Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 33



Pangeran Alexander memandang ke arah bisa orang manusia yang berdiri di hadapan yang dengan tatapan berharap.


"Jadi kalian ingin menyerang kaisar?" tanya Pangeran Alexander, pendapatan anggukkan kepala dari ketiganya.


Pangeran Alexander menghela napas lelah dan memandang keluar jendela dengan tatapan masam.


"Tapi bagaimana ya? Sayangnya aku sudah memenggal kepala lelaki itu karena sudah mengatakan hal buruk padaku beberapa hari yang lalu!" celetuk Pangeran Alexander, membuat ketiganya terkejut.


"E-eh? Lalu apa yang terjadi dengan istana? Mereka semua pasti kacau karena Anda memenggal kepala penguasaannya, kan?" seru Erika, terlihat begitu terkejut mendengar fakta tersebut.


"Yah, kamu bisa membayangkannya sendiri, kan? Tapi Putra Mahkota dari kerajaan itu malah ada di sini bersama dengan kalian. Pasti para anggota keluarga yang lain sudah berebut takhta itu." Pangeran Alexander memperhatikan kelakar Putra Mahkota Justin yang terlihat gelisah. "Dan, ini hanya sekedar saran. Tapi kalau kamu ingin mengamankan 2 adikmu, sebaiknya kamu segera kembali ke rumah."


Putra Mahkota Justin menatap lelaki itu dengan lurus. Raut wajah gelisah dan marah terlihat sangat jelas di wajahnya.


Tapi amarah yang dia perlihatkan bukan karena kematian sang ayah, kaisar yang memang akan berusaha mereka lengserkan dari posisinya, melainkan karena dia bertingkah gegabah tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Anda pasti sudah membuat dua saudara saya merasa kesulitan. Terutama hanya ada anak selir di sana. Saya yakin Selir Elena sangat bahagia karena bisa membuat putri Salvina naik tahta, karena tidak ada saya atau Pangeran Daniel di sana," celetuk Putra Mahkota Justin, sambil menunjukkan ekspresi buruk.


Namun Pangeran Alexander hanya mengangkat bahunya tidak peduli dan memperhatikan Erika dan David yang masih terus diam sambil memperhatikan percakapan mereka berdua.


"Aku sudah menyarankan kamu untuk segera kembali. Karena sudah tidak ada alasan kalian berada di sini!" Pangeran Alexander tersenyum. "Jadi aku akan membawa Erika pergi bersamaku kembali ke dunia bawah. Begitu juga dengan David!"


Putra Mahkota Justin terdiam. Dia memandang Erika dengan tatapan tidak rela. Tapi tampaknya Erika tidak masalah jika harus pergi dari dunia itu dan meninggalkannya.


Sungguh cinta bertepuk sebelah tangan yang tragis. Putra Mahkota Justin mengira kalau Erika, atau dulunya di kenal sebagai Putri Nathania adalah sosok gadis yang sangat mencintainya.


Tapi saat dia menyadari perasaannya terhadap wanita yang kini berubah menjadi Erika, Putra Mahkota Justin merasa kalau perlakuan yang kepada Nathania sanggatlah buruk sampai-sampai membuatnya bunuh diri.


"Pergilah, Yang Mulia. Lakukan kewajiban Anda sebagai seorang penerus kekaisaran. Banyak yang harus Anda lakukan, dan tidak sepantasnya Anda berhenti di tempat ini hanya karena seorang wanita!" ucap Erika, entah mengapa terlihat sangat mengerti kalau Putra Mahkota Justin sedang berpikir untuk membawanya pergi.


Putra Mahkota Justin menundukkan kepalanya sejenak. "Kau memintaku pergi agar kamu juga bisa pergi?" tanyanya, dengan suara miris dan wajah menyedihkan.


Dengan lantang Erika mengangguk. Tidak ada keraguan di dalam matanya. Gadis itu malah terlihat lebih bertekad sebab dia memang harus pergi dari tempat ini.


Putra Mahkota Justin mengangguk. "Baiklah kalau itu memang permintaanmu. Aku akan melakukannya."


Putra Mahkota Justin bangkit dari tempat duduknya, menatap tiga orang yang ada di hadapannya dengan tatapan lekat.


"Saya akan pergi sesuai permintaan Anda! Tapi izinkan saya melakukan sesuatu untuk mengenang semua jasa Anda," ucap Putra Mahkota Justin, menahan langkahnya sebelum dia pergi jauh meninggalkan tempat tersebut.


Erika dan David menatapnya dengan lurus, seakan bertanya apa yang ingin di lakukan Putra Mahkota dari kekaisaran Pritam itu.


"Apa itu, Yang Mulia?" tanya David, mewakilkan mereka berdua.


"Izinkan aku membuat patung kalian berdua. Aku akan memakannya di tengah-tengah kota pagar semua orang bisa melihat pahlawan sesungguhnya. Tolong izinkan aku untuk melakukan itu," ucap Putra Mahkota Justin, terlihat sedikit memohon.


"Baiklah, tidak masalah. Asal Anda bisa kembali ke sana dan melakukan tugas Anda dengan baik. Lalu, aku memiliki satu permintaan juga untuk Anda!" ucap David, masih menatap lurus ke lawan bicaranya.


Putra Mahkota Justin memperhatikannya dengan baik. "Katakan saja padaku, Tuan David. Sebisa mungkin aku akan mengabulkan keinginanmu," ucapnya, terlihat cukup bertekad.


David tersenyum dan memberikan sebuah kertas kepada Putra Mahkota Justin.


"Lakukan semua yang ada di daftar yang aku tulis di dalam kereta sini. Itu akan sangat membantu kerajaan Pritam keluar dari krisis," ucap David, sambil memberikan sebuah dokumen kepada Putra Mahkota.


Putra Mahkota Justin menerima benda tersebut dan menyimpannya tanpa membukanya terlebih dahulu.


"Baik, kalau begitu saya pamit sekarang. Terima kasih untuk semua kerja keras kalian berdua selamanya, dan terima kasih juga telah menjaga saya yang memilih kabur dari rumah seperti pemimpin tidak bertanggung jawab dan melarikan diri dari banyak masalah di sana," ucap Putra Mahkota Justin, membungkukkan badannya hormat dan memperlihatkan ekspresi bersyukur dengan tulus.


Erika dan David mengulas senyumannya.


"Jangan sungkan, Putra Mahkota. Kalau begitu, selamat jalan dan semoga Anda bisa menempuh kehidupan di masa ini dengan baik dan terus berada di jalan yang lurus!" ucap Erika, mendoakan Putra Mahkota Justin.


Lelaki itu tersenyum lembut sebelum akhirnya meninggalkan rumah tersebut dengan kudanya.


"Selamat tinggal, Putra Mahkota!" ucap Erika, mengulas senyuman masam dan menatap Pangeran Alexander yang sudah menunggunya mempersiapkan hati dari tadi.


"Kamu sudah siap untuk pergi?" tanya Pangeran Alexander, mengulurkan tangannya ke arah Erika.


Erika menganggukkan kepalanya dan menatap David, kakak lelaki yang mati di hari yang sama dan karena alasan yang sama di hari hujan itu turun.


Nyonya Sanah tersenyum melihat situasi mereka bertiga. Dia tidak mengatakan apa pun dan tidak melakukan apa pun untuk mencegah keduanya pergi meninggalkan dia, sendirian di tempat ini.


David yang mendengar dari tatapan sedih dari kurcaci berusia ratusan tahun itu, dengan senyuman lembut. "Saya sudah meminta Putra Mahkota Justin untuk membebaskan semua keluarga Anda, Nyonya."


David tersenyum dan meraih tangan Erika yang terulur kepadanya. "Kami akan pergi sekarang. Jangan lupa menjaga kesehatan dan yang lainnya. Dan, semoga Anda hidup dengan baik pula!!"


Setelah mengatakan hal itu, David dan Erika pun menghilang secara perlahan-lahan menjadi jutaan kelopak bunga yang di tiup angin musim semi.


Pangeran Alexander menjentikkan jarinya dan membuat Nyonya Sanah melihat putra yang telah lama meninggal, kini berapa di hadapannya dengan kondisi di simpan rapi di dalam peti mati dengan kondisi tubuh yang masih baik.


Nyonya Sanah menatap wajah Pangeran Alexander yang tersenyum  cerah.


"Anggap saja hadiah dariku. Kuburlah dia dengan baik. Dan selamat jalan, Nyonya! " ucap Pangeran Alexander, melambaikan tangannya.


Ketiga orang itu pun lenyap di terpa angin, menjadi taburan kelopak bunga yang membawa hujan bagi wilayah Pritam.


Hujan yang menyapu darah para penduduk dan siluman yang mati. Menjadikan hari itu awal mula kehidupan baru bagi siapa saja yang masih bertahan hidup dengan baik.


TAMAT