
Daniel terus memandang lurus ke arah Nathania yang sedang menggali tanah dengan cangkul kecil.
Setelah melihat wajah putri kedua dari Duke Carlin, dan ikatan darah mereka yang begitu kuat di dunia asal mereka. Daniel tidak bisa mengelak kalau Nathania adalah adiknya, Erika, yang selama ini selalu dia cari ke mana pun dia pergi.
"Lady, apakah Anda membutuhkan bantuan saya?" tanya Pangeran Daniel, secara tiba-tiba.
Nathania yang dari tadi sibuk menggali tanah, kini salat mendengar suara Pangeran Daniel yang begitu dia kenali dan rindukan, langsung menoleh ke arah lelaki itu dengan air mata yang sudah menampakkan diri di pelupuk matanya.
Carlos dan Pangeran Justin yang melihat itu, segera mendekati Nathania dengan panik.
"Lady, kenapa Anda menangis?" tanya Pangeran Justin, khawatir.
Begitu pula dengan Tuan Carlos yang terkejut. "Hey, apa kamu sangat lelah sampai menangis? Biar aku yang gantikan. Kamu mau mencari apa sampai menggali tanah?" tanyanya, mengambil alih cangkul kecil yang diduga mati perempuannya.
Nathania menggelengkan kepalanya pelan dan mengulas senyuman lembut. Dia menghapus air matanya dan tersenyum melihat Pangeran Daniel, yang juga menunjukkan ekspresi yang sama.
Pangeran Justin melihat ke arah adik lelakinya, Pangeran Daniel, yang tengah bertukar pandangan dengan tunangannya.
"Kenapa kalian menunjukkan ekspresi seperti itu?" tanya Pangeran Justin, membuat Nathania dan Pangeran Daniel menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
Tentu saja mereka tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada kehidupan mereka sebenarnya. Dan tidak mungkin juga, kalau mereka beralasan memiliki hubungan asmara diam-diam di belakang Pangeran Justin. Itu bisa membuat kepala Pangeran Daniel dipenggal oleh kaisar.
"Ah, saya tidak menyangka kalau adik perempuan yang sering saya temui di toko buku adalah calon tunangan Anda." Pangeran Daniel tersenyum masam. "Saya harap Anda tidak akan pernah merasa cemburu melihat kedekatan kami berdua, yang mulia. Karena saya telah menganggap Nona Nathania seperti adik saya sendiri."
Pangeran Justin menyipitkan matanya. Berusaha menelisik dalam pada kedua manik mata Pangeran Daniel. Berusaha mencari kebohongan di sela-sela topik pembicaraan mereka yang cukup sensitif.
Tapi sayangnya, Pangeran Justin tidak menemukan hal itu. Sepertinya adik lelakinya dan tunangannya, memang memiliki hubungan persaudaraan yang kuat.
Pangeran Justin bisa melihatnya dengan jelas. Wajah Pangeran Daniel dan tunangannya, Lady Nathania, terlihat begitu akrab tapi tidak terkesan memiliki perasaan mendalam seperti cinta atau kisah romansa.
"Hahhh ... begitukah? Aku tahu kamu tidak pandai ibu bohong. Jadi aku akan mencoba mempercayaimu, Pangeran Daniel! Asal, jangan sampai mengecewakan diriku," ucap Pangeran Justin, penuh lapang dada.
Nathania tersenyum semakin lebar dan melihat Pangeran Justin dengan tatapan lembut. "Terima kasih, yang mulia. Saya akan menghargai kemurahan hati Anda dengan-"
"Asal kamu bisa membujuk Tuan Julian untuk membatalkan permintaan pembatalan pertunangan kita, aku tidak akan pernah mengusik hubungan kalian berdua," sambar Pangeran Justin, dengan suara tegas dan berwibawa.
Lady Nathania langsung terdiam dengan tatapan datar. Inilah yang tidak disukai Nathania dari para bangsawan.
Mereka sangat pandai mencari peluang di tengah-tengah kesempitan.
Menghela napas kasar, Nathania kembali mengambil cangkul kecil yang ada di tangan kakak lelakinya.
"Urusan restu dari pihak perempuan, bukankah itu masalah pihak laki-laki?" Nathania menatap Pangeran Justin dengan tatapan lurus. "Jadi Anda harus lebih berusaha untuk mendapatkan restu dari Paman Julian. Bagaimanapun juga, dia adalah wakil ibu saya. Dan saya berharap, Anda bisa mendapatkan restu darinya tanpa bantuan saya."
Nathania kembali memalingkan wajahnya dari lelaki itu dan fokus mencabut ginseng merah yang dia temukan. "Jika ada berhasil mendapatkan restu dari Paman Julian, saya akan menurut bahkan jika Anda meminta pernikahan kita dipercepat!" celetuknya, seakan tengah bernegosiasi.
Pangeran Daniel tersenyum kecil melihat kelicikan adiknya. Di dunia mereka ataupun di dunia asing ini, tampaknya sikap Nathania yang sombong, licik tapi cerdik! Tidak akan bisa dia hilangkan dengan mudah.
Daniel mendekatkan dirinya ke arah Pangeran Justin. "Anda harus menerima tantangan itu jika Anda adalah lelaki sejati. Benar kata Lady Nathania, urusan restu dari keluarga perempuan adalah usaha pihak laki-lakinya! Anda harus menunjukkan jika Anda bisa, yang mulia."
"Kamu sedang mendorong kakakmu ke tebing di tepi jurang, kan?" celetuk Pangeran Justin, tampaknya mengetahui rencana Pangeran Daniel yang terlihat licik dan picik.
Pangeran Daniel hanya tersenyum masam dan meminta maaf kepada kakak lelakinya.
"Tapi baiklah. Kalau itu bisa membeli kepercayaanmu, aku akan melakukannya!" ucap Pangeran Justin, memutuskan.
Nathania segera tersenyum dan menoleh ke arah beberapa pengawal yang datang dengan kuda mereka.
"Lady!" teriak seorang pengawal, membuat Nathania berdiri dari posisi jongkoknya.
Nathania berjalan mendekati 3 orang prajurit, yang sengaja datang untuk menjemput mereka.
"Ada apa?" tanya Nathania, mengambil beberapa langkah untuk mendekati mereka.
"Salam hormat untuk bintang kerajaan," sapa tiga orang prajurit itu, kepada dua Pangeran kekaisaran.
Baru setelah itu, ketiga ksatria itu kembali menatap Nona mereka.
"Lady, baginda kaisar telah sampai di kediaman Duke 10 menit yang lalu. Dan beliau mencari Anda, Nona!" ucap salah satu di antara mereka, menyampaikan pesan tersebut.
Baik Nathania atau ketiga orang lelaki di sekitarnya, sama-sama terkejut mendengar berita jika kaisar datang ke kediaman ayah mereka.
"Nathania, tidak perlu mencari obat lagi. Sekarang kita harus kembali dan menghadap pada kaisar. Bagaimanapun juga, di adalah raja di antara raja! Kamu tidak boleh meremehkan kehadirannya. Karena dalam satu kali perintah, baginda kaisar bisa melulu lantahkan kediaman kitab!" ucap Tuan Carlos, memberi tahu sang adik.
Nathania segera naik ke atas kuda dan menunggang bersama kakak lelakinya, kembali ke kediaman Duke.
***
"Yang Mulia, saya harap Anda tidak terlalu marah dengan Lady Nathania. Bagaimanapun juga, dia tidak meminta putra mahkota kita untuk tinggal di kediamannya. Hanya saja, putra mahkota kita-"
"Jadi kamu menyalahkan anak lelakimu sendiri untuk membela anak bangsawan itu?!" marah sang kaisar, pada ratunya.
Eleanor mengulas senyuman masam dan melihat dua orang lelaki muda, masuk ke dalam kamar mereka dengan tatapan setengah panik.
"Salam untuk matahari dan bulan kekaisaran," ucap putra mahkota Justin dan Pangeran Daniel, bertepuk lutut di hadapan kedua orang tuanya.
Kastara, kaisar Kerajaan Pritam itu, menatap tajam pada dua orang Pangerannya, yang entah mengapa ada di dalam kediaman ini.
"Putra mahkota Justin! Bukankah ayah sudah memintamu untuk kembali karena ada urusan mendesak?" Kastara menatap tajam pada putra sulungnya.
Putra mahkota Justin tidak berani mengangkat kepalanya. "Maafkan kelelahan hamba, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud untuk membangkang perintah yang mulia. Hanya saja, saya merasa sedikit-"
"Jangan banyak alasan dan bahwa perempuan itu ke hadapanku! Aku ingin melihatnya lebih jelas. Bisa-bisanya seorang bangsawan sepertinya, membuatmu tetap tinggal di kediamannya dan seenaknya dalam memperlakukanmu. CEPAT BAWA WANITA ITU KEMARI!" teriak Kastara, murka.
Pangeran Justin dan Pangeran Daniel hanya bisa menunjukkan ekspresi masam pada ibunda mereka, yang juga terlihat cemas, pada keselamatan hidup calon menantunya.