
Carlos dan Duke Carlin menatap lurus ke arah Nathania dan Eveline yang duduk di hadapan mereka.
Keempat orang itu berkumpul di ruang kerja Ayahnya dan hendak mendiskusi perizinan urbanisasi rakyat mereka ke kediaman Duke Carlin untuk sementara waktu, setidaknya sampai mereka bisa menuntaskan masalah di wilayah selatan.
"Anda harus meminta izin Kaisar terlebih dahulu untuk membiarkan mereka tinggal di sini, Ayah. Kalau tidak, para bangsawan di kota pasti akan mengajukan protes besar-besaran." Eveline memandang tajam pada Ayah dan Kakak lelakinya. "Karena itu, sebelum malam petaka itu terjadi! Kalian berdua harus segera mendapatkan izin dari Kaisar," tegasnya, tak terbantahkan.
"Duke, saya Count Ryan, meminta izin masuk ke dalam ruangan dan bergabung bersama kalian," ucap seorang lelaki dengan suara besar dan berat, dari balik pintu masuk ruang kerja Duke Carlin.
"Masuklah, Menantu!" sahut Duke Carlin, membuat salah satu katup pintu itu terbuka dan memperlihatkan dua orang lelaki memasuki ruangan tersebut.
Count Ryan memasuki ruangan bersama seorang lelaki yang mereka kenal sebagai, Patrick. Tangan kanan Duke Carlin.
"Tuan Patrick? Anda sudah kembali dari Kerajaan sebelah?!" tegur Carlos, membuat Patrick tersenyum sambil menyapanya dengan sopan.
"Ya, Tuan Muda, saya sudah kembali dari kediaman Kerajaan Barat. Semua tugas yang dibebankan pada saya sudah selesai. Dan saya kembali membawa berita gembira untuk kalian semua," ucap tuan Patrick, mengulas senyuman manis.
"Di bahas nanti saja, Patrick. Ada hal yang harus kami bahas terlebih dahulu. Sebaiknya kamu juga ikut mendiskusikannya." Duke Carlin menoleh pada menantunya. "Anda bisa duduk, Count Ryan. Tolong jangan berdiri saja. Anda membuat saya merasa sungkan sebagai Tuan Rumah," celetuknya, ramah.
Count Ryan segera duduk di samping istrinya dan memperhatikan Nathania sejenak sebelum fokus pada Ayah mertua dan Kakak lelaki istrinya, Tuan Carlos.
Berbeda dengan Nathania yang terus memandang ke arah Tuan Patrick dengan tatapan menunggu.
Patrick menoleh dan tersenyum ramah padanya. "Ada yang bisa saya bantu, Nona Nathania?" tanyanya, sopan.
Nathania menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan gamblang. "Anda tidak duduk juga? Bukannya baru pulang dari negara sebelah? Pasti lelah kalau berdiri dalam waktu yang lama, kan?" Nathania menoleh pada sang Ayah. "Terlebih lagi, ini diskusi yang cukup panjang, kan?!"
Duke Carlin, Eveline, Count Ryan, Carlos dan Tuan Patrick sendiri, memandang Nathania dengan tatapan bingung.
"Baru kali ini saya mendengar ajudan bisa duduk bersama Tuannya," celetuk Count Ryan, tak bermaksud menyinggung.
"Kenapa? Saya hanya merasa kasihan pada Tuan Patrick. Beliau pasti lelah juga, kan? Apa tidak boleh dia duduk??" tanya Nathania, memandang ke arah Ayahnya dengan tatapan lurus.
Mereka semua sudah sadar dengan sikap Nathania yang sangat rendah hati, sejak gadis itu langsung membawa para rakyat wilayah selatan pergi ke rumah Duke, alih-alih membiarkan mereka tinggal di hutan dengan beberapa ksatria.
Tuan Patrick tersenyum dan menggeleng pelan. "Saya sudah biasa berdiri, Nona. Anda tidak perlu-"
"Ambil kursi di sana dan duduklah dekat dengan kami! Kau tidak bisa menghargai keputusan Tuanmu?" celetuk Nathania, menyambar bagai petir.
Tuan Patrick yang mendengar perintah itu langsung melakukannya tanpa banyak bicara dan duduk di dekat kursi Nathania.
Karena kini Duke Carlin yang berstatus sebagai tuannya, sudah kembali duduk di singgasananya, di balik meja panjang yang mewah itu. Dan tak mungkin baginya bersanding di sana. Nyali Patrick tak sebesar itu.
Nathania tersenyum pada Tuan Patrick, merasa puas dan akhirnya bisa kembali ke rapat mereka. "Lanjutkan diskusinya, Ayah!" ucapnya, dengan wajah semringah.
Tuan Patrick tersenyum melihat kelakar itu. Begitu pula dengan Duke Carlin yang menggelengkan kepalanya ampun sambil mengulas senyuman masam.
"Memang Putriku yang satu ini, banyak sekali tingkahnya. Kamu maklumi saja Patrick! Aku tidak akan pernah marah padanya," ucap Duke Carlin, tampak tulus dan bahagia.
Patrick mengangguk pelan dan menerima perintah itu dengan patuh. "Baik, Tuan Duke. Akan saya lakukan sesuai perintah Anda."
Baru saja rapatnya ingin dimulai kembali, tapi tiba-tiba seorang lelaki paruh baya, yang usianya lebih tua dari Duke Carlin, mengetuk pintu ruangan tersebut dan membuat semuanya kembali terdiam sambil melihat ke arah yang sama.
Kepala pelayan bergegas mendekati Duke Carlin dan berbisik padanya.
"Duke, rombongan Putra Mahkota terlihat di jarak 15 meter dari kediaman Anda. Sepertinya beliau berkunjung karena permintaan Tuan Julian tentang pembatalan pertunangan Nona Nathania," ucap kepala pelayan, memberitahukan.
Duke Carlin yang mendengar berita itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan meninggalkan semua anggota keluarganya.
Eveline bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Ayahnya pergi. Begitu juga dengan Carlos dan Tuan Patrick.
Sampai akhirnya, hanya tersisa Nathania dan Kakak iparnya. Yaitu Count Ryan yang menyandang status sebagai suami Kakak perempuannya, Putri Eveline.
"Anda pasti belum mengenal saya, bukan?" Count Ryan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Nathania.
Count Ryan mengeluarkan tangan sambil tersenyum ramah ke arah Nathania.
Nathania tidak banyak bicara dan menggenggam tangan lelaki itu. Membalas jabat tangannya, sambil memamerkan senyuman tipis.
"Nama saya Cavan Hadryan, kerap disapa sebagai Tuan Ryan. Saya adalah Count di wilayah Utara. Salam kenal Putri Nathania. Semoga Anda juga bisa dekat dengan saya, seperti Anda dekat dengan saudara Anda sendiri," ucap lelaki itu, dengan sopan.
"Nama saya Nathania Ellworth, Tuan Ryan. Saya juga mengharapkan hal yang sama dengan Anda. Semoga kita berdua rukun seperti saudara kandung," ucap Nathania, sedikit unik dalam memperkenalkan dirinya tapi Ryan tidak mempermasalahkan itu.
"Yang Mulia, maaf sudah mengganggu waktu Anda. Tapi sepertinya Anda harus keluar," ucap kepala pelayan, kepada Nathania.
Nathania memandang lelaki berusia 65 tahun itu dengan tatapan bingung dan setengah bingung. Walau begitu, dia tetap melangkah keluar dari ruangan Ayahnya.
"Tolong antarkan saya ke tempatnya, kepala pelayan." Nathania memberi perintah dan kepala pelayan membimbing jalannya kedua orang itu keluar dari kastel.
Di depan sana, para prajurit Kekaisaran sudah mengikat tangan para rakyat yang di biarkan tinggal di halaman depan dengan membangun tenda-tenda prajurit, atas seizin Ayahnya.
Wussshhh ....
Angin berembus kencang secara tiba-tiba. Dan itu tepat di saat itulah sosok Nathania terlihat. Kedua manik mata tajam gadis itu menelisik pada keadaan para rakyatnya yang di ikat dengan begitu kuat, tanpa peduli itu orang tua, para pemuda ataupun anak-anak.
Banyak anak yang menangis karena ikatan para ksatria Kekaisaran terlalu kencang dan mereka juga tampak ketakutan.
Nathania menatap tajam ke arah seorang lelaki yang berpakaian mewah, sedang berdiri di bawah anak tangga yang ada di depan pintu masuk utama rumah Duke Carlin, dengan memandangnya lurus.
"Nona Nathania. Ada yang harus saya bicarakan dengan anda. Tolong luangkan waktu Anda untuk saya!" ucap lelaki itu, tidak seperti meminta tolong melainkan seperti memerintah.
Nathania memandangnya lurus sampai beberapa saat, sebelum memalingkan wajahnya dari lelaki itu dan memandang seorang ksatria yang berdiri di samping kanan dan kiri pintu utama kediaman Ayahnya.
Nathania berjalan ke arah ksatria itu dan mencabut pedang milik ksatria itu dari sarungnya dan membawa pedang itu turun ke bawah.
Dengan tatapan dingin dan tajam, kedua manik mata Nathania terus mengawasi lelaki di ujung anak tangga itu.
Para ksatria Kekaisaran yang melihat hal tersebut, langsung menarik pedang mereka dari dalam sarungnya dan mengacungkan ujung runcingnya, tepat ke arah Nathania.
"Orang-orang yang kejam!" desis Nathania, tajam. Tepat di depan wajah Putra Mahkota Justin.
Lantas seluruh orang yang mendengar perkataan itu langsung bengong, saat mendengarkan perkataan kotor itu keluar dari mulut Putri bangsawan ternama di wilayah selatan.