
Wsshh ....
Angin mengembus dengan lantang. Seakan mengentak wajah Tuan Carlos supaya tersadar kembali pada realitas kehidupannya, dan tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Erika datang dengan membawa 2 gelas cangkir berisikan teh susu yang baru dia buat di dalam rumah persinggahannya dan David.
"Silakan," ucap Erika, memberikan salah satu cangkir itu kepada Tuan Carlos yang spontan menoleh ke arahnya dan menerima gelas tersebut.
"Terima kasih, Nona Erika."
Erika duduk di samping Tuan Carlos. Sama-sama memandang ladang gandum yang ada di depan mereka, yang sudah dipadu dengan pemandangan langit malam yang luas dan gelap.
Hanya ada beberapa obor yang sengaja di pasang di sudut ladang dan rumah mereka agar terlihat lebih terang.
"Anda terlihat sangat sedih, Tuan Carlos. Apakah kehilangan seseorang yang tidak pernah Anda gubris semasa hidupnya, terasa menyakitkan juga?" tanya Erika, sekedar penasaran saja.
Tuan Carlos terdengar menghela napas kasar dan panjang beberapa kali. "Ya, Anda memang benar. Seharusnya saya tidak merasakan sakit hati saat adik perempuan saya hilang dari kehidupan kami, kan? Kami memang menginginkan itu sejak awal. Tapi ternyata, saat dia benar-benar menghilang dari hadapan kami, dan tanpa di sadari hati saya sangat sakit."
Tuan Carlos mendongak, mendapat ke arah langit malam yang di isi beberapa bintang terang. "Mungkin ini adalah hukuman dari langit untuk kami semua," celetuknya, diam-diam menangis tanpa suara.
Erika yang melihatnya cukup berdiam diri beberapa saat, sebelum akhirnya dia bangun dan berdiri di depan Tuan Carlos.
"Saya tahu Anda tidak lagi bisa melihat saya sebagai adik perempuan Anda. Tapi jika Anda mau, Anda bisa memperlakukan saya seperti sebelumnya. Toh, memiliki keluarga yang hangat seperti Anda juga cukup menyenangkan. Setidaknya selama saya masih di sini, Anda bisa memanggil saya sebagai Nathania!" jelas Erika, mengulas senyuman manis.
Bukannya bahagia karena diizinkan memanggil Erika sebagai Nathania, Tuan Carlos malah menangis semakin menjadi-jadi dengan menyelusupkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya.
Erika masih diam dan terus memperhatikannya tanpa banyak bicara.
"Hahhh ... menangislah selagi kamu bisa menangis, Tuan Carlos! Karena sebentar lagi akan banyak mayat yang berjatuhan sebab kutukan itu akan segera datang."
Tuan Carlos mendongak. Menatap wajah Erika yang tampak serius saat mengatakannya. "Apa maksud dari perkataan itu, Nona Erika?" tanyanya, tampak penasaran.
"Saya menemukan suatu sihir yang melekat pada tubuh Nona Nathania. Dan sepertinya, dia meninggalkan kutukan pada Kekaisaran ini!" ucap Erika, sekedar memberi tahu.
Tapi respons Tuan Carlos, cukup membuatnya terkejut. Lelaki itu secara tiba-tiba menggenggam kedua pergelangan tangan Erika dengan sangat kuat sampai Erika mendesis kesakitan.
"Anda menemukan jasad adik perempuan saya? Lalu di mana Anda menguburkannya?" tanya Tuan Carlos, dengan tatapan menakutkan.
Kedua matanya yang membulat sempurna, dengan wajah panik dan sedikit senyuman di wajahnya, membuat Erika sedikit khawatir tentang keadaan mental Tuan Carlos yang mulai terganggu.
"Saya bisa mengantar Anda ke sana! Tapi tolong lepaskan tangan ini. Anda mau mematahkan pergelangan tangan saya?" tanya Erika, langsung membuat Tuan Carlos melepaskan kedua genggaman tangannya.
"Ma-maafkan saya. Saya tidak bermaksud melukai anda. Anda baik-baik saja?" tanya Tuan Carlos, melihat kedua pergelangan tangan Erika sudah berubah menjadi merah dan membekas genggaman tangannya.
Tuan Carlos yang melihat hal itu benar-benar merasa bersalah dan kembali terlihat lemah. "Maaf. Sepertinya saya terlalu banyak pikiran sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Saya harap Anda memaafkan kesalahan saya, Nona Erika."
Tuan Carlos hanya mengangguk mengerti dan segera masuk ke dalam rumah.
Dia mencari keberadaan David, yang ternyata sedang berdiri di ruang tengah sambil membicarakan beberapa hal yang sangat serius dengan ajudannya, Tuan Tristan.
"Tuan David," panggil Tuan Carlos, membuat kedua lelaki yang sedang berbicara itu terdiam dan menoleh ke arahnya. "Nona Erika mencari Anda. Dia ada di depan rumah," ucapnya, menyampaikan pesan.
Tuan David yang mendengar hal itu, langsung menoleh ke arah Tuan Tristan dan keduanya mengangguk singkat secara bersamaan.
Tuan Carlos yang tidak paham dengan apa yang dilakukan kedua lelaki itu. Hanya bisa diam dan tidak ikut campur.
"Tuan Carlos, seburuk apa pun keadaan di luar sana! Tolong jangan keluar dan serahkan semuanya kepada saya dan Nona Erika. Apa Anda mengerti?" tanya Tuan David, setelah dia berhadapan dengan Tuan Carlos secara langsung.
Tuan Carlos terdiam beberapa saat dan memandang ke arah Tuan Tristan, yang seakan mengangguk, memberikan kode kalau dia harus melakukan permintaan itu.
"Baiklah. Jika ada sesuatu yang berbahaya mendekat, Anda bisa meminta bantuan saya. Bagaimanapun juga, saya adalah kapten ksatria Kekaisaran!" ucap Tuan Carlos, tidak bermaksud menyombongkan diri.
Tuan David tersenyum dan mengangguk mengerti. "Saya akan mengirimkan sinyal untuk memanggil Anda, kalau saya membutuhkan bantuan. Tolong selalu siap sedia karena tempat ini benar-benar akan menjadi lautan darah yang sangat mengerikan!" ucapnya, bukan sekedar memperingatkan! Tapi mengatakan dengan yakin.
Tuan Carlos mengangguk mengerti dan membiarkan kedua lelaki itu pergi meninggalkannya.
Tapi sepertinya, hanya Tuan David yang keluar. Sementara Tuan Tristan, berjaga di dalam rumah seperti yang dilakukan Tuan Carlos saat ini.
Tuan Carlos mendekat ke arah Tuan Tristan. "Anda tidak ikut keluar?" tanyanya, menatap Tuan Tristan yang berdiri di depan jendela sambil memandang keluar dengan tatapan mengawasi.
Tuan Tristan yang di tegur, langsung menoleh ke arah lawan bicaranya. "Beliau tidak mengizinkan saya keluar. Beliau meminta saya untuk tetap berada di dalam bersama dengan Anda. Sama seperti Anda, beliau akan memanggil saya saat membutuhkan bantuan."
Tuan Tristan tersenyum simpul. "Walau saya sedikit terkejut karena dia bukanlah Tuan yang harusnya saya layani. Tapi kegigihan dan kecerdasan yang membuat saya tetap mengikutinya. Semoga saja kekuatan Tuan David dan Nona Erika memang sebesar yang mereka sombongkan!"
Setelah mendengar penjelasan Tuan Tristan, bahkan belum ada tiga detik dari Tuan Carlos mendengarkan penjelasannya, tiba-tiba tanah bergetar cukup kuat.
Seakan menyambut langkah suatu makhluk yang besar, Tuan Tristan dan Tuan Carlos menatap keluar jendela dan melihat banyaknya makhluk bertubuh besar nan tinggi dengan wajah yang mengerikan, tampak menghampiri rumah ini.
"Mereka hanya berdua saja! Anda yakin Tuan David dan Nona Erika bisa menyelesaikan masalah kali ini dengan baik?" tanya Tuan Carlos, mulai tidak yakin.
Begitu pula dengan Tuan Tristan yang benar-benar melihat apa yang menjadi musuh kedua manusia bertubuh normal, tapi malah terlihat sangat kerdil saat menghadapi lawan seperti itu.
Glek ....
Menelan ludahnya susah. Tuan Tristan menggelengkan kepalanya tidak tahu dan memandang Tuan Carlos dengan tatapan yang sama cemasnya.
"Semoga kita berempat bisa selamat dari tempat ini!" ucap Tuan Tristan, hanya bisa berdoa.