
Tok ... tok ....
"Yang Mulia, para ksatria Kekaisaran menunggu Anda di luar," ucap seorang pelayan, dari balik pintu kamar Nathania.
Nathania yang sedang bersiap-siap, dibantu oleh Sabrina dan dua orang pelayan lainnya, menoleh ke arah pintu sambil mendengus kasar.
"Sebentar lagi selesai. 5 menit lagi!" seru Nathania, dari dalam.
"Baik, Yang Mulia."
Sabrina dan dua orang pelayan segera mempercepat kerja mereka agar Nona mereka bisa segera pergi.
"Sudah siap, Yang Mulia," ucap Sabrina, memberi tahu.
Nathania mengangguk mengerti dan segera keluar dari kamarnya. Di depan pintu, dia sudah disambut empat orang pengawal dengan seragam khas Kekaisaran.
"Kami akan mengantar Anda bertemu Kaisar dan Permaisuri," ucap salah satu di antara 4 pengawal itu pada Nathania.
Nathania hanya mengangguk pelan, dan membiarkan keempat pengawal itu mengantarnya pergi.
Beberapa saat kemudian, Nathania sampai di depan pintu salah satu ruangan di rumahnya, yang ternyata tak jauh dari kamarnya.
"Yang Mulia, Nona Nathania telah tiba," ucap pengawal yang menjemput Nathania, setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuk!" seru Kaisar, membuat kedua katup pintu terbuka dan terpampanglah seorang lelaki berdiri di dalam sana di temani istri dan putra mahkota Justin.
"Salam hormat untuk matahar–"
Prang!
Baru saja memberi salam, tapi tiba-tiba Kaisar yang di puja sebagai lelaki agung itu sudah melemparkan gelas pada wanita yang akan menjadi calon menantunya.
Bukannya takut, Nathania malah bangun dari sikap hormatnya dan berjalan keluar ruangan itu tanpa rasa hormat sedikit pun.
Bahkan Nathania meninggalkan tatapan dingin yang menusuk dalam, pada Kaisar secara langsung.
Semua orang yang ada di dalam sana langsung tercengang. Tak pernah ada gadis atau rakyat yang berani menentang Kaisar sampai memperlakukannya serendah ini.
"Bisa-bisanya kau melakukan ini pada Kaisar negeri ini!!" Kastara berteriak lantang, tak membiarkan Nathania keluar dari ruangan itu dengan bebas. "Pengawal, tangkap gadis angkuh itu!"
Kedua pengawal istana langsung turun tangan, menghadang langkah Nathania dengan tubuh besar mereka.
"Yang Mulia, mohon ampuni–"
"Duke." Nathania berujar dengan nada dingin, melihat sang Ayah yang datang dan langsung berlutut di hadapan kaisar, hendak meminta ampun karena sikapnya.
Carlin menoleh pada anak perempuannya dengan lirikkan tajam. Tapi naasnya, tatapan Nathania yang bak pembunuh itu, membuat Duke Carlin merasa gentar.
"Tidak perlu bersikap sopan di depan orang yang tidak pandai menghargai orang." Nathania menatap Kaisar yang semakin kesal karena perkataannya, di sertai tatapan dingin nan tak acuh. "Di duniaku, itu di sebut etika bisnis!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Nathania berjalan pergi menerobos dua kesatria di depannya.
"Jika kau berani beranjak dari tempat itu, aku akan memenggal kepala Ayahmu di sini! Saat ini juga!"
Sing ....
Tiga orang pengawal menghunus pedang pada Tuan Carlin dan spontan membuat langkah Nathania berhenti.
Nathania membalik tubuhnya, menatap leher Carlin yang di kepung 3 pedang.
"Lakukan saja." Nathania tersenyum dengan memiringkan kepalanya. Kedua mata lebar yang tak menyipit saat tersenyum itu, terlihat mematikan untuk lawannya. "Toh, di sebut agung pun kau hanya seorang manusia Kastara!"
Deg ....
"Pemberontak!" desis Ratu Eleanor, ikut turun tangan mendengar nama suaminya di sebut dengan tegas oleh calon menantunya.
Angin berembus, kedua mata coklat Nathania berubah menjadi merah pekat layaknya warna darah.
Duke Carlin yang terkejut, langsung terduduk melihat satu sosok hitam besar yang memeluk Nathania dari belakang.
Asap hitam membentuk tubuh makhluk besar itu. Dia terlihat mengerikan, terlebih saat kedua mata Nathania tampak kosong, seakan ada yang mengendalikannya.
"Erika!" gumam Daniel, menatap adik perempuannya yang perlahan-lahan berubah.
Ingatan 5 tahun yang lalu terbayang di kepala Daniel, membuat lelaki itu mengambil sebuah pedang dari salah satu ksatria yang berdiri di dekatnya, dan berlari ke arah Nathania dengan secepat mungkin.
"Ini bukan duniamu! Kalau kamu menghancurkannya, takutnya kita tak bisa kembali!" ucap Daniel, membuat Nathania menoleh dan langsung mengarahkan tangan kanannya ke arah itu.
Mahluk besar yang berdiri di belakang Nathania bergerak secepat kilat dan menerjang Daniel.
Sayangnya, Daniel menghindar dengan baik dan membuatnya bisa meraih Nathania detik itu juga.
"Maaf!" ucap Daniel, sebelum dia menggores pergelangan tangan Nathania dengan pedang itu dan membuat tangan gadis itu berdarah.
Tapi setelahnya, Daniel langsung mendekapnya erat. Seakan ada kejadian buruk yang sudah menimpa gadis itu, sampai-sampai dia harus melindunginya dengan baik.
Sruk!
Nathania langsung jatuh pingsan. Daniel mendekapnya erat, takut jika adiknya kehilangan kendali dan dia harus melihat banyak darah di tempat asing ini.
"Ayah, Anda boleh melakukan apa pun sebagai Kaisar." Daniel menatap Kastara yang masih tercengang dengan tubuh kakunya. "Tapi tolong jangan membuat Lady Nathania marah!"
"Aku Kaisar di kerajaan ini!"
"Dan nyawa Anda tetap hanya satu walaupun Anda duduk di kasta tertinggi dunia ini!" sergah Daniel, dengan cepat dan membuat Kastara syok saat mendengarnya.
"Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu pada Kaisar, Pangeran Daniel! Apa rasa hormatmu–"
"Ini bukan lagi tentang kehormatan!" Daniel berteriak, membuat Justin menghentikan perkataannya. "Jangan membawa kekuasaan saat nyawamu terancam, Kak! Kau akan menjadi orang yang mudah di celakai," tegur Daniel, bangkit sambil membopong tubuh Nathania di dalam dekapannya.
Daniel membungkuk hormat pada mereka dan berjalan pergi meninggalkan kediaman Duke Carlin. Tentu dengan Nathania yang di bawanya.
"Pangeran Daniel, Anda mau membawa adikku ke mana?!" seru Carlos, menyamai langkah kereta kuda Daniel yang melaju kencang.
Daniel mengintip dari jendela, menatap Carlos yang tampak gusar melihat adik perempuannya di bawa lari oleh Pangeran kedua.
"Saya akan membawanya pergi sangat jauh dari sini." Daniel memandang wajah Nathania yang pucat pasi seperti orang yang hendak meninggal. "Dia tidak akan bisa bertahan di tempat ramai yang penuh dengan tekanan. Tapi jika Anda tidak bisa mempercayai saya, Anda bisa ikut saya ke tempat tujuan kami."
Carlos mengangguk mantap. "Baiklah, aku akan ikut bersama kalian pergi. Aku akan mengirimkan pesan untuk Kaisar dan keluargaku tentang ini, menggunakan merpati putih."
"Ya, Yang Mulia!" ucap Pangeran Daniel, dan kembali menatap ke dalam kereta kuda, menunggu kesadaran Nathania kembali.
Di kediaman Duke yang kacau ....
Kaisar masih termenung dengan mengingat semua perkataan putra keduanya. Walaupun di perlakukan seperti orang bodoh, sayangnya Kastara tak bisa marah karena semua yang di katakan Daniel memanglah benar.
"Yang Mulia, ada merpati pos dari Tuan Carlos," ucap Lukas, kepala pelayan kediaman Duke Carlin.
Carlin mendekat dan membaca pesan itu dengan saksama. Lalu dia menghela napas lega sebelahnya.
"Apa yang di katakan putramu, Duke?!" tanya Kaisar, membuat Carlin menoleh padanya dengan tatapan hormat.
"Putra saya berkata, dia sedang mengikuti perjalanan Pangeran kedua. Keadaan putri saya juga tidak stabil, karena itulah putra saya mengikutinya." Carlin tampak risau dalam seketika.
"Saya cemas, ke mana mereka akan pergi. Apakah Yang Mulia tahu ke mana Pangeran Daniel akan membawa putri saya?" tanya Duke Carlin, tampak sedih.
"Aku tak tahu, Duke. Maafkan aku," ucap Kastara, merasa sedikit bersalah.