Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 10



Di tengah-tengah badai aroma darah yang menyengat, Nathania dan Carlos masih menyusuri jalanan hutan.


Mereka yang segera ingin kembali ke rumah, tidak memedulikan waktu yang semakin larut dan bahaya yang bisa semakin mengintai mereka.


Carlos memandang ke arah Nathania dengan tatapan ragu. Dia ingin bertanya pada Adik perempuannya, tapi keadaan mereka terlalu berbahaya.


"Kakak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nathania, tanpa menoleh ke arah Carlos yang terus mengikuti laju kudanya pada dua langkah di belakang kuda Nathania.


Carlos menyejajarkan posisi mereka terlebih dahulu, dan memandang Adik perempuannya sesekali saat dia harus fokus pada jalanan berbatu yang mereka lalui.


"Nathania, aku merasa sedikit aneh denganmu." Carlos membuat Adik perempuan yang menoleh sejenak padanya. "Bukan karena sesuatu yang penting, tapi kenapa tiba-tiba kamu bisa berpikir kalau mereka adalah mayat hidup? Bahkan saat itu kamu belum melihat mereka secara langsung, kan? Tapi kamu sudah menebaknya dengan tepat."


Nathania mengulas senyuman masam. "Kak, dulu aku tidak senang belajar, kan?" Nathania menatap Carlos yang mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya. "Tapi tidak untuk sekarang. Aku lebih suka menghabiskan waktu malamku dengan buku-buku yang ada di perpustakaan. Saat itu aku melihat Ayah selalu keluar malam dan membuat lingkaran sihir di taman."


Carlos mengerutkan keningnya dalam. "Ayah? Lingkaran sihir? Jadi maksud kamu, Ayah sudah mengetahui keberadaan mereka?"


Nathania mengangguk mantap. "Kak, Ayah adalah seorang penyihir yang hebat. Walaupun aku masih beberapa hari memperhatikannya, tapi aku tahu dengan benar kalau Ayah adalah penyihir yang sangat hebat. Kedua mataku yang menyaksikannya," ucapnya, sambil mengulas senyuman bangga.


"Mungkin terdengar sedikit sombong untukmu. Tapi Ayah adalah salah satu anggota penyihir terhebat di antara 10 peringkat atas. Mungkin tiga tidak ada penyihir baru yang masuk dalam satu tahun ini, beliau masih akan menempati posisi 3 teratas. Bukan hebat lagi, kan? Tapi sangat hebat," ucap Carlos, menjelaskan.


"Tapi anehnya, keturunan Ayah sama sekali tidak memiliki sihir, kan? Kakak tidak punya, sepertinya Adik juga tidak-"


"Kata siapa Azel tidak memiliki kekuatan sihir? Di antara kita semua, dia cukup mahir menggunakan kekuatan teleportasi. Kalau kamu tahu, saat kita menggunakan teleportasi kita memakan banyak sekali tenaga. Dan jika tubuhnya tidak kuat, dia akan langsung pingsan setelah menggunakan kekuatan itu," sambar Carlos, menjelaskan dengan nada setengah mengejek.


"Sebenarnya yang tidak memiliki kekuatan sihir hannyalah kamu seorang, Nathania. Itulah mengapa Evelin tidak pernah membiarkan aku ataupun Ibunda membawamu masuk ke pesta resmi. Terutama pesta keluarga kerajaan."


Carlos membuang napas kasar dan memandang Adiknya dengan tatapan sedih. 


"Tapi sialnya, raja malah mengirimkan permintaan pertunangan kepada keluarga kita. Hahhh ... aku tidak mengerti apa yang dipikirkan kaisar tua itu, tapi aku yakin kalau niatnya memang buruk. Dari dulu dia tidak menyukai keluarga kita karena kita memiliki Ayah yang sangat hebat melebihi kemampuan. Orang yang dengki pada seseorang, pasti akan berbuat apa pun untuk menjatuhkan musuhnya!" sambung Carlos, masih menunjukkan ekspresi sedihnya tapi sudah bercampur dengan rasa kesal dan jengkelnya.


"Begitukah? Apakah karena itu, aku sampai pernah melompat dari kamarku untuk mengakhiri hidupku? Karena tidak mau di nikah kandungan putra mahkota."


Carlos yang mendengar pertanyaan itu langsung terdiam dengan kedua mulut yang terkatup rapat. Rahangnya tiba-tiba menjadi kaku dan dia tidak lagi memandang Nathania dengan ekspresi lembut.


"Jangan bahas tentang itu lagi. Seandainya jika Ayah bukan penyihir yang bisa mengubah keadaanmu saat itu, mungkin sekarang aku akan benar-benar menyalahkan diriku yang tidak bisa mengeluarkan kamu dari pertunangan dengan si berengsek itu!" celetuk Carlos, terlihat sangat marah.


Nathania dia dan melihat kediaman keluarganya yang ada di depan sana. "Akhirnya kita sudah sampai di rumah," ucapnya, dengan senyuman mengembang.


Namun dalam sejenak, senyuman manis itu langsung enyah dari wajahnya karena melihat banyaknya "Undead" yang berhasil menerobos masuk ke dalam halaman rumah mereka.


Carlos juga terkejut. Tapi daripada takut, kedua manik mata yang mendapat tajam pada para musuhnya itu, terlihat 10 kali lebih menakutkan dari tatapan Ayahnya saat marah.


"Nathania, berikan pedangmu padaku!" pinta Carlos, mengulurkan tangannya tempat di samping Nathania.


Nathania memandang wajah Kakaknya beberapa saat sebelum memberikan benda itu pada sang Kakak. "Jangan sampai terluka. Aku akan kembali secepat mungkin dengan bala bantuan!" ucapnya, dengan tegas.


Mungkin insting mereka berdua untuk melindungi keluarga sanggatlah dalam. Mangkanya, tatapan mata yang seperti bilah pedang itu muncul tanpa mereka sadari.


"Aku berharap kamu memastikan orang-orang yang ada di dalam kastel. Jika kamu berhasil menyelamatkan mereka, maka datanglah menyelamatkan kami. Tapi kalau keadaan di depan tidak kondusif, aku dengan tulus memintamu untuk bersembunyi dengan yang lain." Carlos menatap lurus ke arah Nathania yang juga memandangnya. "Berjanjilah, walaupun aku dan Ayah tidak berhasil hidup setelah melawan mereka. Kamu kan Evelin harus tetap menjaga keluarga ini, apa pun yang terjadi!"


Nathania tidak menjawab ataupun mengangguk. Dia hanya langsung pergi dengan kudanya memasuki kastel.


Ya, Nathania membawa kuda jantan yang tengah dia tunggangi saat ini, masuk ke dalam rumah dan menerobos kerumunan Undead yang berusaha masuk kebagian dalam rumahnya.


"Tuan Johan!" teriak Nathania, dari ambang pintu.


Lelaki yang tengah mengenalkan baju zirah besi itu, menoleh ke arah Nathania. Dia yang sibuk melindungi Edelia, Azel dan juga Evelin, masih sempat tempatnya memandang ke arah Nathania sayang memanggilnya.


"Ya, Nona?! Tolong berlindung-"


"Tidak, Tuan. Jangan meminta aku melakukan hal gila! Jawab aku, di mana aku bisa menemukan minyak tanah?!" teriak Nathania, mengundang beberapa perhatian Anda dan membuat mereka, berbondong-bondong berlari padanya.


Nathania mengeluarkan sebuah pedang yang sempat diambil sebelum memasuki rumah yang dipenuhi dengan Undead ini.


Dia menggunakan benda tajam itu untuk melawan mereka, menghunus, mencabik, dan memotong leher para Undead itu seakan-akan dia tidak peduli dengan rasa takut.


Tuan Johan dan para keluarga Nathania yang melihat tindakan keji yang dilakukan oleh putri kedua dari Duke Carlin itu, sempat terkesima dan juga terkejut.


"Tuan Johan? Jangan menahanku hanya karena Anda tidak terbiasa melihatku bersanding dengan darah. Katakan! Di mana aku bisa menemukan minyak tanah?!" teriak Nathania, sekali lagi.


Tuan Johan langsung tersadar dari lamunannya, dan berkata, "Anda bisa menemukannya di gudang bagian belakang. Apakah Anda perlu bantuan untuk mengambilnya?"


Nathania tersenyum culas. "Jika kamu pergi bersamaku, para ksatria kita akan kehilangan fondasinya. Aku masih tahu diri untuk tidak membuat mereka gugur karena kamu ingin melindungiku. Aku akan mengambilnya sendiri dan segera kembali."


"Aku! Bawa aku saja, Kak!!" teriak Azel, melambaikan tangannya dan sempat menghentikan langkah Nathania yang hendak pergi meninggalkan tempatnya.


Nathania diam beberapa saat hamil memandangnya. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk membawa Azel.


Menggenggam erat pedangnya, Nathania menghunus semua Undead yang berusaha menyerang dan menjatuhkannya dari kuda tanpa ampun.


"Ayo!" teriak Nathania, mengulurkan tangannya kepada sang Adik dan menariknya naik ke atas kuda dia tunggangi.


"Pegangan yang kuat, Azel! Aku tidak akan sempat menolongmu jika kamu jatuh," pesan Nathania, saat mereka hendak berangkat.


Azel, anak lelaki berusia 15 tahun itu langsung memeluk pinggang ramping Kakaknya dengan kencang.


"Kita berangkat!"