
7 anggota keluarga Ellworth tengah berkumpul di meja makan. Sambil menyantap makanan mereka, 7 orang tersebut juga saling berkomunikasi dengan ramah walaupun Nathania melihatnya sebagai sebuah paksaan.
Mereka memang terlihat sangat ramah. Bahkan saat berbicara, mereka selalu tersenyum. Tidak peduli apa pun isi pembicaraan mereka, ke-7 orang tersebut tetap tersenyum tanpa takut otot wajahnya menjadi kaku.
"Bagaimana caranya aku keluar dari sini?" batin Nathania, memperhatikan sekeliling dengan tatapan waspada.
"Kakak sedang mencari apa?" bisik anak lelaki berusia 15 tahun, yang duduk tepat di sebelah kanannya.
Nathania menoleh pada Azel, adik lelaki sekaligus anak bungsu dari keluarga Ellworth, dengan tatapan masam. "Tidak ada, lanjutkan makanmu," serunya, berusaha bersikap ramah walaupun enggan.
Azel hanya mengangguk dan menoleh pada ayahnya. "Ayah, bolehkah aku mengajukan pertanyaan?" tanyanya, memasang wajah ragu.
Duke Carlin mengangguk singkat. "Katakan saja, memang apa yang ingin kamu sampaikan?"
Sontak semua perhatian anggota keluarga yang lain, tertuju pada Azel. Dan anak muda itu, terlihat mulai gugup melihat pandangan semua orang jatuh padanya.
"Tentang pertunangan kakak Nathania dengan putra mahkota, apakah masih berjalan?" tanya Azel, dengan suara mencicit seperti anak tikus yang sedang ketakutan di depan kucing dewasa.
Kedua manik mata Duke Carlin dan Edelia langsung membulat, memelotot dengan tajam seakan membunuh mental putra bungsu mereka dengan tatapan.
Benar saja, Azel langsung menundukkan kepalanya tak berani lagi mendongak ataupun sekedar melirik ke kanan dan ke kirinya.
Drk ....
Duke Carlin bangkit dari kursinya dengan kasar, menatap putra bungsu mereka dengan tatapan tajam seakan ingin menikah pria kecil ini saat itu juga.
"Anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu menyinggung tentang pertunangan kakak perempuanmu dengan putra mahkota, setelah tahu keadaan kakakmu saat ini. Percuma saja aku menyekolahkan kamu sampai lulus akademik terbaik di Kerajaan Pritam. Kelakuanmu masih setara dengan rakyat jelata yang tidak pernah sekolah. Dasar anak tidak bermoral!" marah Duke Carlin, sambil menunjuk ke arah Azel dengan lantang.
Melihat kekacauan itu, sang ibunda, Edelia, hanya menggelengkan kepalanya ampun melihat sikap suami dan putra bungsunya.
"Membicarakan moral, bukankah kalian berdua lebih tidak bermoral? Kenapa bertengkar di depan meja makan?! Kalian tidak melihat yang lain sedang makan dan menjadi canggung karena perbuatan kalian berdua!!" teriak Edelia, menatap suami dan putra bungsunya secara bergantian.
Duke Carlin dan Azel yang mendengar amarah dari sang ibu, langsung diam dan berusaha menenangkan diri mereka masing-masing.
Nathania menoleh pada Azel. Wajah lelaki itu sudah pucat karena takut, melihat sang ayah yang marah besar kepadanya.
Tangan kanan Nathania menggenggam tangan Azel yang sudah menyatu di bawah meja, dan menunjukkan kelakar gelisah.
Melihat tangan kakak perempuannya, menggenggam tangannya, Azel langsung menoleh pada Nathania yang tetap memandang ke arah depan, seakan tidak memedulikan dirinya.
"Tenanglah. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan. Setelah itu segera habiskan makananmu dan pergilah dari sini," tutur Nathania, dengan suara pelan dan tenang.
Azel yang melihat sikap itu langsung termenung. Terkejut, dan sampai tidak bisa merespons apa pun saat melihat sikap baik dari kakak perempuan, yang bernama "Nathania" ini.
Karena sebelum Nathania sakit, wanita itu merupakan orang yang dingin walaupun dengan keluarganya sendiri.
Dia cenderung menutup diri dan tidak mengakrabkan diri dengan sengaja, kepada keluarga, teman ataupun yang lainnya.
Lalu kenapa tiba-tiba dia bersikap baik seperti ini? Apakah benar hilang ingatan juga mempengaruhi sikapnya kepada orang lain? Kalau begitu, bukankah ini perubahan besar ke arah positif?! Benar-benar perubahan yang baik, kan?
Azel menganggukkan kepalanya antusias dan menundukkan kepalanya dalam. Menyembunyikan wajahnya yang tengah malu-malu, karena reaksi sang kakak.
"Terima kasih," cicitnya, di dengar oleh Nathania dengan baik.
"Tidak masalah."
Setelah jam makan siang berlalu, semua orang yang tadinya berkumpul di meja makan kini sudah pergi melanjutkan kesibukan mereka masing-masing, kecuali Nathania dan Duke Carlin.
Mereka masih ingin menyambung pembicaraan yang sempat tertunda, karena terhambat waktu makan siang bersama keluarga mereka.
"Tentang pertanyaan yang di singgung Azel saat makan siang tadi. Bisakah Anda menjelaskan yang pada saya?" tanya Nathania, kembali menggunakan bahasa formal.
Duke Carlin meletakkan cangkir kopi ke atas pasangan piring kecil cangkir kopinya. Dia menyilangkan kedua kakinya hingga saling bertumpukan dan meletakkan kedua tangan yang juga menyatu, di atas lututnya.
"Jika Anda ingin mendengar berita ini, Anda juga harus siap melihat keluarga kerajaan lagi. Andai yakin ingin mendengar hubungan apa yang terjalin di antara Anda dan keluarga kerajaan sekarang?" tanya Duke Carlin, seakan enggan menjelaskan.
Sang Duke mengingat dengan jelas saat terakhir kali dia melihat putrinya hampir mengakhiri diri ketika berita pertunangannya dan putra mahkota disampaikan langsung oleh Duke, padanya.
Mungkin Nathania sangat membenci putra mahkota saat itu. Tapi, saat perempuan yang berada di depannya ini bukanlah putrinya yang sebenarnya, apakah kejadian buruk itu akan kembali terulang di depan matanya?
Duke Carlin merasa sangat ragu untuk mengatakan hal yang sama kepada anak kecil yang berbeda, tapi memiliki paras yang sama seperti putrinya yang asli.
Nathania memperhatikan ekspresi wajah Duke Carlin dengan saksama. "Jika Anda masih belum ingin saya mengetahuinya, Anda tidak perlu menjawab pertanyaan saya. Bagaimanapun juga, hati orang tua tetap akan sakit melihat putrinya berusaha bunuh diri depan mereka. Walaupun semua itu sia-sia dan sekarang dia berada di depan Anda dengan keadaan tubuh yang sehat," ucapnya pelan, tempat di akhir kalimat.
Duke Carlin menyunggingkan sebuah senyuman tipis, yang tidak dibalas oleh Nathania.
Tapi para pelayan yang ada di sekitar mereka, para pelayan yang berjaga-jaga jika kedua orang itu membutuhkan sesuatu dari mereka, melihat semua kejadian itu dengan tatapan janggal.
Ada yang tidak percaya melihat wajah Duke mereka yang bisa tersenyum kepada putri Nathania dan ada sebagian orang yang salut dengan perubahan hubungan mereka yang semakin hari, semakin terlihat baik.
"Ahh ... Anda melihat itu Tuan William?!" seorang ajudan tangan kanan Duke Carlin berucap, pada kepala pelayan rumah Duke Ellworth. "Hahhh ... bagaimana mereka berdua bisa sangat akur seperti itu sekarang? Apa mungkin Duke sedikit menyesal karena telah membuat putri Nathania kesakitan beberapa hari yang lalu?"
Lelaki yang dipanggil dengan nama William itu menoleh pada ajudan kepercayaan Tuannya dengan tatapan datar. "Saya juga tidak yakin, Tuan Martin. Tapi bukankah pemandangan itu sangat indah untuk dilihat?"
Martin mengangguk antusias. "Ya. Itu adalah pemandangan yang sudah aku tunggu-tunggu selama 5 tahun terakhir. Akhirnya aku bisa melihatnya sekarang!"
"Saya juga!"
Sementara itu, kedua tokoh utama yang menjadi bahan pembicaraan para pelayan ....
Duke tersenyum lembut, dan berkata, "Terima kasih sudah mau mengerti. Sesegera mungkin saya akan mengatakan semua hal yang terjadi di kehidupan yang lalu kepada Anda. Saya tidak akan menyulitkan Anda terlalu lama," ucap Duke Carlin, berucap dengan perasaan teguh.
Nathania hanya mengangguk pelan sebagai respons dan terus menikmati hidangan kecil yang di sediakan para pelayan untuk mereka berdua.
"Bukan masalah besar, Tuan Duke.”