Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 17



"Yang Mulia, sang fajar sudah terbit. Anda tidak-"


Dua bola mata Sabrina bergetar. Karena begitu dia menyibak  selimut sang Nona, dia tidak mendapati Nathania berada di sana.


Dengan langkah tergesa-gesa, Sabrina keluar dari ruangan itu dan mencoba mencari keberadaan Tuan Johan.


Tapi dia malah bertemu dengan Putra Mahkota Justin yang sepertinya hendak menuju ke kamar Nathania.


"Nona Sabrina, kenapa kamu terlihat terburu-buru?" tanya pangeran Justin, menghentikan langkah pelayan perempuan itu.


Sabrina menundukkan kepalanya sambil mengucapkan salam hormat. "Yang Mulia, saya hendak membangunkan Nona. Tapi beliau sudah tidak ada di tempat tidurnya. Saya mau mencari Tuan Johan, siapa tahu dia tahu di mana keberadaan Nona Nathania," ucapnya, dengan nada sedikit panik.


Pangeran Justin memandang Felix, orang yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi.


"Felix, minta Ezhar dan Dylan membantu Nona Sabrina menemukan tunanganku!" titah pangeran Justin, dengan tegas.


Felix membungkuk hormat dan segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh tuannya.


"Sekarang aku juga akan membantumu menemukan Nathania. Pergilah mencari Tuan Johan terlebih dahulu baru mencarinya," ucap pangeran Justin, memberikan instruksi.


"Baik, yang mulia."


Setelah itu, kedua orang tersebut terpisah dan pergi ke arah masing-masing.


Di perjalanan pangeran Justin bertemu dengan putra pertama Duke Carlin. Dan tampaknya, lelaki itu sedang memandang sesuatu yang cukup mencurigakan di arah hutan belakang kediamannya.


"Tuan Carlos, apa yang Anda lakukan?" tanya pangeran Justin, beri jalan mendekati Tuan Carlos.


Carlos menoleh ke arahnya dan memberikan hormat. "Salam untuk bintang kekaisaran. Ada yang bisa saya bantu, yang mulia?" tanyanya, dengan sopan.


Pangeran Justin menganggukkan kepalanya. "Apakah mungkin Anda tahu di mana keberadaan Lady Nathania?"


Saat itu juga, telunjuk Carlos menunjuk ke arah atas bukit. Lebih tepatnya, hutan yang ada di kaki bukit belakang kediaman Duke Carlin.


Pangeran Justin langsung melongok ke arah itu. Melihat seorang wanita berusia 18 tahun setengah mendaki gunung seorang diri, dengan membawa keranjang anyaman dari bambu yang cukup besar.


"Lady!!" teriak pangeran Justin, sampai menggema.


Setelah melihat keberadaan Nathania, pangeran Justin segera ikut menyusul ke atas bukit. Membuat Carlos yang melihat kelakuan Putra Mahkota kekaisarannya ini, menggeleng-gelengkan kepala ampun.


"Yang Mulia, apa yang ingin ada lakukan?!" seru seorang lelaki, tiba-tiba menahan langkah pangeran Justin yang hendak pergi meninggalkan kediaman Duke Carlin dan masuk ke dalam hutan.


Pangeran Justin menoleh ke arah belakang dan melihat adik lelakinya, yang entah mengapa bisa berada di sana.


"Pangeran Daniel, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya pangeran Justin, bingung sampai merupakan keberadaan Nathania di atas sana.


"Saya datang untuk memanggil Anda kembali ke kediaman kaisar. Beliau sudah mencari Anda dari kemarin malam. Tapi karena Anda tidak kunjung pulang walaupun kaisar sudah mengirimkan surat kepada Tuan Felix, beliau meminta saya untuk menjemput Anda di kediaman Duke Carlin," jelas pangeran Daniel, dengan detail.


Pangeran Daniel menghela napas lelah dan menoleh ke arah Tuan Carlos, yang lupa dia siapa.


"Maaf atas ke tidak kesopanan saya, Tuan Carlos. Senang bertemu dengan Anda," ucap pangeran Daniel, sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan pangeran Justin.


Saat itu juga, pangeran Justin langsung berlari ke arah hutan untuk menyusul langkah tunangannya.


Pangeran Daniel dan Tuan Carlos langsung dibuat terkejut dengan pergerakan itu.


"Tuan Carlos, bisakah kita mengambil kuda untuk menyusul mereka? Sepertinya Putra Mahkota sedang mengkhawatirkan seseorang yang ada di sana," ucap pangeran Daniel, sambil memandang seorang gadis yang terus mendaki bukit sambil mencari-cari sesuatu.


Tuan Carlos mengangguk mengerti. "Saya akan minta para prajurit untuk mengambilkan kuda untuk kita. Maaf sudah merepotkan pangeran Daniel. Seharusnya saya melarang adik perempuan saya untuk pergi ke atas bukit."


Pangeran Daniel mengerutkan keningnya dalam. Tampak tidak paham, kenapa bisa putri seorang Duke yang seharusnya memiliki sikap manja dan tidak suka beraktivitas di luar. Kini malah memanjat bukit?


"Adik perempuan Anda mendaki bukit? Jadi orang yang ada di sana adalah tunangan Putra Mahkota??" tanya pangeran Daniel, tampak terkejut.


Bahkan pangeran Daniel sampai menunjuk ke arah Nathania di atas sana, dengan menggunakan telunjuknya.


Tapi di sisi lain, Daniel merasa sedikit familier dengan punggung dan postur tubuh dari orang yang dikenal sebagai adik perempuan Tuan Carlos dan tunangan kakak lelakinya.


"Benar, yang mulia. Dia adalah calon putri mahkota negeri ini," cicit Tuan Carlos, sedikit malu karena harus mengakui gadis bar-bar yang ada di sana adalah calon pendamping Putra Mahkota kekaisaran mereka.


"Putri mahkota seperti itu? Memang untuk alasan apa dia sampai memanjat bukit dengan kedua kakinya sendiri?! Apakah kediaman Duke kekurangan pelayan untuk menjalankan perintah Tuannya?"


"Seandainya saja adik perempuan saya tidak memiliki sikap keras kepala, mungkin para pelayan yang sudah naik ke sana untuk mencari obat-obatan yang dia maksud. Tapi dia bersikeras untuk mencari obat-obatan itu dengan kedua tangannya sendiri." Tuan Carlos menghela napas panjang dan melihat dua orang ksatria yang membawa dua ekor kuda untuk mereka. 


"Adik perempuan saya memang seperti tidak memiliki etika. Tapi dibalik sikapnya yang kasar dan seenaknya, dia selalu memikirkan orang lain." Tuan Carlos memandang ke arah Nathania yang sudah cukup jauh dari tempat mereka berdiri. "Bahkan alasan dia naik ke sana saat ini adalah karena tidak ingin membebani para pelayan yang sudah sibuk merawat para penduduk. Bukankah itu tujuan yang sangat mulia?" tanyanya, terlihat jelas kalau Tuan Carlos sangat bangga dengan adik perempuannya.


Pangeran Daniel hanya diam dan mengambil tali kuda yang diberikan oleh salah satu pengawal kepadanya.


Pangeran Daniel tidak banyak berbicara dan segera menyusul langkah pangeran Justin. Begitu pula dengan Tuan Carlos, yang sudah pergi lebih dulu untuk menjemput adik perempuannya.


"Yang Mulia, tolong ikutlah dengan saya. Tuan Carlos akan membawa adik perempuannya," ucap pangeran Daniel, menghentikan langkah pangeran Justin.


Justin mengangguk mengerti dan segera naik ke atas kuda. Lantas mereka menunggang kuda ke arah Tuan Carlos dan Lady Nathania.


"Bagaimana? Sudah berhasil menemukan obat-obatan yang kamu butuhkan?" tanya Tuan Carlos, turun dari kudanya dan mendekati Nathania yang sedang menggali tanah dengan cangkul kecil.


Nathania yang sibuk, tidak bisa melihat tiga orang lelaki yang datang menghampirinya.


Berbeda dengan pangeran Daniel, yang langsung termenung saat melihat adik perempuan yang selama ini dia cari di berbagai belahan dunia.


Daniel menghela napas panjang dan tersenyum tipis. "Akhirnya aku bisa menemukanmu, Erika!"