
Duke Carlin turun dari lantai 3 langsung menuju lantai 1. Dia melihat putra pertamanya yang baru saja kembali di antara dengan teman satu akademiknya, yang setahu Duke Carlin, dia bekerja sebagai tangan kanan pangeran kedua.
"Carlos, kenapa kamu kembali seorang diri? Di mana adik perempuanmu?!" tanya Duke Carlin, tak melihat kehadiran Nathania di sana.
Carlos dan Tuan Tristan saling menatap satu sama lain, sebelum kembali memandang Duke Carlin dengan tatapan sedikit kesal karena dia sudah membohongi mereka berdua tentang adik perempuan atau Tuan yang harus dilayani.
"Yang Mulia, bukankah Anda tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu kepada kami yang sudah mengetahui fakta tentang mereka berdua?" celetuk Tuan Tristan, dengan tatapan dingin nan menusuk.
Duke Carlin yang mendengar pernyataan tersebut, langsung terdiam dan memandang putra bungsunya dengan tatapan lurus.
"Kamu sudah tahu tentang identitas adikmu? Bagaimana bisa?" Duke Carlin mulai tampak cemas. "Jangan bilang kalau dia sendiri yang mengatakan semua fakta itu kepadamu, Carlos! Itu tidak benar kan?" tanya sang Duke, terlihat cukup panik.
Carlos senyum diam dan tidak memperhatikan ekspresi wajah Ayahnya yang terlihat sedih.
"Di mana yang lainnya? Nona Erika meminta aku untuk mengevakuasi kalian sejauh mungkin dari Kekaisaran. Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk keluarga kita!" ucap Carlos, sambil berjalan naik ke lantai dua mencari keberadaan sang ibu dan kedua adiknya.
"Ayah sudah memindahkan mereka semua ke tempat yang lebih aman. Di sini hanya ada Ayah dan beberapa pelayan serta prajurit yang bisa melindungi diri mereka secara mandiri." Duke Carlin berusaha menjelaskan dengan jujur.
Langkah Carlos terhenti, dia kembali turun ke lantai satu dan meminta Tuan Tristan untuk segera mengikutinya pergi.
"Kau hendak pergi ke mana, Carlos? Kekaisaran yang sudah sangat berbahaya untuk kamu ataupun Tuan Tristan. Bisakah kalian berdua meninggalkan Kekaisaran ini juga? Biar Ayah dan para penyihir yang lain yang menghandle masalah ini!" ucap Duke Carlin, meminta dengan suara halus.
Tapi Carlos tidak mendengarkan dan terus berjalan pergi meninggalkan kediaman keluarganya di ibukota.
"Bawakan aku kuda!" pinta Duke Carlin, pada seorang ksatria yang berdiri di dekatnya.
"Baik, Yang Mulia!" ucap ksatria itu, segera bergegas ke kandang kuda dan mengambil kuda Duke Carlin ternyata sudah disiapkan oleh seseorang yang tidak dikenali.
"Yang Mulia, ini sudah Anda." Ksatria itu memberikan tali kudanya kepada Duke Carlin.
"Aku akan pergi mengejar Carlos. Kamu dan yang lain sebaiknya segera meninggalkan Kekaisaran ini sambil membereskan makhluk gaib yang kalian temukan di jalan. Setidaknya itu akan lebih baik daripada berdiam diri seperti menunggu kematian tempat ini!" ucap Duke Carlin, kepada para ajudannya.
''Baik, Yang Mulia!" ucap para pengawal dan pelayan itu, dengan serempak.
***
Erika berdiri di atas satu helai daun yang ada di tempat paling atas, dari pohon tinggi yang menjulang itu.
Beberapa orang yang melihat bagaimana Erika menggunakan sihir untuk membereskan parah makhluk gaib yang ada di sekitar wilayah mereka dalam waktu singkat, kini hanya bisa memandang kagum ke arah gadis itu.
"Erika, kamu tidak ingin makan sekarang? Aku mendapat beberapa roti dari tokoh di sebelah," seru David, mengangkat kedua buah roti besar yang dia dapat secara gratis dari penduduk yang merasa berterima kasih karena mereka sudah mengamankan lingkungan mereka.
Ya, perutnya cukup lapar setelah menggunakan tenaga yang cukup banyak untuk membereskan tempat ini.
Ternyata makhluk gaib yang menguasai wilayah barat daya ini cukup sulit untuk di lenyapkan. Seperti kata David, makhluk gaib di jaman ini sangat kuat melebihi para makhluk gaib di zamannya.
Tapi tetap saja, kekuatan mereka jauh lebih besar dan kuat untuk membereskan para makhluk merepotkan itu.
"Kakak, apakah Anda Dewi yang datang untuk menyelamatkan Kekaisaran ini?" tanya seorang gadis berusia 10 tahun, sambil membawa segelas susu dingin untuk David dan Erika sebagai tanda terima kasih dari rumahnya.
Erika dan David menerima pemberian gadis itu dengan lapang dada dan membiarkannya duduk di antara mereka.
Erika mengeluarkan sebuah pedang dari dalam udara dan mengirimnya pergi ke perbatasan tempat David membuat penghalang untuk membatasi ruang gerak para makhluk gaib itu.
Para ksatria yang tahu jenis senjata apa itu, langsung membulatkan matanya takjub dan tidak mengatakan apa pun lagi kepada Erika yang mereka yakini sebagai seorang Dewi yang sengaja turun untuk melindungi Kekaisaran mereka.
"Apa maksudmu? Aku hanya salah satu jenis makhluk yang sama dengan mereka. Tapi tujuanku datang ke sini sanggatlah berbeda dengan para makhluk perusak itu," jelas Erika, kepada gadis muda yang tampak mengagumi dirinya.
Erika menghela napas panjang setelah menghabiskan segelas susu dingin yang memiliki aroma madu dan rasa segar yang mampu menghilangkan dahaganya.
Dia segera bangkit diikuti dengan David. "Kami akan pergi dari desa ini dan melanjutkan perjalanan. Kami mendapat pesan dari para penghuni hutan untuk pergi ke arah utara. Mereka memberi tahu kami jika banyak penduduk yang harus segera di evakuasi atau desa kecil itu tidak akan selamat!"
"Anda bisa berbicara dengan roh hutan?" tanya gadis kecil itu, menatap Erika dan David dengan tatapan semakin kagum.
Erika mengulas senyuman manis dan menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu dengan lembut. "Bisa di bilang seperti itu."
"Wahhh ... Anda sangat hebat, Nona. Saat besar nanti saya akan menjadi penyihir hebat seperti Nona. Saya harap kita berdua bisa bertemu dan bertarung untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat saat itu," ucap gadis kecil itu, tampak bahagia dengan wajah polosnya.
Erika tersenyum dan melirik ke arah David yang juga hanya menunjukkan ekspresi mall samsat mendengar perkataan gadis kecil itu.
Erika dan David jelas tahu akhir dari perjalanan mereka. Tubuh mereka sudah lama mati. Kekuatan sihir yang ada di dalam mereka kini mereka gunakan untuk melindungi banyak hal. Dan pastinya, efek dari semua sihir itu akan menyerang kesadaran mereka.
Saat itu tiba, keduanya akan meminta seseorang untuk membunuh mereka berdua sebagai penutup kisah menyakitkan ini.
Dunia manusia bukanlah lagi alam mereka berdua. Karenanya, keduanya harus segera kembali ke alam yang seharusnya saat mereka sudah menyelesaikan tugas yang di emban di kehidupan ini.
"Ya, semoga kita bertemu lagi gadis kecil. Tumbuhlah menjadi penyihir hebat tanpa meniru diriku." Erika tersenyum kecut. Ada semburat kesedihan di sorot matanya yang tengah tersenyum itu. "Sampai jumpa lain waktu, jika waktu dan langit mengizinkan kita untuk bertemu."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Erika dan David langsung menghilang detik itu juga dengan kekuatan teleportasi mereka.
"Semoga saya beruntung bisa bertemu dengan Anda lagi, Nona Penyihir!" ucap gadis kecil, berdoa dengan sungguh-sungguh.