
Erika tidak mau mengalah dan terus memandang Kastara dengan tatapan tajam dan menusuk.
"Jika ada rasa benci, tentu saja ada alasannya, kan? Saya yakin Anda juga tahu apa yang membuat saya merasa seperti ini. Anda pemimpin yang cerdas. Jangan menunjukkan pertanyaan yang membuat saya berpikir kalau Anda pemimpin yang bodoh, Yang Mulia Kaisar!" sergah Erika, tampak dingin dan tak kenal ampun.
"Bukankah saya hannyalah manusia yang tidak luput dari kesalahan? Tapi tampaknya Nona Erika terlalu menganggap saya seperti orang suci yang tidak seharusnya berbuat salah. Itu tidak benar, Nona. Saya hanya manusia pada umumnya. Yang memiliki salah dan kekurangan pada dirinya!" ucapnya, sangat bijak.
Mendengar semua perkataan itu Erika bukannya diam dan tertegun, dia malah tertawa terbahak-bahak dan melihat ekspresi Kastara yang semakin memburuk saat melihatnya tertawa seperti itu.
"Begitukah? Anda juga bisa memiliki salah?!" Erika kembali tertawa dengan lantang. "Hahahaha ... lalu kenapa Anda haus akan keagungan dari para rakyat dan bangsawan?"
Erika menatap tajam dan menusuk. "Bukankah seharusnya Anda meminta maaf kepada para rakyat yang sudah Anda sia-siakan dan para makhluk yang menjadi tawanan Anda di luar sana karena sudah melanggar perjanjian dengan mereka?!"
"Tapi lihatlah betapa busuknya hatimu. Kau bahkan tidak pernah ingin mengaku salah di depan mereka ataupun di depan pengikutmu. Dasar manusia munafik! Tahukah Anda, kalau saya paling membenci manusia sejenis itu? Parasit yang besar kepala, seperti itulah cara saya menyebut manusia seperti Anda, tungkas Erika, tanpa ada ketakutan sedikit pun di wajahnya.
"ERIKA! Kesabaranku ada batasnya. Kenapa kamu terus menguji kesabaranku dari kemarin. Jika kau memang tidak suka denganku! Kenapa kau masih ada di sini? Pergilah. Aku mengusir mau dari Kekaisaran ini!" ucap Kastara, menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka begitu lebar di sisi kanan mereka.
Erika menoleh ke arah itu sejenak, sebelum memandang David yang sudah gemetar ketakutan melihat situasi mereka berdua.
"Kak ... kamu dengar kata Kaisar?" Erika bukannya sedih karena diusir. Dia malah terlihat bahagia seakan itu memang keinginannya. "Mari tinggalkan Kekaisaran yang hampir hancur ini! Toh, kita bukanlah bagian dari mereka. Jadi tidak perlu ikut berperang saat para master itu mendobrak masuk."
Erika kembali tertawa dengan lantang. "Hahaha ... selamat berjuang, Kaisar Kastara II!"
Setelah mengucapkan hal itu, Erika membawa David untuk pergi menggunakan kekuatan teleportasinya.
Kedua penyihir muda yang dijuluki penyihir terkuat di Kekaisaran ini beberapa hari yang lalu, kini telah pergi meninggalkan Kekaisaran karena keegoisan dan temperamen Kaisar di tempat itu sendiri.
Glek ....
Tuan Carlos menelan ludahnya susah saat melihat Erika dan David sudah tidak berada di tempatnya dan meninggalkan mereka sendiri di dalam ruangan itu.
Para pengawal dan juga Kaisar sendiri, terlihat kaget karena dua orang penyihir yang seharusnya mereka pertahankan! Kini malah meninggalkan mereka di tengah-tengah krisis.
"Yang Mulia, seharusnya Anda lebih bisa menahan emosi anda." Putra Mahkota Justin mulai mengeluh.
Melihat ke tidak hadiran Erika dan David, langsung membuat kepalanya merasa pening. Dan semua itu karena kesalahan ayahnya yang kurang bersabar dalam menghadapi Erika.
"Sekarang apa yang bisa kita lakukan tanpa mereka berdua?! Anda juga mengerti kalau para penyihir kita menjadi pemalas sebab ayah memberikan kekuasaan yang terlalu berlebihan pada mereka. Bahkan saat situasi kerajaan kita dalam keadaan genting, mereka tidak ingin turun tangan! Dan Nona Erika seta Tuan David lah yang membereskan semua masalah itu."
Putra Mahkota Justin mengusap keningnya kasar dan berjalan ke sana kemari seraya dia merasa semakin gelisah. "Argh ... aku benci situasi di mana kita tidak bisa melakukan apa pun dan menerima bantuan siapa pun!" omelnya, cukup membuat Kastara ikutan khawatir.
"Lalu apa rencanamu, Putra Mahkota Justin? Sebagai calon pemimpin negeri ini, bukankah kamu harus memikirkan semua kepentingan negerimu?" celetuk Kastara, terdengar melimpahkan semua tanggung jawab krisis kerajaannya mereka kepada Putra Mahkota Justin.
Tentu saja, Putra Mahkota Justin yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya dalam dan melihat sang ayah dengan tatapan tajam.
"Bu-bukan begitu maksud ayah. Ini semua akan sebagai latihan-"
"Lalu kalau semua dunia ini kacau karena hasil rencanaku! Ayah akan menjatuhkan hukuman mati untuk menghukumku, kan? Hukuman untuk menanggung jawab semua kesalahan yang seharusnya ayah tangani!"
Hahahahaha ....
Putra Mahkota Justin tertawa begitu lantang, sebelum menunjukkan ekspresi datar yang terlihat begitu dingin dan memuakkan.
"Aku tidak akan peduli dengan masalah ini. Ayah yang membuat nama Erika dan Tuan David pergi dari Kekaisaran ini!" Putra Mahkota Justin membalik tubuhnya dan melirik Kastara dengan tatapan bengis. "Urus saja Kekaisaran yang sangat Anda bangga-banggakan ini, Yang Mulia. Saya pamit undur diri!"
Setelah mengatakan hal itu, Putra Mahkota Justin benar-benar meninggalkan rumah di bagian timur itu dan tidak terlihat sama sekali di Kekaisaran, walau Kastara sudah meminta para pengawal untuk mencarinya ke seluruh penjuru Kekaisaran.
Putra Mahkota Justin seakan lenyap ditelan bumi. Tidak ada yang tahu di mana dia berada. Begitu pula dengan nona Erika dan Tuan David yang tidak dapat mereka temukan.
Apa jangan-jangan ketiga orang itu bersekongkol untuk mogok kerja?
Tidak ada yang tahu. Yang jelas, mereka bertiga benar-benar tidak ada di dalam Kekaisaran Pritam. Tidak ada di seluruh wilayah yang di naungi kerajaan Pritam juga. Mereka menghilang bagaikan buih di lautan saat terkena ombak!
***
Kediaman Erika dan David yang ada di atas bukit wilayah utara ....
Putra Mahkota Justin tampak merawat beberapa kuda. Sementara Tuan David mencari rerumputan di kaki bukit untuk makanan kuda mereka.
Sudah satu minggu mereka tinggal di sana. Tinggal di rumah yang di bangun Erika dengan sihirnya.
Dan kegiatan mereka selalu membasmi, membasmi, membasmi, menghancurkan, dan merampok parah makhluk kegelapan yang mencoba masuk ke dalam Kekaisaran melalui gerbang utara.
Ketiga orang itu sudah cukup berjuang dengan meminimalisir makhluk yang masuk ke dalam wilayah Kekaisaran.
Walau begitu, mereka tidak tahu tentang tiga gerbang yang lain. Wilayah barat, timur, dan selatan! Erika, David dan Putra Mahkota Justin tidak ada yang mendengar kabar dari perbatasan di seberang sana.
"Entah apa yang membuat mereka tidak ingin mengirim balasan untuk kabar yang kita kirim." Putra Mahkota Justin mendongak menatap langit yang cukup suram karena tertutup awan pekat. "Tapi sepertinya, sesuatu yang buruk sudah terjadi di sana."
Putra Mahkota Justin menoleh ke arah Erika yang duduk bersantai dengan menikmati secangkir teh di teras rumah mereka.
"Tidak bisakah kita mengeceknya ke sana?" tanya Putra Mahkota Justin, sedikit memohon.
Erika tersenyum dan mengangguk singkat. "Tentu. Kalau itu permintaan Anda, Tuan!"