atau di sini sampai malam?! Tidak ada yang menjamin keselamatan kita!" Nathania memandang tajam pada Carlos. "Aku sengaja tidak membawa pengawal karena ini! Jadi aku memang berniat mengandalkan diriku sendiri untuk keluar dari situasi mengerikan ini."


Carlos berpikir sejenak, dan akhirnya dia bangun dan ikut berdiri di belakang pintu, bersiap menerobos kerumunan makhluk, yang bahkan tak mereka tahu itu.


Brak!


Nathania melemparkan sarung pedangnya ke arah depan, cukup jauh, mungkin ada sekitar 6 meter dari tempat mereka berada, untuk mengalihkan perhatian para makhluk mengerikan itu.


Semua makhluk berwajah menyeramkan dengan anggota tubuh tak lengkap itu langsung pergi ke arah sumber suara, membuat Nathania langsung berlari ke arah depan dan melepaskan dua kuda yang untungnya masih dalam keadaan baik, dari tali pengikat yang terhubung dengan kereta kuda mereka.


"Cepatlah!" ucap Nathania, melihat Carlos yang bergerak lebih lambat karena gemetar ketakutan melihat wujud kusir kuda mereka yang tubuhnya sudah di makan sebagian, oleh pada makhluk mengerikan itu.


"Hiyaaa ...!!!"


Nathania dan Carlos segera pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan kereta kuda mereka.


"Sebaiknya kita kembali ke rumah sekarang, Kak. Keadaan di luar lebih gawat dari dugaan kita," putus Nathania, melihat sekeliling mereka yang kacau balau.


Carlos yang mendengar keputusan itu hanya mengangguk dan menyetujui permintaan Adiknya.


Mereka segera pergi dan terus menghalau serangan yang datang kapan pun dan di mana pun mereka lewat.


Makhluk yang bisa disebut sebagai Undead oleh Nathania versi masa depan, cenderung tidak bisa melihat tapi peka terhadap suara dan bau.


Itulah mengapa mereka masih bisa bergerak mendekati target hidup, karena semua Undead itu mendengar suara tanpa kaki kuda dan bau napas Nathania dan Carlos.


Di sepanjang perjalanan yang mereka lalui, banyak mayat manusia yang bergeletakkan dan bangkai hewan-hewan yang bernasib malang seperti para manusia itu. Sebab anggota tubuh mereka sudah banyak yang hilang, di makan kerumunan Undead tersebut menyisakan banyak bangkai di sekitar hutan tempat mereka buru-buru.