Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 20



Tak ... tuk ... tak ... tuk ....


Perjalanan yang cukup melelahkan. Walau begitu, Nathania tidak memiliki tanda-tanda akan bangun, membuat Daniel merasa semakin resah dibuatnya.


"Adikku masih belum bangun juga?" tanya Carlos, mengintip ke dalam kereta kuda.


Pangeran Daniel membuka tirai di bagiannya, yang sempat sengaja di tutup karena menghalau sinar matahari yang menyilaukan.


Dengan begitu, Carlos bisa melihat ke dalam dan menyaksikan adik perempuannya sedang tertidur di bagian sisi depan, tempat Pangeran Daniel duduk.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya? Walau aku tidak bisa menggunakan sihir sekuat Ayah, tapi aku bisa merasakan energi yang begitu besar melebihi energi Ayahku saat itu! Bukankah adik perempuanku tidak bisa menggunakan sihir? Lalu kenapa dia tiba-tiba mengeluarkan energi sekuat itu??" tanya Carlos, tampak kebingungan.


Daniel mengulas senyuman masam. Bagaimana caranya dia mengatakan kalau adik perempuan yang selama ini Tuan Carlos sayangi, bukanlah adik kandungnya. Melainkan adik David, yang kini kerap dipanggil menjadi Pangeran Daniel.


"Jika saya menceritakan semua tentang kejadian yang kami berdua alami. Apakah Anda akan mempercayainya?" tanya Pangeran Daniel, menatap Tuan Carlos dengan pandangan lurus nan lekat.


Melihat betapa seriusnya Pangeran Daniel menatapnya, Carlos sampai terdiam. Dia tidak pernah melihat Pangeran kedua yang sampai seserius ini, walau biasanya dia juga tidak bercanda.


"Saya akan usahakan kalau itu semua kenyataan. Akan saya usahakan juga saya percaya pada Anda," ucap Tuan Carlos, sedikit ragu tapi memiliki tekad yang teguh.


Pangeran Daniel tersenyum simpul, membuat lawan bicaranya kembali terdiam dan terus memperhatikan ekspresi wajahnya yang terus berubah.


Walaupun sejatinya keluarga kerajaan tidak terlalu suka menunjukkan emosi atau ekspresinya, tapi jauh berbeda dengan Pangeran Daniel saat ini. Lelaki itu benar-benar pandai mengubah ekspresinya sampai membuat lawannya menjadi bingung.


"Seandainya semua menjadi lebih mudah untuk Anda pahami. Mungkin saya akan menjelaskan semuanya. Semua kebohongan dan kenyataan palsu yang berusaha diciptakan seseorang untuk melanjutkan kehidupan mereka," ucap Pangeran Daniel, penuh makna.


"Yang Mulia, kita sudah sampai di kediaman timur." Seorang pelayan berseru, orang asing itu adalah pelayan atau ajudan langsung Pangeran Daniel, Tuan Tristan! Yang ternyata satu angkatan dengan Tuan Carlos saat menganyam pendidikan di akademik sihir.


Tuan Tristan memiliki banyak pengikut sekarang. Dia orangnya hebat. Bukan hanya prestasinya yang bagus, tapi sikap sopan dan rendah hati membuatnya terkenal di kalangan wanita ataupun para ksatria yang lain.


Tidak heran kalau sekarang ini Tuan Tristan bisa menjadi tangan kanan Pangeran kedua, yang memiliki sikap dan kelakuan 11-12 dengannya.


Perpaduan yang cocok, pikiran itulah yang terbesit saat mengingat jabatan Tuan Tristan saat mereka berdua bertemu hari ini.


"Lama tidak bertemu dengan Anda, Tuan Tristan. Semoga kabar Anda baik-baik saja," ucap Carlos, sekedar menyapa saat Tristan membantu Pangeran kedua turun dari keretanya.


"Terima kasih karena sudah menyapa duluan, Tuan Carlos. Saya senang melihat Anda dalam keadaan sehat hari ini," sahut Tuan Tristan, sambil menyunggingkan senyuman ramah di wajah tampannya.


"Erika, mau sampai kapan kamu tidur terus?! Bangunlah pemalas. Siapa yang kamu minta untuk menggendongmu turun dari kereta kuda sempit ini?!" celetuk Pangeran Daniel, berbicara seperti itu kepada Lady Nathania.


Tuan Carlos dan Tuan Tristan, sontak mengerutkan keningnya dalam saat mendengar sebutan Pangeran kedua untuk Lady Nathania.


"Ugh ... kepalaku pusing, David. Bisa tidak kamu membantuku berjalan?" tanya Nathania, mengulurkan tangannya ke arah Pangeran Daniel.


Pangeran Daniel menghela napas kasar dan meraih tangan Nathania kasar, tanpa memedulikan sopan santun ksatria saat memperlakukan seorang Lady.


"Bangunlah dengan cepat! Aku tahu kamu kehilangan banyak berat badan karena berusaha beradaptasi di dunia ini. Tapi bukankah ini keterlaluan? Bagaimana bisa seorang atlet taekwondo bisa sekurus ini? Bahkan sebelum kamu melawan lawan kamu, aku rasa angin bisa menjatuhkanmu dengan mudah!" ejek Pangeran kedua, membuat Lady Nathania mendengus kasar.


"Diamlah, semua ini karena Nyonya Edelia melarangku makan terlalu banyak. Katanya aku terlalu gendut untuk menjadi seorang Lady. Apalagi putri bangsawan! Dia bahkan mengurangi porsiku sampai setengah piring." Nathania mengusap rambutnya kasar ke arah belakang, dan membuat rambut panjangnya yang tergerai itu sedikit berantakan.


"Hahh ... bagaimana bisa dia disebut sebagai seorang ibu, saat membuat putrinya kelaparan?! Sepertinya aku sedikit mengerti tentang perasaan Nathania yang lebih memilih mengakhiri hidupnya dari pada hidup di dalam keluarga gila itu!" celetuk Nathania, tempat di hadapan Tuan Carlos.


Mendengar perkataan seperti itu dari mulut Nathania sendiri, tuan Carlos langsung memandang ke arah Pangeran kedua yang tampak tidak bingung. Padahal harusnya yang bingung adalah Pangeran Daniel, yang konteksnya merupakan orang luar.


Tapi kenapa posisi mereka sangat terbalik?


Pangeran Daniel tidak terlihat bingung mendengar perkataan Nathania, sementara Tuan Carlos yang merupakan kakak lelakinya! Malah kebingungan mendengar perkataan seperti itu.


"Apa maksudmu tentang percobaan bunuh diri? Kamu pernah melakukannya?!" tanya Tuan Carlos, menatap wajah Nathania yang menunjukkan ekspresi dingin, seakan memperlakukan Tuan Carlos sebagai orang luar.


"Ya, adik perempuanmu itu sudah mati! Dan karena adanya Ayah gila yang pandai melakukan sihir ini dan itu! Aku dan kakakku diseret masuk ke sini untuk melanjutkan hidup putrinya dan Pangeran kedua." Nathania kembali mengusap rambutnya dengan kasar. "Jika kau tahu tentang perselingkuhan mereka! Kau pasti akan lebih marah kepada Ayahmu yang mementingkan kesuksesan keluarga sampai mencari putri pengganti daripada mendengar berita kematian adikmu sendiri!"


Dengan mulutnya sendiri, Nathania mengucapkan semua itu dengan gamblang tanpa ada rasa sungkan atau ragu karena mungkin saja dia telah menyakiti perasaan Tuan Carlos, kakak lelaki yang selama ini terus menjaganya dengan baik! Walau dia sudah di perdaya oleh kenyataan.


"Tunggu, bisakah kamu menjelaskannya secara perlahan-lahan? Aku mulai pusing mendengar semua cerita yang kamu dengar. Bisakah kita duduk dan kamu menjelaskannya dengan lebih rinci dari awal sampai sekarang?" Tuan Carlos tampak berharap Nathania mau melakukan hal itu. "Tolonglah, setidaknya aku harus tahu tentang adik perempuanku sendiri, kan?!"


Nathania menoleh ke arah Pangeran kedua, yang sejatinya merupakan kakak lelakinya bernama "David".


"Saya rasa, Anda harus membiarkan Nathania beristirahat lebih dulu. Ah, apa sebaiknya kita mulai memanggilnya Erika? Adik perempuanku sangat sensitif jika dipanggil dengan sebutan Nathania. Dia tidak suka memakai nama gadis yang sudah mati untuk memanggilnya. Lagi pula, menurut saya itu juga sangat buruk," panjang Pangeran kedua, memindah Tuan Tristan membimbing Nathania masuk ke dalam rumah.


Dan kini hanya Tuan Carlos dan Pangeran Daniel yang berada di pekarangan rumah.


Ladang gandum yang membentang cukup luas di depan sana, menjadi satu-satunya pemandangan yang cukup menghibur untuk Tuan Carlos yang baru menerima kenyataan pahit tentang kematian adik perempuannya dari mulut lelaki asing bernama "David" ini.


Dia mengaku bukan Pangeran kedua, Pangeran Daniel! Dan nama aslinya adalah "David".


Sementara gadis yang selama ini dia panggil sebagai Nathania, memiliki nama asli yaitu "Erika".


David dan Erika mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya tewas di tempat. Tapi Ayahnya, Duke Carlin! Membawa mereka berdua yang memiliki paras serupa dengan Nathania dan Pangeran kedua, yang telah berpulang karena kecelakaan kereta kuda saat mencoba melakukan pelarian, sebab skandal perselingkuhan mereka menguap di kalangan bangsawan! Meminta kedua orang yang Duke Carlin ambil dari masa depan ini, menggantikan kehidupan keduanya.


Mungkin inilah kenapa Tuan Carlos selalu merasa asing terhadap ada perempuannya. Walau dia sangat yakin kalau Nathania masihlah orang yang sama. Tapi semua itu ternyata hannyalah bayangan Tuan Carlos sendiri.