
"Jika hal seperti itu benar-benar terjadi! Tentu saja kami harus melanggar perjanjian seperti yang mereka lakukan, bukan?!" ucap kurcaci perempuan itu, dengan tegas.
***
Erika mengulas senyuman masam dan menggunakan sihirnya untuk menghadirkan sebuah hujan bunga kelopak Krisan putih yang sangat indah dan membuat kurcaci perempuan itu menangis saat itu juga.
Dia yang tinggal di hutan, bukan tidak tahu arti dari bunga tersebut.
Setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan dari manusia itu, dan mendapatkan kejutan sihir seperti ini. Tentu saja kurcaci perempuan itu peka dengan keadaan yang terjadi kepada keluarganya di dalam sana.
"Aku tidak akan melarangmu jika kamu ingin membalas dendam. Tapi ingatlah, tidak semua manusia yang ada di dalam sana benar-benar jahat. Tidak semua manusia yang ada di dalam sana ikut andil dalam melecehkan keluarga kamu sampai mereka tiada. Hanya keluarga bangsawan yang mengetahui hal ini dan rakyat kecil tidak bersalah sedikit pun," pesan Erika, sebelum dia masuk kembali ke dalam perbatasan.
Dia meninggalkan kurcaci perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu di sana sambil memeluk satu buket bunga Krisan yang diberikan Erika kepadanya.
Tuan Carlos mendekat ke arahnya dengan tatapan khawatir. Erika cukup lama berada di luar perbatasan dan berbicara pada kurcaci perempuan yang menjaga tempat itu.
Para manusia mengenal kurcaci perempuan itu sebagai sosok yang sangat sadis dan tidak memiliki belas kasihan.
Tapi melihat percakapan Erika dan kurcaci perempuan itu, Tuan Carlos merasa kalau kurcaci itu sebenarnya tidak jahat. Tapi memang dia sengaja berbuat seperti itu kepada kau manusia yang hendak menyeberang, agar mereka tidak berbuat nekat dan merugikan dirinya sendiri.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Nyonya kurcaci? Kamu berada di luar perbatasan dengan memakan cukup waktu. Untung saja kamu masih bisa masuk kembali, huff ... seandainya saja kamu terjebak di sana, aku tidak akan bisa melakukan apa pun untukmu!" ucap Tuan Carlos, tampak lega melihat Erika berdiri di depannya.
Erika tersenyum masam dan menggunakan sedikit sihir untuk menambal dinding perbatasan yang retak karena beberapa pukulan dari para Troll dan makhluk lain yang memaksa masuk ke dalam dunia manusia ini.
"Sesuatu yang seharusnya dia tahu sejak awal," ucap Erika, melirik sejenak ke arah kurcaci perempuan yang masih menangis itu, sebelum mulai melangkah pergi diikuti Tuan Carlos dengan kudanya.
"Pembicaraan seperti apa? Aku rasa kamu baru pertama kali bertemu dengannya. Memang fakta apa yang kamu berikan kepada-"
Tuan Carlos menghentikan ucapannya dan memandang Erika dengan tatapan tajam. "Jangan bilang kalau kamu memberitahu keadaan keluarganya di dalam istana!"
Erika melirik ke arah Tuan Carlos dengan tatapan tajam dan menusuk. Seakan memperingatkan lelaki itu untuk menjaga sikapnya.
"Jika memang itu yang aku katakan, Anda mau berbuat apa?" Erika kembali memandang ke depan dan berjalan pergi terlebih dahulu memimpin jalan mereka. "Jika hal itulah yang perlu diberitahukan padanya, bukankah seharusnya kalian yang memberitahukannya secara langsung? Bukan orang asing seperti diriku?!"
Mendengar perkataan tersebut, Tuan Carlos hanya diam dan menunjukkan kepalanya. Entah kenapa, setelah dia mengetahui identitas Nathania, adik perempuannya, dia menjadi sosok lelaki yang tidak pernah benar di matanya.
Tuan Carlos sampai berpikir, apakah semua kesalahan yang dia buat memang seburuk itu? Sampai-sampai Erika memperlakukannya seperti ini, dalam wujud adik perempuannya.
"Maaf, seharusnya aku tidak mendengarkan nasehat Raja ataupun Ayah untuk tutup mulut saat mengetahui keluarganya setelah tiada karena kekerasan para bangsawan. Seharusnya aku memberikan keadilan pada mereka. Maaf," cicit Tuan Carlos, tampaknya merasa benar-benar bersalah.
Erika hanya mendengus dan mempercepat langkah mereka agar segera sampai ke kediaman baru yang diminta David kepada raja secara langsung.
***
Klek ....
Erika dengan wajah masam, sementara Tuan Carlos dengan ekspresi bersalah dan menyedihkan.
David yang melihat ekspresi masam kedua orang itu, langsung mengerutkan keningnya dalam dan bertanya-tanya apa yang terjadi kepada mereka sampai mengeluarkan ekspresi seperti itu.
Tapi sekarang bukan waktunya. Karena di depannya sudah ada lelaki taruh baya yang memiliki pengaruh terkuat di Kekaisaran ini.
Ya, Kaisar datang secara langsung untuk melihat dua orang pemuda yang memiliki sihir terkuat dan menggemparkan semua berita di dalam Kekaisarannya.
"Carlos de Ellworth memberikan hormat kepada matahari Kekaisaran Pritam," ucap Tuan Carlos, menundukkan kepalanya hormat menyambut Kaisar.
Namun berbeda dengan Erika yang malah berjalan masuk ke dalam dapur dan menegak segelas air putih tanpa menghiraukan kehadiran Kaisar negeri ini.
Padahal sikap angkuh seperti itu, bisa saja membuat amarah Kaisar Kastara II melambung tinggi dan menjatuhinya hukuman gantung.
Tapi tampaknya Kaisar bisa memaklumi semua kelakuan Erika yang cukup kurang ajar itu. Entah apa yang membuat Kastara bisa memaklumi semua perbuatan Erika, hanya saja dia tidak merasakan emosi sedikit pun saat melihat kelakuan kurang ajar gadis remaja itu.
"Anda pasti sudah berubah bekerja keras untuk membenarkan perbatasan. Saya sebagai Kaisar mengucapkan terima kasih-"
"Yang Mulia," panggil Erika, memotong perkataan Kastara dengan sengaja dan membuat lelaki paruh baya itu bungkam.
"Ya, Nona Erika. Apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan kepada saya?" tanya Kastara, dengan suara lembut dan penuh kasih.
Padahal beberapa hari yang lalu Erika sudah membuat kekacauan yang cukup besar dan membuat amarah Ratu Eleanor meledak.
Tapi lihatlah hari ini, Kaisar Kastara memperlakukannya dengan hormat, seakan tidak ada masalah yang pernah terjadi di antara keduanya.
Erika menoleh ke arah Kastara dan menatapnya tajam. "Bukankah terlalu berlebihan kalau raja dari para raja negeri ini datang dan mengucapkan terima kasih secara langsung kepada penyihir rendahan seperti saya? Belum lagi Anda bersedia menginjakkan kaki di tempat kumuh seperti ini. Sungguh hebat, apa sikap merakyat raja kerajaan Pritam bukankah isu semata?!"
Glek ....
Suasana yang tadinya terlihat cukup aneh, kini mendadak menjadi tegang karena satu kalimat panjang yang keluar dari mulut Erika.
Bahkan ekspresi wajah Kastara sudah memburuk saat mendengar sindiran dari gadis remaja berusia 18 tahun itu.
"Sebenarnya kenapa Anda selalu melihat semua tindakan saya itu salah? Apakah saya memiliki kesalahan yang begitu besar sampai Anda tidak bisa melihat kebaikan hati saya?!" Kastara mendekati Erika dan benar-benar berdiri di depannya.
Membuat suasana yang sudah tegang, kini menjadi kian menegang karena ekspresi wajah Kaisar yang tampak murung dan buruk.
Walau begitu, tampaknya Erika tidak mau mengalah dan terus memandangnya dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Jika ada rasa benci, tentu saja ada alasannya, kan? Saya yakin Anda juga tahu apa yang membuat saya merasa seperti ini. Anda pemimpin yang cerdas. Jangan menunjukkan pertanyaan yang membuat saya berpikir kalau Anda pemimpin yang bodoh, Yang Mulia Kaisar!" sergah Erika, tampak dingin dan tak kenal ampun.