Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 8



"Yang Mulia, berdasarkan laporan yang saya terima. Kita harus melakukan invasi di daerah-"


Brak!!


Pintu dibuka dengan keras, seorang lelaki berusia 23 tahun masuk ke dalam ruang singgasana dengan langkah kesal.


Wajahnya yang sudah ditekuk dan kedua alis yang sudah hampir menyatu di tengah-tengah kening, memperlihatkan dengan jelas kalau lelaki itu sedang kesal dan marah.


"Putra Mahkota, kenapa kamu masuk dengan cara yang tidak sopan?! Apakah pelajaran etiket yang diberikan Ratu kepadamu sejak kecil, tetapi tetap membuatmu memiliki etika bangsawan?!" bentak Kaisar, terlihat marah pada putra pertamanya itu.


"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah pesan yang datang dari keluarga Ellworth."


Kaisar mengerutkan keningnya dalam. "Keluarga calon tunanganmu?" Kaisar mengulurkan tangannya, meminta secarik kertas yang di genggam erat oleh Putra Mahkota.


Lelaki berusia 23 tahun itu segera mendekati Ayahnya dan memberikan benda yang diminta olehnya.


"Tidak biasanya ada menyerahkan urusan yang berkaitan dengan tunangan Anda kepada Kaisar, Yang Mulia. Tapi sekarang kenapa tiba-tiba Anda meminta pendapat Ayahanda?" tanya Pangeran Daniel, membuat Putra Mahkota menoleh ke arahnya.


"Pangeran Daniel, itukah dirimu? Maafkan aku kalau mengganggu tugasmu. Tapi ini urusan penting yang tidak bisa aku tunda," ucap sang Putra Mahkota, kepada Adik lelaki dari anak selir kesayangan Ayahnya.


Pangeran Daniel mengulum senyum lembut. "Bukan masalah, Kak. Tolong jangan terlalu dipikirkan."


Pangeran Daniel melihat ke arah Kaisar yang tampak kesal dan mengalihkan pandangannya pada Kakak lelakinya yang memiliki ekspresi serupa.


"Sepertinya kalian memiliki pembahasan yang penting. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Segala hormat saya berikan kepada matahari dan bintang dari Kekaisaran Pritam," ucap Pangeran Daniel, sambil mundur perlahan-lahan sebelum dia membalik tubuhnya dan pergi keluar dari ruangan tersebut.


Klap ....


Setelah pintu tertutup, Pangeran Daniel mendengarkan suara ribut dari dalam ruang singgasana. Sepertinya itu suara marah Kaisar. Entah apa yang membuat lelaki berusia 50 tahun itu begitu marah, sampai suaranya terdengar keluar ruangan.


Daniel tidak ingin berurusan dengan mereka dan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Putri Salvina, kamu mau pergi ke mana?" tanya Daniel, menghentikan langkah putri Salvina yang berlari ke arah ruang singgasana dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajahnya.


Putri Salvina menghentikan langkahnya, memandang Kakak lelaki yang sudah dilewati tiga langkah dari posisinya, dengan tatapan sedih.


"Pangeran," cicit putri Salvina, segera menghapus air matanya dengan sapu tangan miliknya. "Tidak, saya hanya ingin bertemu dengan Ayahanda," jelasnya, berusaha menunjukkan jika dirinya baik-baik saja.


Pangeran Daniel kembali mendekati ruang singgasana, berdiri di depan putri Salvina dengan memandangnya lurus.


"Karena kepentinganku dengan Kaisar tertunda karena permasalahan Putra Mahkota, aku memiliki waktu cukup lama untuk mengajak gadis kecil jalan-jalan." Pangeran Daniel tersenyum dan mengeluarkan tangannya di depan putri Salvina. "Maukah Anda pergi dengan saya melihat pasar rakyat?" tanyanya, senyuman menawan.


Putri Salvina yang mendengar hal itu langsung tersenyum senang. Dia meraih tangan Pangeran Daniel dan menggenggam erat. "Ya! Aku mau jalan-jalan dengan Kakak. Tapi, aku harus izin Ibunda terlebih dahulu. Jika tidak, aku tidak akan bisa meninggalkan istana."


Lagi-lagi Pangeran Daniel tersenyum. "Aku akan membantumu mendapatkan izin. Bagaimana? Mau pergi atau tidak, waktuku tidak banyak, Tuan Putri."


Tanpa banyak berpikir panjang, putri Salvina segera menganggukkan kepalanya mantapkan dan segera mengiringi langkah kaki Pangeran Daniel yang sudah disesuaikan dengannya.


"Anda akan tahu begitu kita ada di sana, Putri. Jangan gugup, aku akan selalu bersamamu."


Putri Salvina yang tidak pernah keluar dari istana, hanya bisa mengangguk yakin dengan perkataan Kakak lelakinya.


Walaupun Pangeran Daniel bukan Kakak kandungnya, tapi dia dan para pelayan yang ada di istana tahu, kalau Pangeran Daniel tidak pernah menyakiti putri Salvina. Bahkan dia tidak pernah serakah untuk memperebutkan kekuasaan dengan Putra Mahkota.


Keluarga Kerajaan Pritam benar-benar keluarga yang harmonis. Anak-anaknya tidak ada yang bertengkar, begitu pula dengan Ratu dan selirnya. Raja memimpin dengan bijaksana dan membuat rakyat menjadi makmur.


Tidak ada orang miskin di Kerajaan Pritam. Walaupun mereka adalah Kerajaan kekaisaran, tapi tidak ada perseteruan yang akan berlanjut begitu para bangsawan dan raja keluar dari ruang diskusi.


Urusan negara, hannyalah urusan cara laki-laki. Tidak ada bangsawan yang berani ikut campur dengan keputusan kepala keluarga mereka atau keputusan raja. Setegas itu dan setenang itulah Kerajaan Pritam.


***


"Nathania, setidaknya biarkan Tuan Johan ikut bersama denganmu. Alih-alih membawa Sabrina yang seorang perempuan, lebih baik kamu membawa Ksatria Johan. Ayah akan merasa lebih tenang kalau kamu pergi bersama dengannya ke kuil," ucap Adhyastha , berjalan mengikuti Nathania pergi ke arah gerbang rumah mereka secara mandiri.


Sabrina tampak manis, dan Tuan Johan yang dimaksudkan oleh sang Ayah, juga mengikuti langkah mereka dengan rasa gusar.


Ternyata sikap keras kepala putri Nathania tidak pernah berubah. Walaupun dia kehilangan seluruh ingat tanya, tapi dia tidak kehilangan sikap keras kepalanya ini.


"Nathania, tolonglah. Ayah sudah tidak menghalangimu untuk pergi ke kuil secara mandiri tanpa adanya penjagaan dari beberapa pengawal. Tapi setidaknya, bawalah Tuan Johan ikut bersama denganmu, ya?!" ucap Adhyastha, masih bersusah payah membujuknya.


"Tidak perlu Ayah, kusir akan mengantar aku sampai ke kuil dengan aman. Ayah tidak perlu cemas. Aku sudah membawa persediaan," celetuk Nathania, membuat tiga orang itu mengerutkan keningnya dalam.


"Persediaan? Kamu membawa banyak makanan untuk pergi ke kuil??" tanya Adhyastha, tanpa kebingungan.


Nathania menggelengkan kepalanya dan mengepalkan tangan kanannya lalu mengarahkan tinjunya dengan cepat dan tepat ke arah hadapan wajah Duke Carlin.


Saat itu juga, mulut Duke Carlin yang hendak mengucapkan kalimat langsung tertutup rapat dengan napas tertahan. Iya terkejut karena putrinya memiliki gerakan yang cukup gesit dalam bidang bela diri.


Sabrina dan Tuan Johan juga terkejut. Bahkan kusir kuda yang ada di dekat mereka, sampai bengong dengan mulut setengah terbuka sangat melihat kelakuan nona Nathania.


"Sejak kapan kamu bisa menggunakan bela diri?!" celetuk Duke Carlin, segera menurunkan tangan putrinya dari hadapan wajahnya.


"Ada deh. Yang penting sekarang aku pergi! Jangan coba-coba mengikuti-"


"Mau pergi ke mana tanpa penjagaan, Adikku Nathania?!" celetuk seorang lelaki tiba-tiba berdiri di balik punggung Nathania dengan kedua tangan yang sudah dilipat di depan dada.


Wajah barang dari Carlos membuat senyuman masam hadir di wajah sang Adik.


"Mau pergi ke kuil, tuan Carlos! Anda juga mau ikut?!" tanya Nathania sambil menaik turunkan kedua alisnya, tanda mengejek! Karena dia tahu kalau Kakak lelakinya ini sangat membenci kuil.


Carlos memandang wajah Ayah dan dua orang pelayan Adiknya yang tampak cemas dan khawatir.


"Ya, karena kamu tidak mengizinkan kedua pelayanmu mengikutimu, jadi biar aku yang akan ikut bersamamu. Toh, aku bisa menunggumu di kereta kuda saat kamu masuk ke kuil. Tidak masalah bukan?!"