Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 14



Langkah kakinya yang di balut sepatu hak tinggi, benturan ujung sepatu dengan lantai tempat dia memijak, cukup menggema ketika dia melangkah anggun menuruni tangga.


Semua orang masih terdiam dengan berbagai reaksi wajah mereka yang beragam. Tapi yang lebih mendominasi adalah, tatapan terkejut saat mereka melihat Putri bangsawan yang berbicara kotor. Terlebih lagi, dia baru saja menghina pasukan Kekaisaran dan Putra Mahkota Kekaisaran ini.


Tanpa gentar walau sudah melihat semua ujung pandang para ksatria mengarah padanya, Nathania masih berjalan dengan begitu anggun menuruni tangga dan meninggalkan tempatnya.


Ekspresi wajahnya yang dingin dan rahang yang kaku, membuat manik mata lelaki berstatus Putra Mahkota itu, tidak bisa lepas dari Nathania.


Setahu Putra Mahkota Justin, wanita yang akan menikah dengannya bukanlah wanita yang memiliki karakter tegas dan liar seperti ini.


Dia sudah bertemu Nathania dua kali. Dan di dalam pertemuan itu, jelas-jelas dia melihat Nathania selalu bersikap sopan dan anggun di depannya. Seperti wanita bangsawan yang lain, yang suka menjaga imagenya di depan para lelaki.


Tapi ada apa dengan karakter wanita itu yang sekarang?


Walaupun sama-sama di balut dengan gaun indah nan cantik saat membentuk pinggangnya yang ramping, tapi perkataan dan sorot mata yang di tunjukkan Nathania sama sekali tidak bisa dikenali oleh Putra Mahkota Justin.


Bukannya marah, Putra Mahkota Justin malah lebih bingung harus menghadapi seperti apa gadis unik di depannya ini.


Walaupun sikap Nathania kurang ajar, tapi kurang lebih Putra Mahkota Justin sedikit paham kenapa gak di situ sampai marah kepada mereka.


"Sudah datang tanpa memberi kabar! Lalu bertamu dengan membawa kerusuhan di rumah orang lain? Apakah Anda tidak memiliki etika bertamu, Yang Mulia?!" celetuk Nathania, alangkah kakinya sampai di depan Putra Mahkota Justin.


Nathania berdiri dengan jarak dua anak tangga di depan Putra Mahkota Justin. Membuat tinggi badan mereka sejajar. Dan kedua manik mata yang berbeda warna itu saling menatap lurus dengan mudah, tanpa adanya adegan mendongak ataupun menunduk.


"Anda mengikat semua rakyatku tanpa seizin Ayah. Tidak sopan! Anda tidak bisa menghargai orang yang lebih tua dari Anda?!" marah Nathania, sambil berjalan melewati tubuh Putra Mahkota Justin dan berjalan lurus ke arah para rakyatnya.


Pandangan Putra Mahkota Justin tidak bisa lepas dari Nathania. Kedua bola matanya terus mengikuti ke mana Nathania pergi dengan patuh tanpa ada yang meminta.


Para pengawal yang tadinya waspada, kini mulai menurunkan senjata mereka sesuai arahan Putra Mahkota Justin.


Justin masih diam, menatap lurus ke arah Nathania yang mendekati seorang anak kecil yang sedang menangis dengan tubuh gemetaran karena takut.


Sssttt ....


Nathania mendesis, meminta anak kecil itu untuk diam dan tidak menangis. Tidak lupa dengan jari telunjuknya sudah ada di depan bibir, mengisyaratkan kalau dia meminta semua anak yang sedang menangis ataupun orang yang tengah merintih kesakitan berhenti mengeluh.


Sruk!


Satu persatu tali yang mengikat tangan dan kaki para rakyatnya, dilepaskan oleh Nathania dengan mudah menggunakan ujung pedang yang dia bawa.


"Terima kasih, Yang Mulia." Beberapa rakyat berucap dengan tubuh yang masih gemetaran ketakutan, mengingat para ksatria Kekaisaran masih berada di sekitar, dengan tatapan yang setia mengawasi pergerakan mereka.


Nathania kembali memandang lurus ke arah Putra Mahkota Justin. Kini pekerjaannya sudah selesai untuk menjadi pahlawan kesiangan para rakyatnya.


Jadi Nathania memutuskan untuk kembali berfokus pada mantan tunangannya, yang datang karena tidak terima pernikahan mereka di batalkan secara sepihak, dari pihak perempuan.


"Anda datang untuk berbicara dengan saya, bukan? Bukan untuk menyandera para rakyat saya ini, kan?" tanya Nathania, memberikan pedang yang dia bawa pada salah satu prajurit dari kediaman Ayahnya.


"Ya," jawab Putra Mahkota Justin, singkat.


Nathania mengangguk mengerti dan berdiri di depannya. "Baik. Mari bicara di rumah kaca. Untuk para rakyat yang berusaha Anda sandera, saya harap Anda tidak melakukan tindakan gegabah sebelum keluarga saya meminta izin terlebih dahulu pada Kaisar untuk masalah ini."


Nathania menatap lurus pada lawan bicaranya, yang dari tadi hanya diam dan terus memperhatikannya dengan tatapan lekat.


"Baik, mari pergi."


Nathania mengangguk dan mengikuti selangkah Putra Mahkota Justin yang membimbing langkahnya menuju rumah kaca, yang tampaknya dia tahu jelas di mana letaknya.


Duke Carlin beserta keluarganya yang lain, hanya bisa diam kaku melihat semua reaksi Putra Mahkota Justin ataupun kelakuan anak ketiganya.


"Kalau sampai berita hari ini terdengar di telinga Kaisar, mungkin besok semua keluarga kita akan di eksekusi karena tuduhan pengkhianatan pada keluarga Kerajaan!" celetuk Carlos, lagi-lagi membuat spekulasi yang membuat semua keluarganya menghela napas lelah.


"Semoga tidak sampai seperti itu!" celetuk Eveline, tidak ingin membayangkan apa yang diucapkan Kakak pertamanya tadi. "Aku masih ingin memiliki buah hati dan bertemu suamiku setiap hari. Ugh ... tindakan Nathania memang ceroboh! Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, karena perkataan dan tindakannya untuk rakyat kita juga tidak ada yang salah," pekiknya, berada dalam dilema.


***


Nathania duduk di bangku kayu panjang, yang tersedia di rumah kaca itu. Sementara Putra Mahkota Justin hanya berdiri dan memperhatikannya dalam diam.


"Anda tidak ingin menyampaikan apa yang ingin Anda sampaikan tadi??" tanya Nathania, memandang lawan bicaranya dengan tatapan lekat.


Putra Mahkota Justin tidak segera mengatakan keinginannya dan hanya terus memandang Putri Nathania.


"Yang Mulia?" panggil Nathania, segera membuyarkan lamunan lelaki itu.


"Ya? Anda memanggil saya?" tanya Putra Mahkota Justin, membuat Nathania mendengus kasar dan memalingkan wajahnya dari Putra Mahkota Justin.


"Kalau Anda tidak ingin berbicara, saya akan undur diri. Selamat-"


"Tunggu! Aku datang karena ingin bertanya tentang pembatalan pertunangan kita yang tiba-tiba ini. Tanpa memberikan alasan, Kenapa kamu ingin membatalkan pertunangan kita? Bukankah kamu menyukaiku?" tanya Putra Mahkota Justin, menahan pergerakan Nathania dengan mengikis jarak di antara wajah mereka.


Nathania memiringkan kepalanya, menyipitkan matanya dan memandang Putra Mahkota dengan tatapan intens.


"Pede sekali!" celetuk Nathania, setelah itu.


Putra Mahkota langsung menarik kembali wajahnya, yang sempat mendekat pernah ingin melihat wajah Nathania dengan lebih jelas.


"Berani sekali. Kamu tidak takut padaku?" tanya Putra Mahkota Justin, menatap lurus pada Nathania yang bahkan enggan melihatnya.


"Kalau saya takut kepada Anda, bukankah dari tadi saya sudah menghindar dan terus bersikap sopan kepada Anda?" Nathania memalingkan wajahnya ke arah Putra Mahkota Justin. "Jadi, apakah saya masih terlihat segan kepada Anda?"


Putra Mahkota Justin terdiam. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan memandang ke sekeliling dengan sesekali menghela napas panjang.


"Baik, terserah padamu, Lady. Tapi satu hal yang aku minta." Putra Mahkota Justin memandangnya dengan tatapan lurus. "Tolong jangan batalkan pernikahan kita!"