Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 30



David pulang membawa beberapa buruan setelah dia membasmi beberapa Monster yang dia lihat di perbatasan utara.


"Nyonya Sanah, bisakah Anda membantu saya mau bawa barang-barang ini?" tanya Tuan David, pada kurcaci perempuan yang kini ikut tinggal bersama dengan mereka di rumah Erika.


Nyonya Sanah yang mendapat panggilan dari kakak lelaki Erika, langsung menoleh dan bergegas mendekatinya dengan setengah berlari.


"Tidak perlu sampai berlari seperti itu, Nyonya Sanah. Saya tidak meminta Anda untuk terburu-buru," ucap David, mengulas senyuman masam saat melihat Nyonya Sanah berjalan dengan tertatih hanya untuk mengejarnya.


Nyonya Sanah yang sudah ada di depan Tuan David, segera mengambil beberapa sayuran dan binatang buruan, untuk membantunya membawa masuk.


"Kaki saya cukup pendek untuk berjalan perlahan lahan, Tuan David. Adanya, saya akan memakan cukup banyak waktu hanya untuk berjalan. Karena itulah berlari, memang sudah keahlian saya!" jelas Nyonya Sanah, mengolah senyuman tulus.


Tuan David yang mendengar hal itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan ada perempuan dan Putra Mahkota Justin.


Tapi sayangnya, Tuan David tidak menemukan mereka berdua dan bahkan tidak melihat dua ekor kuda yang ada di kandang. Dan kedua kuda itu adalah milik Erika dan Putra Mahkota Justin.


"Apakah mereka berdua pergi?" tanya Tuan David, kembali berjalan masuk untuk menemui Nyonya Sanah yang telah ada di dapur, setelah dia mengecek kandang kuda.


"Ya, Tuan David. Mereka sedang keluar untuk mengecek wilayah perbatasan lain karena tidak menerima balasan dari para penjaga perbatasan itu," jelas Nyonya Sanah, mendapat anggukkan kepala dari Tuan David.


"Begitu, baiklah. Aku sudah ada di depan untuk memandikan kudaku. Anda siapkan saja makan malamnya tanpa buru-buru, Nyonya Sanah."


Nyonya Sanah mengangguk paham dan membiarkan Tuan David meninggalkan tempat tersebut.


Sementara dua orang yang sedang berkelana di beberapa perbatasan, tampak tidak menikmati pemandangan di sekitar perbatasan.


Banyak mayat manusia yang bergeletakkan dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Organ mereka banyak yang hilang, begitu pula dengan tangan, kaki, dan kepalanya.


Tidak ada satu pun bagian tubuh mereka yang utuh. Semuanya hilang satu persatu dan juga banyak tulang yang berserakan bahkan bertumpuk, seperti sengaja ditumpuk menjadi bukit-bukit kecil.


"Nona Erika, bukankah pemandangan seperti ini sangat mengerikan?" tanya Putra Mahkota Justin, menatap ekspresi wajah Erika yang benar-benar buruk.


"Aku bahkan bisa mengira kalau para manusia dan hewan yang ada di bagian luar perbatasan ini, memang sengaja ditinggalkan untuk dimangsa para master agar mereka tidak menyusup masuk ke dalam perbatasan." Erika mendenguskan napas kasar dan menolak ada Putra Mahkota Justin. "Sebenarnya apa yang dilakukan para penyihir kekaisaran untuk menangani masalah ini, Yang Mulia?! Mereka begitu pemalas sampai menumbalkan banyak orang!" ucapnya, terdengar marah.


Putra Mahkota Justin menghela napas lelah dan meminta maaf kepada Erika.


Padahal Putra Mahkota Justin sudah meminta keluarga kekaisaran untuk menjaga perbatasan dengan baik.  Bahkan meminta mereka untuk mengirim beberapa prajurit serta penyihir untuk melakukan tugas tersebut.


Tapi saat melihat situasi di luar perbatasan sangat mengerikan seperti ini, tampaknya semua permintaan Putra Mahkota Justin tidak dilakukan oleh mereka dengan baik.


Bahkan, mungkin saja tidak didengar oleh Kastara karena dia masih marah sebab Putra Mahkota Justin tidak memilih pulang ke rumah, dan terus berkelana bersama dua penyihir hebat ini.


"Sungguh maafkan saya, Nona Erika. Seharusnya hal seperti ini tidak pernah terjadi." Putra Mahkota Justin menghela napas kasar beberapa kali. "Tapi keadaan sangat buruk di mana-mana. Sungguh maafkan kesalahan saya."


Kedua manik mata Erika yang semulanya memiliki warna coklat pekat, perlahan-lahan mulai berubah menjadi merah darah dan aura membunuh yang keluar dari belakang punggungnya benar-benar terasa mengerikan.


Tetapi untuk Putra Mahkota Justin yang sudah sering atau terbiasa melihat gadis itu berubah, dia tidak merasa takut sedikit pun.


Malah adanya, beberapa makhluk yang hendak mendekati mereka langsung melangkah mundur dan menjaga jarak aman agar keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh penglihatan Erika.


"Sebelum pergi, aku akan membereskan beberapa makhluk yang sudah tinggal di tempat ini untuk menunggu mangsa berikutnya. Hahhh ... mungkin aku juga akan membuat perlindungan ganda agar mereka tidak bisa sampai ke perbatasan ini." Erika melirik ke arah Putra Mahkota Justin. "Jika Anda ingin melihat kondisi pemukiman di sekitar perbatasan, saya akan mengizinkannya. Tapi tolong kembali saat matahari sudah mulai terbenam."


Putra Mahkota Justin menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan Erika seorang diri di tempat tersebut.


Dia menembus perbatasan itu dengan kudanya dan berkeliaran di sekitar pemukiman penduduk yang ternyata dalam keadaan mengerikan.


Glek ....


Putra Mahkota Justin menelan ludahnya susah melihat para penduduk yang kelaparan dan saling memakan satu sama lain seperti kanibal.


"Apa yang terjadi pada kalian semua?!" tanya Putra Mahkota Justin, membuat semua perhatian para penduduk terpaku pada kudanya.


Melihat tatapan ganas dari para penduduk, Putra Mahkota Justin segera mundur, menjaga jarak dari mereka dan meninggalkan area itu saat para penduduk mulai mengejarnya dengan ekspresi menyeramkan mereka.


Putra Mahkota Justin keluar dari perbatasan tersebut dan mencari keberadaan Nona Erika.


Tak jauh dari tempatnya keluar dari perbatasan, dia melihat sosok Erika yang sudah bersimbah darah setelah menghabisi satu makhluk.


"Nona Erika!" panggil Putra Mahkota Justin, membuat Erika menoleh sambil menyangka darah yang membasahi wajahnya.


"Anda sudah kembali? Cepat sekali. Bagaimana keadaan di dalam?" tanya Erika, berjalan beberapa langkah mendekati posisi Putra Mahkota Justin berdiri.


"Sangat buruk! Tidak ada satu pun penduduk yang waras. Sepertinya mereka sudah kelaparan berhari-hari dan hanya bertahan dengan air. Jika saja saya boleh berburu di sekitar sini untuk mencarikan makanan, apakah Anda akan mengizinkannya?" tanya Putra Mahkota Justin, benar-benar berharap.


Tapi dengan cepat Erika menggelengkan kepalanya sambil kembali meletakkan pedangnya di dalam sarungnya.


"Tidak perlu berburu. Bawa saja para daging beruang itu pada mereka! 6 beruang gila yang baru saja aku bereskan. Bukankah lebih dari cukup untuk para penduduk desa sekitar?" tanya Erika, mengulas senyuman angkuh sambil menunjuk dengan ibu jarinya, ke arah belakang.


Lebih tepatnya pada tubuh 6 beruang besar yang baru saja dia bunuh karena berusaha menyerangnya.


Putra Mahkota Justin melihat ke arah sana dan tersenyum bahagia. "Anda memang yang terbaik, Nona!"


Erika tersenyum bangga. "Aku tahu itu, hahaha ...."