
"Terima kasih, Nona. Kami tidak mengira kalau Anda membawa banyak makanan untuk kamu semua. Kalau begini-"
"Aku hanya mencegah kegilaan yang kalian lakukan pada sesama manusia." Erika menatap tajam para pendidik itu. "Jangan berlebihan dan makanlah secukupnya. Lalu biarkan aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian," ucapnya, tampak dingin dan acuh.
Tapi jauh di dalam hati para penduduk, mereka tahu kalau Erika bukanlah orang jahat dan kejam seperti yang ditunjukkannya.
Karena jika memang dia orang yang bengis, maka dia tidak akan membawakan mereka makanan dan memasakkan untuk mereka sekalian.
"Baik, Nona. Kami akan menjawab pertanyaan apa pun untuk Anda. Tolong katakanlah, apa yang membuat Anda penasaran," ucap seorang wanita paruh baya, sambil menggendong putrinya yang sedang memakan daging asap yang di masak oleh Erika sendiri.
Erika menatap para penduduk yang mulai memperhatikannya dengan tatapan menanti.
Menghela napas panjang, Erika menyiapkan diri untuk menghadapi ekspresi para penduduk setelah mendengar apa yang dia katakan.
"Kalian, kenapa membiarkan para penduduk keluar dari perbatasan? Bukan hanya di sini, tetapi di perbatasan yang lain mereka juga melakukan hal yang sama. Apa yang memicu sikap kalian sampai berlaku keji pada saudara kalian sendiri." Erika memperhatikan ekspresi mereka yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi masam dan gelisah. "Bisakah aku tahu alasannya?"
Wanita paruh baya itu melihat ke arah penduduk yang lain. "Bisakah Anda tidak memberikan hukuman untuk kami setelah kami menjelaskannya?" tanya wanita itu, dengan suara mendecit seperti tikus yang terpojok oleh pemburu.
Erika menatap Putra Mahkota Justin yang dari tadi terus memperhatikan mereka tanpa mengatakan apa pun.
Putra Mahkota Justin menganggukkan kepalanya. Tanda, Erika harus menyetujui permintaan mereka.
Erika menghela napas panjang dan menatap kembali ke arah wanita paruh baya itu dengan hati yang begitu tabah. "Baiklah, aku akan melakukan itu. Tapi tolong jelaskan dari awal mula sampai tengah kejadian buruk ini bisa terjadi!"
Para penduduk di sana mengangguk kan kepalanya antusias dan merapat, mengelilingi Erika dan Putra Mahkota Justin.
Seakan mereka sengaja membuat formasi itu untuk saling bercerita satu sama lain, agar kedua tamu mereka yang baik hati bisa mendengar kejadian dari beberapa orang sekaligus.
"Awalnya ada seorang penyihir yang mengaku datang dari kekaisaran. Beliau memiliki hawa kegelapan yang cukup tebal. Anehnya, kami merasa sedikit ragu saat beliau memberitahukan identitasnya."
"Lalu? Apa yang terjadi pada dia dan apa yang dia katakan kepada kalian sampai kejadiannya sangat buruk seperti ini?!" tanya Erika, dengan kening yang sudah berkerut dalam.
"Bukankah itu sangat sederhana, Nona Erika?!" Putra Mahkota Justin mulai angkat bicara, membuat beberapa orang mengalihkan pandangannya pada lelaki itu.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" Erika menunjukkan ekspresi serius. Tanda dia tidak mengerti dengan maksud perkataan Putra Mahkota Justin.
Lelaki itu tersenyum simpul dan mulai menjelaskan. "Bukankah semua itu mudah? Penyihir yang sudah ketahuan kalau identitasnya palsu, pasti melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka. Seperti kutukan, mungkin?!"
Para penduduk terkejut saat mendengar penjelasan tersebut. Bukan karena sesuatu yang dia katakan buruk, tapi perkataan Putra Mahkota Justin sangat tepat dengan realitasnya.
"Ba-bagaimana Anda bisa mengetahui hal itu, Tuan? Kami bahkan belum menceritakan sampai di mana Anda bisa mencurigai hal tersebut. Tapi bagaimana-" seorang lelaki paruh baya tampak kebingungan dengan intuisi yang di berikan Putra Mahkota Justin.
"Saya sudah hidup berdampingan cukup lama dengan para penyihir, Tuan. Tentu saja saya tahu tabiat baik atau buruk mereka. Lagi pula, semua penyihir memiliki sifat yang sama dan tidak jauh berbeda satu sama lainnya." Putra Mahkota Justin menatap ke arah Erika dan tersenyum. "Sama seperti manusia yang memiliki sifat yang tak jauh berbeda di antara satu sama lainnya. Para penyihir juga seperti itu."
Para penduduk mengangguk paham dengan penjelasan Putra Mahkota Justin. Mereka tidak mengira kalau ada bangsawan yang bisa mengerti permasalahan pelik bagi mereka, dengan begitu mudahnya. Seakan permasalahan itu bukanlah sesuatu yang besar.
"Baiklah, tapi saya tetap tidak bisa memperkirakan apa kutukan yang di berikan penyihir itu kepada kalian. Tapi jika melihat kekacauan ini, jangan-jangan kalian dikutuk tidak memiliki rasa empati pada sesama ya?" celetuk Putra Mahkota Justin, lagi-lagi hanya menebak.
"Bukan, Yang Mulia. Beliau bukan memberikan kutukan kepada kami. Beliau hanya menghipnotis kami dengan beberapa orang kaya sihir yang tidak kami mengerti. Yang jelas, itu membuat kami mendorong satu orang dari penduduk untuk keluar dari perbatasan, untuk di jadikan tumbal atau makanan para makhluk gaib yang ada di seberang sana," jelas seorang lelaki beri jenggot putih, yang tampaknya dia adalah sesepuh dari desa ini.
"Tapi setelah kalian mendorong salah satu penduduk untuk keluar dari perbatasan, apakah kalian menghadapi masa damai dari para monster?" tanya Erika, mendapat anggukkan kepala dari para penduduk secara kompak.
Erika menoleh ke arah Putra Mahkota Justin yang tampak terkejut dan sedikit bingung dengan perkataan tersebut.
"Aku tahu dia berniat buruk dengan menghipnotis kalian. Tapi sepertinya dia tidak bermaksud terus menyakiti kalian." Erika bangkit dari tempat duduknya dan menatap orang-orang di sekelilingnya dengan tatapan tegas. "Jika kalian bisa memberitahu ciri-ciri penyihir itu, kami akan berusaha untuk mencarinya."
"Sa-saya bisa melukiskan orang itu untuk Anda!" ucap seorang gadis muda berusia 12 tahun, mengangkat tangannya dengan wajah ragu-ragu.
Erika dan Putra Mahkota Justin tersenyum bahagia. "Bagus! Kalau begitu, lakukanlah untuk kami."
"Baik, Tuan."
***
David berdiri di ambang pintu utama dengan kedua tangan yang sudah singgah di kedua sisi pinggangnya.
Nyonya Sanah yang dari tadi melihat kelakuan Tuan David, hanya bisa sesekali tersenyum dan meledeknya.
"Tuan, Nona Erika dan Putra Mahkota Justin tidak akan pulang walau Anda melakukan sikap itu seharian." Nyonya Sanah berucap, sambil sibuk mengurus makan malam di dapur. "Bukankah ada baiknya kalau Anda mengirim elang pengirim pesan agar mereka berdua cepat pulang? Hari sudah cukup larut untuk berkeliaran di luar. Seharusnya mereka cepat kembali, bukan?" sarannya.
David mengangguk singkat dan memanggil beberapa elang peliharaannya dan memberikan mereka perintah untuk mencari keberadaan adik perempuannya dan Putra Mahkota Justin.
Belum ada lima menit setelah dia mengirimkan para elang itu pergi, dua orang lelaki dan perempuan sedang berkuda menuju ke arah rumahnya.
David tahu dengan pasti kalau itu adalah Erika dan Putra Mahkota Justin. Tapi pakaian lusuh dan bau anyir yang di tularkan dari tubuh mereka, membuat David langsung menutup hidung begitu dia menyambut kedatangan keduanya di depan halaman rumah.
"Ugh ... sebenarnya kalian habis berburu di mana? Lalu, di mana buruan kalian? Kalian tidak membawanya?!" celetuk David, membantu kedua orang itu mengurus kuda mereka berdua.
"Diamlah, Kak! Aku sedang sangat kesal pada seseorang," celetuk Erika, membuat David langsung menutup mulutnya dan memandang Putra Mahkota Justin yang mengeluarkan ekspresi masam dan ragu tiap kali berhadapan dengan sorot mata Erika yang tajam.
David mulai mencerna suasana di antara keduanya dengan baik. "Pasti ada suatu kejadian buruk telah terjadi di antara mereka berdua. Tapi, apa itu?" batinya, mulai menerka-nerka permasalahan keduanya.