
Azel merasakan guncangan yang begitu hebat dari kuda yang mereka tunggangi.
Bukan tanpa alasan, itu semua berkat Nathania yang terus berusaha membuka jalan untuk mereka, dengan melawan para Undead itu seorang diri.
Azel yang masih kecil dan tidak tahu caranya menggunakan pedang dengan benar, hanya mampu menatap kagum sosok Kakak perempuannya.
Melihat seorang wanita yang pandai menggunakan pedang, terutama saat dia sedang menggunakan gaun yang cantik dan bisa saja, sangat menghalangi pergerakannya! Menurut Azel ini sangat hebat dan patut dia jadikan panutan.
Kini panutannya tidak lagi Kakak tertua mereka, Carlos! Melainkan Kakak ketiganya, Nathania. Wanita hebat dengan tangan besi yang cerdas. Kini, Azel benar-benar menyukainya, lebih dari apa pun!
Sementara itu ....
Saat mereka sampai di dekat barak kesatria, tempat para prajurit kediaman mereka tinggal. Area belakang itu tampak sepi dan lenggang dari bahaya.
Ternyata di sana, benar-benar tidak ada Undead yang muncul. Apa karena dinding belakang rumah mereka yang tinggi?
Karena itulah, para Undead tidak bisa di menerobos masuk?! Undead yang buta, tentu saja tidak bisa melihat apa yang ada di depan mereka, kan? Terutama dinding tinggi itu, mereka tak akan pernah bisa memanjatnya.
"Di mana gudangnya?" tanya Nathania, pada Azel yang dari tadi hanya diam di belakangnya, sambil memeluknya erat.
Azel memiringkan kepalanya melewati punggung Nathania yang menghalangi pandangannya. "Itu di sana!" ujarnya, memberi tahu sambil menunjuk ke arah gudang kecil yang ada di bagian tenggara.
Nathania pergi ke arah itu dengan kudanya dan melihat kandang kuda yang ada di bagian kiri tempat itu.
"Struktur bangunan yang aneh! Bisa-bisanya mereka membuat kandang kuda di dekat penyimpanan minyak yang gampang terbakar," gumam Nathania, dapat di dengar oleh Azel dengan jelas.
"Itu karena, tempat itu jauh dari rumah dan barak prajurit. Dengan begitu, mereka tidak akan mencium bau kotoran kuda!" jelas Azel, hanya mendapatkan anggukan kepala dari Nathania.
"Benar yang ini, kan?" tanya Nathania, menatap gubuk kecil yang ada di depan mata mereka.
"Iya, Kak. Yang ini!" jawab Azel, meyakinkan.
"Baiklah."
Nathania segera turun dari kuda bersama dengan Azel. Mereka masuk ke gudang, yang dimaksud oleh Tuan Johan tadi.
Kriet ....
Nathania membuka pintu kayu yang sudah lapuk itu perlahan-lahan. Kedua matanya melihat banyak tabung yang terbuat dari kayu, terisi minyak tanah.
Azel juga ikut masuk ke dalam dan melihat-lihat. Karena dia juga tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu.
"Kak, kamu mau menggunakannya untuk apa?" tanya Azel, saat melihat Kakak perempuannya sedang berusaha memindahkan suatu tabung besar minyak tanah ke wadah yang lebih kecil.
"Jangan banyak bicara dan bantu aku. Kita harus segera memindahkannya ke dalam tabung 5 liter ini, agar bisa di naikkan ke atas kuda," perintah Nathania, segera membuat Azel bungkam dan lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Mereka berhasil memindahkan 15 liter minyak tanah ke atas kuda. Kini Azel sudah naik terlebih dahulu dan menunggu Nathania yang entah kenapa masuk ke dalam gudang yang satu lagi dengan membawa kayu yang cukup besar.
Beberapa saat kemudian Nathania keluar dengan membawa obor yang sangat besar dengan api yang berkobar ganas.
"Azel, aku dengar dari Kak Carlos kalau kamu bisa menggunakan sihir. Apakah kamu benar-benar bisa melakukannya?" tanya Nathania, sebelum dia naik ke atas kereta kuda dan memandang Adik lelakinya dengan tatapan lurus dan penuh ketegasan.
Azel mengangguk singkat dan mantap. "Ya, bisa melakukannya."
Nathania mengangguk dan segera naik ke atas kuda mereka kembali. "Sekarang aku membutuhkan kemampuan itu. Aku harap kamu tidak mengecewakan!"
Berbanding terbalik dengan Evelin, anak kedua dari Duke Carlin, Kakak perempuan mereka berdua, yang begitu kuat dalam bertarung tapi tidak dengan pedang, melainkan dengan lidah tajamnya!
***
Nathania kembali ke tempat kerumunan, dia melihat beberapa prajurit mereka yang sudah tumbang dengan ekspresi wajah dingin. Surat matanya yang tajam membuat beberapa orang sempat takut.
Terlebih lagi, Duke Carlin! Yang memang dari awal tidak pernah tahu kalau Nathania memiliki tatapan mata yang sangat tajam seperti elang.
"Azel, pindahkan keluarga kita ke ibukota. Aku dengar di sana Ayah memiliki tempat singgah. Bisakah kamu melakukan itu?" tanya Nathania, membuat Azel terkejut bukan main.
"Se-semua orang? Lalu bagaimana dengan Kakak?"
"Aku akan menyusul kalian setelah menyelesaikan urusan di sini. Semakin banyak orang yang bisa kamu pindahkan ke sana, maka semakin baik." Nathania memandang wajah Azel yang tampak ragu. "Ini demi kebaikan kita bersama. Bisakah kamu melakukannya?" tanyanya, kembali. Namun kali ini lebih seperti memohon untuk meminta sesuatu.
Azel menghela napas panjang dan membuat kedua bahunya menjadi lebih rileks. Dia mengulurkan kedua tangan ke arah depan sambil membukanya perlahan-lahan.
Duke Carlin yang melihat pergerakan itu, langsung memandang kedua anaknya yang akan berulah.
"Jangan lakukan hal yang bisa membuatku marah!" bentak Duke Carlin, menuju kedua anaknya dengan ekspresi yang mengerikan.
"Jangan pedulikan Ayah dan pindahkan mereka semua ke tempat itu. Aku akan segera menyusul kalian setelah-"
Wusss ....
Belum selesai Nathania berucap, tapi semua orang sudah dipindahkan ke sesuai arahan Nathania.
Namun sayangnya, Azel masih tinggal bersama dengannya digoda itu.
Nathania mengurutkan keningnya dalam, menatap wajah Adiknya yang pucat pasi setelah menggunakan sihir, dengan tatapan tajam.
"Kau membuang terlalu banyak tenaga untuk menyelamatkan orang-orang tanpa menyelamatkan dirimu sendiri. Tindakan kamu itu sangat tercela," marah Nathania, membuat Azel tersenyum.
"Karena aku adalah Adik Kakak. Jadi aku akan meniru tingkah bodoh yang Kakak maksud. Menyelamatkan orang tanpa menyelamatkan diri sendiri. Sikap kepahlawanan yang konyol!" celetuk Azel, cukup membuat emosi Nathania naik-turun.
"Hahhh ... terserah dirimu saja. Yang jelas, jangan sampai mengganggu pergerakanku! Karena makan membuat pemandangan yang sangat buruk dari pada pemandangan seusai perang di medan perang."
Mendengar hal itu, Azel hanya tersenyum dan menyandarkan punggungnya pada dada Nathania.
Nathania mulai mengambil minyak tanah dan memacu kudanya untuk berlari mengelilingi rumah.
Memandikan Undead yang ada di dalam rumah itu dengan minyak tanah secara merata, sampai akhirnya Nathania berjalan keluar dari gerbang.
Dia turun dari atas kuda, dan menutup pintu gerbang besi itu dengan sekuat tenaga, lalu melemparkan obor yang dari dia genggam ke dalam rumah itu.
Tempat di saat itu, semua Undead yang ada di dalam sana menjadi lautan api. Terbakar hidup-hidup dan suara teriakan mereka, hampir sama persis seperti lolongan anjing gila di tengah musim dingin.
Azel yang terus berada di atas kuda, juga menyaksikan pemandangan buruk itu dengan kedua mata yang sayu.
Dia sudah tidak memiliki tenaga. Namun melihat Kakak perempuannya berdiri di depan gerbang sambil menyaksikan pemandangan mengerikan itu dengan berani, kedua mata Azel yang terasa berat sampai tidak rela tertutup.
"Dia memang perempuan hebat!" batin Azel, lagi-lagi di buat kagum oleh sosok Kakaknya, Nathania.