
Setelah semua keluarga Ellworth berhasil dipindahkan oleh Azel ke kediaman mereka di tengah kota, Duke Carlin terduduk lemas tanpa melakukan apa pun. Dia terlihat diam dengan wajah mengenaskan.
Kedua matanya memang terbuka lebar, tapi terlihat sangat kosong itu, membuat anak keduanya, Putri Eveline, terlihat geram.
Karena sang Ayah tidak melakukan apa pun walau mengetahui kedua Adiknya tidak ikut berpindah tempat dan masih berada di tengah-tengah bahaya, di kediaman mereka di kejauhan hutan pinus.
"Ayah bukankah kamu harus melakukan sesuatu untuk menjemput mereka berdua? Gunakan sihir Ayah untuk kembali pulang. Kedua Adikku tidak akan bisa selamat dari para Undead itu!" marah Eveline, melihat Duke Carlin yang terdiam dengan tatapan kosong seperti orang linglung.
Carlos mendekati Adik perempuannya dan memeluk bahunya erat. "Eveline tenanglah sedikit. Ayah pasti tertekan setelah kejadian ini. Cobalah mengerti posisinya juga."
Eveline menghempas tangan Carlos dari kedua bahunya dan memandang Kakak lelakinya dengan tajam.
"Kau gila? Bagaimana aku bisa tenang melihat Nathania dan Azel tertinggal di sana?! Kau pikir aku bisa tenang?!!" teriak Eveline, benar-benar terlihat murka.
Seorang lelaki berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Eveline menoleh ke arah lelaki tersebut dan berlari ke arahnya.
"Ryan, tolong jemputlah kedua Adikku di rumah. Mereka berdua tidak akan bisa bertahan di tengah-tengah serangan Undead! Tolonglah," ucap Eveline, sambil menangis.
Ryan memeluk istrinya dan berusaha menenangkannya. Dia yang sudah mendengar situasinya, tentu merasa cemas dan khawatir.
Bahkan lelaki bernama Ryan ini langsung datang dan meninggalkan semua pekerjaannya setelah mendengar berita ini dari sang ajudan
"Ya, baiklah sayang. Aku akan menjemput mereka untukmu. Jadi tenanglah dan berhentilah menangis," ucapnya, tetap tidak bisa menghentikan air mata Eveline.
Ryan menoleh ke arah Kakak iparnya, Carlos, yang terlihat tak kalah bingung tapi masih bisa bersikap tenang di depan keluarganya.
"Tuan Carlos, tolong jaga istri saya. Saya akan kembali ke kediaman selatan untuk menjemput kedua Adik." Ryan mendorong pelan tubuh Eveline ke arah Carlos. "Saya akan segera kembali," pamitnya, berbalik dan berjalan keluar pintu.
Di depan pagar rumah besar kediaman Duke Carlin, beberapa kereta kuda yang terlihat lusuh datang berbondong-bondong dan menurunkan para penumpang dalam jumlah besar.
Mungkin ada sekitar 45 orang yang turun dari kereta kuda itu dan langsung di himbau masuk oleh para ksatria yang berjaga di depan gerbang sesuai arahan seorang gadis berusia 18 tahun itu.
Di barisan terbelakang dari barisan 9 kereta kuda itu, seorang gadis setengah menunggang kuda bersama Adik lelakinya yang tampak lemah.
"Sayang, mereka ada di sini!" seru Ryan, membuat semua orang yang ada di dalam rumah keluar dan melihat ke bagian luar pagar.
Edelia berlari lebih dahulu dan pergi ke arah kedua anaknya. Dari tadi dia hanya bisa diam dan memperhatikan keadaan keluarganya yang cemas. Tapi setelah mendengar seruan Menantunya, dia langsung berlari secepat mungkin dan menemui kedua anaknya.
Benar saja, di sana mereka melihat Nathania dan Azel turun dari kuda dan menghimbau para rakyat mereka, yang berhasil di selamat dari serangan Undead, masuk ke dalam kediaman Duke Carlin.
Carlin bergegas turun menghampiri kedua anaknya. Wajah pucat pasi yang terlihat dipenuhi kecemasan itu, kini telah bercampur reaksi lega.
"Anak gila! Bagaimana bisa kamu memindahkan semua keluarga tanpa kalian ikut bersama kami?! Aku benar-benar akan menghukum kalian berdua setelah semua ini selesai!" marah Duke Carlin, menatap wajah Azel yang telah sampai di depannya.
"Maaf Ayah, tapi aku tidak bisa meninggalkan Kak Nathania sendirian. Dia memintaku untuk memindahkan kita semua ke kediaman di ibukota. Tanpa dirinya!" Azel menghela napas lelah, dan melanjutkan, "Karena itulah aku memindahkan kalian, tapi aku tidak ikut serta. Maaf atas tindakan ceroboh yang telah aku lakukan, Yang Mulia Duke," ucap Azel, dengan suara mencicit seperti anak tikus.
Duke Carlin tidak bisa berucap apa-apa. Ternyata dalang dari semua kekacauan ini adalah Putri ketiganya. Nathania! Gadis asing yang terlalu berani untuk ukuran Nona bangsawan.
"Ayah, sepertinya aku mulai berpikir kamu tidak cocok menjadi Duke wilayah selatan setelah melihat Adik perempuanku," celetuk Eveline, tanpa berniat untuk merendahkan sang Ayah.
Duke Carlin yang dari tadi fokus pada Azel dan memarahinya, kini setelah mendengar perkataan Eveline, dia langsung menoleh ke arah Putri ketiganya, yang sibuk mengurusi para rakyat.
"Nona, tidakkah sikap Anda terlalu sembarangan? Bagaimana bisa Anda membawa kami ke kediaman Tuan Duke? Bagaimana kalau Ayah Anda marah? Beliau yang memiliki sikap tegas, pasti tidak menginginkan hal seperti ini," ucap salah satu rakyat, memprotes sedikit perilaku sembrono Nathania.
"Kenapa kalian begitu sangkan? Jangan seperti itu. Melindungi kalian adalah tugas utama Duke. Tidak perlu khawatir. Jika beliau marah karena kelakuanku, maka aku yang akan menanggung amarahnya. Aku tidak akan membuat kalian terkena imbasnya. Aku sudah cukup bersyukur karena kalian bisa menyelamatkan diri dari bencana mengerikan itu." Nathania tersenyum lembut dan berkata, "Terima kasih," dengan kedua mata yang terlihat tulus.
Para rakyat wilayah selatan yang melihat hal itu, spontan menangis dan bersyukur memiliki penguasa yang lebih perhatian pada rakyatnya daripada keselamatan nyawanya sendiri.
Sungguh pemimpin yang tidak egois. Mereka benar-benar tulus dan bersyukur memiliki Tuan Putri seperti Nathania di keluarga Duke Carlin. Pemimpin wilayah mereka!
Duke Carlin mendekat ke arah kerumunan rakyat yang mengelilingi Putri ketiganya.
"Nathania," panggil Duke Carlin, membuat gadis berusia 18 tahun itu menoleh pada sang Ayah.
"Ya?" tanya Nathania, berjalan mendekati sumber suara.
"Terima kasih sudah menjaga derajat keluarga kita di depan para rakyat. Ayah yang hanya memikirkan keselamatan keluarga kita, benar-benar merasa malu setelah melihat tindakanmu." Duke Carlin memandang beberapa rakyatnya dengan tatapan sendu. "Ayah tidak akan marah karena kamu membawa rakyat kita pergi ke rumah ini."
Nathania tersenyum dan menepuk punggung sang Ayah. "Tidak perlu berterima kasih. Karena aku adalah Putrimu, aku juga memiliki wewenang untuk melindungi rakyat wilayah selatan. Karena rakyat Ayah juga adalah rakyatku!" bisiknya, memeluk Duke Carlin dengan lembut.
Edelia, Eveline dan keluarga serta rakyat yang melihat adegan itu, spontan menyulam sebuah senyuman di wajah mereka dengan tulus.
Nathania melepaskan pelukannya dan memandang Ayah serta Carlos secara bergantian.
"Lalu, Ayah dan Kakak Carlos masih memiliki satu tugas penting yang harus di lakukan," ucap Nathania, penuh tipu muslihat.
Nathania tersenyum lebar. Tapi senyuman itu terlihat tidak menyenangkan di mata Duke Carlin dan Carlos.
"Hahh ... Ayah, sejak kapan anak ketiga Anda menjadi sosok menyeramkan seperti ini?"
Carlos berbisik pada sang Ayah, sebelum menoleh ke arah ibunya, Edelia.
"Ibunda, apakah Ibunda salah memberi makan Adikku? Dia bahkan lebih menyeramkan dari Kaisar yang sekarang. Bahkan bulu kudukku sampai berdiri," celetuk Carlos, sambil menunjukkan bulu-bulu di tangannya yang berdiri karena melihat sikap Nathania yang menyeramkan.
Count Ryan mengulas senyuman lembut dan menoleh ke arah Adik iparnya, Nathania, yang kabarnya telah mengalami kecelakaan dan membuat seluruh ingatan yang menghilang.
"Kenapa kamu melihat Nathania sampai seperti itu, Tuanku?" tanya Eveline, membuat sang suami menoleh padanya.
Count Ryan menggeleng pelan dan tersenyum lembut untuk ke sekian kalinya. "Adikmu, benar-benar berubah sayang."
Eveline memandang Nathania beberapa saat dan mengulas senyuman senada dengan suaminya. "Ya, begitulah. Tapi aku lebih suka dia yang sekarang. Terasa lebih hidup dan menyenangkan.
"Kamu benar."