Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 7



"Nona, sekarang Anda ingin pergi ke kerajaan?' tanya Sabrina, mengikuti ke mana pun Nathania pergi.


Nathania menghentikan langkahnya, menoleh pada Sabrina sebelum mengerutkan keningnya cukup dalam. Mendengar pertanyaan tidak masuk akal dari pelayan perempuannya, Nathania jelas dibuat bingung.


"Tidak, kata siapa aku akan pergi ke kerajaan?" tanya Nathania, menatap lekat kedua manik mata hijau milik Sabrina.


Sabrina mengerjapkan matanya beberapa kali, menunjukkan ekspresi lugu nan polos. "Bukan ya? Saya dengar dari beberapa pelayan yang keluar dari ruang makan, mereka membicarakan tentang Anda yang akan segera pergi ke kerajaan. Sepertinya saya salah mendengar berita itu," gumam pelayan muda itu, berpikir keras.


Nathania menggelengkan kepalanya. "Jangan memikirkan omongan mereka. Saat di ruang makan, kepala pelayan memang sedikit menyinggung tentang putra mahkota. Tapi ayah sudah marah kepadanya tadi. Tapi ya tetap saja, amarah ayah yang hanya terlihat menakutkan di luar itu, tidak akan bisa menghentikan mulut para pelayan yang suka bergosip. Bukankah begitu?" celetuknya, menoleh singkat ke arah Sabrina yang mengulas senyuman tipis sambil mengangguk pelan.


"Anda benar, Nona. Para pelayan memang selalu bergosip sepanjang waktu. Padahal pekerjaan mereka sudah cukup banyak, tapi mulut mereka juga selalu bekerja keras. Saya heran, kenapa mereka memiliki tenaga yang lebih untuk berbicara tapi tidak untuk bekerja?!" Sabrina menggelengkan kepalanya pelan. "Saya sempat mengingat kejadian saat kepala pelayan menambah jam kerja para pelayan. Tapi mereka semua menolak secara serempak, seperti orang yang tidak tahu diri. Padahal kepala pelayan sudah bilang kalau gaji mereka juga akan naik. Benar-benar tidak berterima kasih!" keluhnya, terlihat jengkel.


Nathania yang mendengar itu hanya tersenyum, dan langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki datang dari balik ruangan gelap, yang ada di ujung lorong itu.


Sabrina langsung menundukkan kepalanya dalam, seakan menghindari kontak mata dengan lelaki berbadan besar dengan wajah menyeramkan yang ditutupi rambut lebat di bagian dagunya.


"Paman!" celetuk Nathania, tiba-tiba secara spontan saat melihat lo lagi itu.


Padahal Nathania tidak berniat memanggilnya, karena dia merasa tidak kenal. Tapi kenapa mulutnya tiba-tiba menyeletuk sebutan itu?


Nathania yang merasa aneh, hanya bisa memandang bingung ketika lelaki yang dia panggil sebagai "Paman" benar-benar berhenti tepat di hadapannya, dan memandangnya dengan tatapan tajam nan menusuk.


"Apa?!" tanya lelaki berjanggut tebal itu, melemparkan tatapan horor pada keponakannya yang terlihat lugu dan polos.


Nathania sempat bingung, sampai akhirnya sebuah senyuman lebar namun terlihat masam terbit di bibirnya. "Hehehe ... tidak ada, Paman. Maaf sudah mengganggu perjalanan Anda," celetuknya, membungkukkan badannya dalam.


"Julian," celetuk lelaki berjanggut tebal itu, mengundang perhatian Nathania ataupun Sabrina.


Kedua gadis itu saling melirik satu sama lain, sebelum akhirnya Nathania memberanikan diri untuk melihat wajah Pamannya.


"Ya?" cicit Nathania, setengah takut tapi tubuhnya tidak sampai gemetaran.


"Namaku Julian. Aku dengar dari tabib keluarga kalau kamu kehilangan ingatanmu dan tidak mengingat sama sekali tentang keluarga ataupun masa lalu kamu. Jadi aku pikir, sebaiknya aku memperkenalkan diri," jelas lelaki berjanggut tebal itu, tanpa ada maksud jahat.


Nathania mengangguk ambigu. "Ah ... ternyata nama Anda, Paman Julian." Nathania mengangguk dengan yakin dan segera mengulas senyuman lembut. "Terima kasih sudah memberitahuku tentang nama Anda, Paman!" ucapnya, sambil menatap lurus wajah lawan bicaranya.


Julian tersenyum segaris, membuat Sabrina yang melihat hal itu langsung terperangah. Dia tidak pernah melihat Paman Julian tersenyum. Tapi saat melihatnya hari ini, dia memiliki wajah yang cukup tampan walaupun jenggotnya sangat mengganggu.


"Tidak perlu berterima kasih. Kalau begitu Paman pergi dulu. Aku harus segera bertemu dengan ayahmu untuk membahas proposal tentang pernikahanmu dengan putra mahkota. Aku harus meminta Carlin untuk membatalkannya! Karena hal ini, aku sampai hampir kehilangan peninggalan satu-satunya kakakku."


Setelah mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang tegas, Paman Julian pergi meninggalkan kedua wanita tersebut, tanpa mengucapkan salam perpisahan. 


Nathania segera menoleh ke arah pelayan perempuan, Sabrina. "Dia benar-benar Pamanku? Aku mau memanggilnya tanpa sadar! Karena itu aku terlihat sangat canggung saat dia benar-benar menanggapi panggilanku." Nathania memalingkan wajahnya sedikit, dan bergumam, "Padahal aku kira dia tidak akan berhenti walaupun aku memanggilnya dengan cara berteriak. Tapi siapa sangka, dia cukup memperhatikanku."


Sabrina mengulas senyuman lembut dan memandang Nona-nya dengan tatapan teduh. "Anda mungkin lupa, walaupun Tuan Julian sangat ditakuti oleh semua pelayan ataupun saudara Anda, tapi dia tidak pernah sekalipun mengusik ketenangan hidup Anda. Bahkan beliau selalu mendukung Anda dari belakang, dengan caranya sendiri."


Nathania termenung ketika mendengar penjelasan itu. Dia memang tahu kalau Paman Julian-nya, seperti orang yang sangat memperhatikan dirinya. Tapi saat mendengar penjelasan Sabrina secara langsung, Nathania semakin yakin kalau lelaki berwajah menakutkan itu sangat menyayangi dirinya lebih dari apa pun.


"Katanya aku satu-satunya peninggalan kakaknya." Nathania kembali memandang Sabrina dengan tatapan ragu. "Apakah wajahku mirip dengan ibu kandungku? Karena aku dengar, ibunda bukanlah ibu kandungku."


Sabrina menganggukkan kepalanya antusias. "Sangat mirip, Nona. Hanya saja rambut Anda coklat pekat seperti Tuan Duke. Selebihnya, benar-benar mirip seperti nyonya pertama. Jika Anda bersanding bersama dengan nyonya pertama, dan memiliki rambut yang sama, mungkin semua orang di kerajaan ini akan mengira Anda adalah adik kembarannya. Hahaha ... saya mengatakan itu karena Anda benar-benar mirip dengan beliau."


Nathania mengulas senyuman lembut. Mendengar pernyataan itu, membuat dirinya ingin tahu sekali lagi potret sang ibu yang ada di ruang kerja ayahnya, yaitu Duke Carlin.


"Seandainya foto itu tidak dipajang di ruang kerja ayah, sekarang pasti aku akan berlari untuk melihat lukisan ibu sesuka hati. Sangat disayangkan, lukisan itu diletakkan di ruangan pribadi ayah!" gumam Nathania, terlihat sedikit kecewa.


Sabrina hanya diam dan menundukkan kepalanya, ikut merasa sedih dan menyayangkan hal yang sama. "Mungkin jika Anda yang meminta, Tuan Duke akan bersedia mengalah. Besok, cobalah minta kepada Tuan Duke agar memasang potret nyonya di kamar Anda juga. Saya yakin, beliau yang sekarang pasti akan mengabulkan permintaan remeh itu," ucapnya, penuh keyakinan.


Kedua alis Nathania bergelombang dengan samar, menunjukkan ekspresi ragu pada perkataan sang pelayan.


"Benarkah? Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi sesuai dugaanmu, Sabrina. Karena aku pun tahu, seberapa besar ayah sangat menyayangi lukisan itu. Bahkan aku sampai bisa merasakan kekuatan sihir yang sangat kuat di sekitar pigura lukisannya." Nathania mengulas senyuman masam.


"Sepertinya ayah sengaja memasangnya, agar warna di lukisan ibu tidak memudar. Kalau begitu, masih mampukah aku meminta hal yang benar-benar dia jaga?" ucap Nathania, sambil mengulas senyuman masam.