
"Baik, terserah padamu, Lady. Tapi satu hal yang aku minta." Putra Mahkota Justin memandangnya dengan tatapan lurus. "Tolong jangan batalkan pernikahan kita!"
Menatap tajam ke arah Putra Mahkota. Pandangan Nathania saat melihat lawan bicaranya terlihat cukup mengenaskan, karena dia tidak memiliki rasa hormat sedikit pun kepada Putra Mahkota negeri ini.
Tapi tampaknya Putra Mahkota tidak terlalu menghiraukan hal tersebut dan tetap menunggu jawaban pasti dari Nathania.
Nathania enggan untuk menjawab. Dia hanya diam dan memalingkan wajahnya dari pandangan Putra Mahkota.
Kedua manik mata coklat itu menatap lekat ke arah celah-celah jendela yang menunjukkan waktu malam.
"Langit sudah sangat larut, Putra Mahkota. Apakah Anda tidak kembali ke kerajaan?" tanya Nathania, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Putra Mahkota tidak menjawab. Mungkin sedang balas dendam pada Nathania yang sempat tidak menghiraukannya.
"Yang Mulia, saya bertanya pada Anda!" seru Nathania, sedikit menyentak.
"Aku tidak akan pulang sampai kamu menjawab dengan benar pertanyaanku tadi." Justin menatap Nathania yang memandangnya tidak senang. "Seperti kata Anda, langit sudah semakin larut dan saya akan pergi beristirahat. Selamat malam, Nona Nathania."
Setelah mengatakan hal itu, Justin benar-benar pergi meninggalkan rumah kaca. Meninggalkan Nathania seorang diri di dalam sana.
Tapi tiba-tiba, suara musik mulai mengalun. Suara nyanyian seseorang terdengar sangat merdu sampai ke dalam rumah kaca.
Nathania tersenyum tipis, seakan tahu situasi di depan sana tanpa harus melihatnya terlebih dahulu.
Sementara Justin sudah melihat ke arah depan, melihat para penduduk yang terlihat sangat bahagia di sekeliling api unggun besar yang sengaja dibuat untuk memeriahkan acara malam ini.
Padahal Justin sudah menerima laporan tentang keadaan wilayah selatan yang mengalami bencana besar. Tapi melihat para penduduk dan keluarga Duke Carlin yang berusaha menghibur penduduknya, senyuman tipis terbit di wajah Justin.
Lain halnya dengan para bangsawan lainnya. Keluarga ini terlihat sangat hangat dan mengayomi rakyatnya.
Mereka mau berbagi suka dan duka antara sesama. Entah itu kaum bangsawan atau rakyat biasa. Melihat pemandangan di depan sana, Justin merasa sedikit malu karena setiap hari minggu keluarga kerajaan selalu mengadakan pesta untuk para bangsawan saja, tapi memperbudak para rakyat setiap saat.
Justin yang tadinya hendak pergi meninggalkan Nathania di dalam rumah kaca seorang diri, kini hanya diam di depan pintu dengan memandang ke arah Nathania dengan tatapan sendu.
Tampaknya Nathania juga menikmati suara alunan musik yang dia dengar di tempatnya, di temani secangkir teh dengan aroma sedap. Senyuman tipis yang terlihat cantik, membuat Justin semakin yakin kalau dia sedikit tertarik kepada Nathania.
Nathania tidak sengaja memergoki Justin yang mencuri pandang dengannya secara diam-diam padanya.
Nathania yang melihat itu hanya berdiam diri di tempatnya, dengan kedua tangan yang sudah di lipat di depan dada. Seakan sengaja memperlihatkan sikap angkuh agar Justin muak kepadanya.
Tapi apalah daya, tampaknya lelaki itu terlihat lebih senang dari sebelumnya.
Entah apa yang di pikirkan Justin saat ini, tapi sepertinya Justin berpikir kalau sikap Nathania sekarang sangat kekanak-kanakan dan itu cukup lucu.
Dari arah luar, seorang lelaki berlari dengan cepat ke arah Justin sambil memamerkan wajah paniknya.
"Yang Mulia," panggil lelaki itu, membuat Justin menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya.
"Ada apa Tuan Derick?" tanya Justin, kepada ajudan kepercayaannya.
"Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia. Tetapi, sepertinya Anda harus segera kembali ke kerajaan," ucap Tuan Derick, masih tetap menunjukkan wajah khawatirnya.
"Ada masalah apa, Tuan Derick? Bukankah aku sudah bilang kepada ayah kalau aku akan menginap di kediaman Ellworth? Apa ayah masih memintaku kembali lebih cepat?!" celetuk Justin, terlihat enggan.
Lelaki bernama Derick itu, mengulas senyuman masam dan meminta maaf sekali lagi kepada Tuannya.
"Maafkan saya Tuan, tapi sepertinya Anda memang harus kembali ke kerajaan secepat mungkin. Karena saya baru menerima pesan dari Yang Mulia Raja secara langsung," jelas Tuan Derick, terlihat tergesa-gesa.
Melihat tingkah ajudannya yang tidak biasa ini, Justin segera paham kalau sedang terjadi sesuatu yang buruk di kerajaan dan mengharuskan dirinya segera kembali.
"Baiklah, sekarang kita-"
"Aaaakhh!"
Suara teriakan beberapa orang penduduk terlihat sangat riuh. Membuat Justin, Tuan Derick, bahkan Nathania yang ada di dalam ruangan itu sampai keluar.
Ketiga orang tersebut memandang ke arah depan, melihat kerumunan orang-orang yang terlihat takut dengan tubuh yang sudah bergetar kuat.
Nathania memicingkan matanya, melihat dengan teliti dan saksama ada apa di antara kerumunan orang-orang itu.
Ternyata lagi-lagi dia melihat perawakan Undead yang membaur di antara para rakyatnya. Dan itu cukup mengundang emosi Nathania saat ini.
Kedua tangan yang sudah mengepal erat karena geram, Nathania berusaha menenangkan diri dengan menghela napas beberapa kali dan memandang ke arah rembulan yang ada di atas langit.
Nathania mendengus kasar dan memandang kembali ke arah kericuhan di depan sana dengan tatapan datar.
"Pantas saja mereka menjadi-jadi! Ternyata sekarang bulan purnama sudah muncul," celetuk Nathania, tampak enggan dan segan.
Justin dan Tuan Derick menoleh pada Nathania yang terus bergumam dengan ekspresi menakutkan.
Walaupun bergumam dengan suara yang lirih, kedua lelaki yang berada dalam jarak 1 langkah darinya itu, tetap bisa mendengar suara Nathania yang seakan berbisik dengan angin.
"Bulan purnama? Apa urusannya bulan purnama dengan kemunculan para makhluk seperti itu?!" tanya Putra Mahkota Justin, menatap tunangannya dengan tatapan lurus dan intens.
"Anda mungkin tidak tahu karena tidak pernah mempelajari hal ini di kerajaan. Tapi beberapa hari yang lalu saya menemukan sebuah buku di perpustakaan yang cukup mencurigakan. Saya membacanya dan ternyata di sana terdapat penjelasan kaum seperti mereka!" Nathania menunjuk para Undead itu dengan gerakan dagu.
"Mereka itu mayat yang dibangkitkan kembali dengan ritual sihir. Tapi ada juga dunia tempat mereka hidup. Saya menyebutnya sebagai dunia lain! Dan dunia kita bersanding dengan dunia mereka," lanjut Nathania, tidak dapat di mengerti dengan baik oleh Justin dan Tuan Derick.
"Tunggu dulu! Jadi maksud kamu, makhluk seperti mereka memang ada di dunia ini? Dan bersanding pula dengan dunia kita?!" tanya Justin, dengan tatapan tak percaya.
Tapi melihat wajah Nathania yang begitu serius, sepertinya gadis itu juga tidak sedang berbohong pada mereka.
"Nanti saja menjelaskannya! Sekarang yang tahu cara memusnahkan makhluk itu hannyalah saya." Nathania menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan pada Putra Mahkota Justin dengan sopan, selayaknya seorang bangsawan yang memiliki status yang lebih rendah. "Kalau begitu, saya pamit undur diri, Yang Mulia. Segala hormat bagi bintang Kerajaan Kekaisaran Pritam."
Setelah mengatakan itu, Nathania segera berlari ke arah kerumunan orang-orang yang sedang ketakutan. Tentu saja setelah dia merampas pedang dari seorang ksatria yang ada di sekitar sana.
Putra Mahkota Justin yang melihat itu langsung tersenyum. "Apa dia memang memiliki kebiasaan untuk merampas senjata milik orang lain?" gumamnya, merasa kalau tingkah Natania itu imut.
Senyuman Justin semakin mengembang saat melihat betapa lincahnya Nathania berlari dan menggunakan pedangnya di saat bersamaan.
"Sungguh gadis yang aneh!" batinnya, terlihat cukup senang.