Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 23



Wushh ....


"Ibu apa yang ada di atas sana?!" seru seorang anak lelaki berusia 5 tahun, menunjuk ke atas awan yang terdapat beberapa gumpalan merah turun ke bumi.


Para orang dewasa memandang ke atas. Melihat banyaknya makhluk besar yang berjatuhan ke permukaan tanah yang mereka pijaki.


"La-lari!!" teriak seseorang, saat salah satu di antara mereka berubah menjadi makhluk mengerikan dengan gigi taring yang mencuat dari dalam bibirnya.


Mendengar suara itu, orang-orang berlari masuk ke dalam rumah menutup semua pintu dan berdiam diri untuk melindungi dirinya.


Para ksatria Kekaisaran membawa kuda mereka berlari ke arah pemukiman penduduk. Berusaha menenangkan para rakyat yang berteriak meminta tolong karena banyak makhluk aneh turun dari langit dan berusaha memangsa mereka.


Sementara para kaum penyihir sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memasang penghalang agar para makhluk yang berjatuhan dari langit tidak dapat turun secara langsung ke wilayah pemukiman penduduk.


Tapi para ksatria dan para penyihir itu fokus melindungi kerajaan. Lantas itu membuat para rakyat merasa resah dan marah.


Padahal keluarga kerajaan tidak lebih banyak dari mereka. Tapi bisa-bisanya para penguasa itu haus akan perlindungan dan membiarkan rakyat mereka terlantar.


Tak ada yang melindungi mereka, hanya diri mereka sendiri yang bisa diandalkan dalam kondisi ini.


Banyak desa kecil yang menjadi santapan empuk bagi para makhluk kegelapan itu. Padahal seluruh Prajurit yang menjaga perbatasan sudah berjuang sekuat tenaga untuk menghalau semua serangan.


Tapi hari itu terasa sangat menyakitkan bagi semua orang yang menggenggam pedang dan memiliki kekuatan sihir. Mereka harus mati-matian melawan para makhluk kegelapan yang datang tanpa surut dan terus pasang!


Woshhh ....


Angin berembus dengan kuat saat seorang perempuan berjubah hitam muncul dengan membawa bola hitam di tangannya.


Surai hitam yang halus dan mengkilap terlihat sangat cantik di bawah sinar matahari yang terik. Bola matanya yang kini berwarna merah, tampak menyala seperti api di dalam kegelapan.


Para ksatria yang mulai lelah dengan peperangan tanpa usai ini, merasa sangat tertolong melihat penyihir perempuan yang berkekuatan jitu membantu mereka tanpa mengeluh sedikit pun.


"Erika, kamu tidak boleh menggunakan kekuatanmu terlalu banyak! Ingatlah, kamu sudah lama tidak menggunakan sihir. Aku takut tubuhmu terkejut dan membuat kamu lemah!" ucap seorang lelaki, berbicara dari atas genting dengan mengatur embusan angin menyakitkan yang sudah dicampur dengan bubuk racun khusus pembasmi iblis.


Gadis bernama Erika itu tampak acuh dan terus melangkah maju untuk membereskan sisa makhluk yang tingkat kemampuannya lebih tinggi daripada kemampuan para ksatria.


"Terima kasih atas bantuan Anda, Nona Nathania. Saya tidak menyangka keluarga penyihir Duke Carlin memiliki kemampuan mematikan seperti ini," ucap salah seorang ksatria, yang tampaknya bisa mengenali dengan jelas rupa Erika.


Erika menatap lagi itu dengan tatapan dingin dan menusuk, lantas berjalan pergi meninggalkannya tanpa menunjukkan sikap ramah padanya yang baru mengucapkan terima kasih.


"Hahaha ... jangan panggil dia dengan nama itu, Tuan Ksatria. Adik perempuanku tidak suka dipanggil dengan nama gadis yang sudah meninggal!" celetuk David, membuat mata para ksatria yang masih sadar, membulat dengan sempurna saat mengetahui Pangeran Kedua mereka berbicara dengan kelakar yang tidak sopan.


"Yang Mulia, apa yang Anda lakukan di atas sana? Kenapa Anda tidak berada di istana Kekaisaran?! Yang Mulia Kaisar pasti sudah menunggu Anda," ucap beberapa Prajurit, tanpa khawatir.


David mengulas senyuman simpul dan menoleh ke arah Erika, yang masih sempat melirik ke arahnya dengan tatapan tajam, walau kedua tangannya sudah sibuk menghalau serangan demi serangan para musuhnya.


Erika kembali fokus ke depan dan tidak mengurus urusan kakak lelakinya. Dia harus memiliki cukup fokus untuk tidak membiarkan seorang musuh pun lolos dari serangannya.


"Aku bukan Pangeran Kedua seperti yang kalian tahu. Namaku adalah David! Dan aku juga berasal dari dunia lain sama seperti para makhluk itu. Sayangnya, seseorang tidak membiarkan kami berdua berubah wujud mengerikan seperti makhluk-makhluk di depan sana," jelas David, mengulas senyuman smirk.


Para Prajurit itu tampak bodoh. Mereka tidak paham dengan apa yang dikatakan David dan hanya terus memandangnya sebagai Pangeran Kedua dari anak Kaisar mereka.


"Yang Mulia, tolong turunlah dari sana. Anda bisa jatuh!" ucap seorang pelayan perempuan yang mengenalkan baju zirah, sama seperti para Prajurit, tengah memandangnya dari bawah dan berharap kalau Pangeran Keduanya bisa mendengarkan sarannya.


Selena tidak bisa berdiam diri saat melihat Pangeran Kedua mereka sedang duduk di atas sebuah atap yang tinggi, dengan posisi yang cukup mengkhawatirkan.


Lantas lelaki itu malah tersenyum saat melihat raut khawatir Selena yang terpampang nyata di wajah cantiknya.


"Nona Selena, apakah Yang Mulia Ratu yang memintamu bergabung dalam perang?!" tanya David, mengenali dengan jelas identitas tangan kanan Ratu Eleanor.


Selena menganggukkan kepalanya mantap sebagai jawaban pertanyaan itu.


David mengangguk paham dan berdiri dari posisi jongkoknya. Menatap ke depan, melihat adik perempuannya yang sangat sibuk mengurus ini dan itu dengan gerak tangan yang sangat cepat.


"DAVID! Sampai kapan kau memintaku menyelesaikan ini sendirian lelaki sial?! teriak Erika, cukup geram melihat kakak lelakinya yang hanya bersantai dan berbicara dengan beberapa ajudan dari Kekaisaran.


David yang dipanggil dengan suara lantang dan intonasi kasar itu, langsung tertawa terbahak-bahak dan meloncat ke arah Erika dalam sekali gerak.


Para pelayan yang sempat bertegur sapa dengan Pangeran Kedua mereka, kini malah terdiam dan menyaksikan kedua orang yang ada di depan sana dengan tatapan kagum.


"Bukankah itu Lady Nathania dari kediaman Duke Carlin? Mengapa beliau bisa bersanding dengan Pangeran Kedua?!" salah seorang Prajurit menoleh ke arah Selena. "Apakah berita tentang mereka yang menjalin hubungan di belakang putra mahkota memang benar, Nona?" tanyanya, melakukan kebingungan temannya yang lain.


Selena menatap tajam pada tiga orang Prajurit tersebut. Seakan memperingatkan mereka untuk menjaga mulutnya.


"Jika kalian tidak memiliki pekerjaan, kembalilah Kekaisaran untuk membantu para pengawal yang lain melindungi Raja dan keluarga Kekaisaran." Selena menatap mereka dengan tatapan merendahkan. "Setidaknya itu akan cukup membantu daripada di sini hanya berbicara saja!"


Setelah mengatakan kalimat tajam itu, Selena berlari pergi meninggalkan ketiga ksatria tersebut dan bergabung bersama Pangeran Kedua serta Lady Nathania yang mampu mendorong mundur serangan para iblis itu dengan kemampuan berakhirnya yang hebat.


Tiga orang Prajurit itu saling memandang satu sama lain dengan tatapan penasaran.


"Nona Selena tidak pernah terlihat jutek, bukan? Lalu kenapa dia bersikap seperti itu hari ini?" tanya Prajurit kesatu, pada dua orang temannya lain.


Prajurit kedua dan Prajurit ketiga hanya mengangkat bahu mereka tak acuh.


"Sudahlah, jangan mengurus mereka bertiga! Kita lakukan saja tugas yang diberikan Nona Selena barusan."


"Ya, kau benar. Di dalam situasi seperti ini kita tidak boleh bersantai!" jelas Prajurit ketiga, setuju dengan perkataan Prajurit kedua.


Alhasil mereka bertiga Prajurit itu kembali Kekaisaran dan bertempur bersama para anggota Prajurit mereka yang lainnya.