Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 26



"Tuan Aron, di mana malam ini kita akan tinggal?" tanya Tuan Tristan, berjalan mengekor pada langkah Aron, yang membimbing jalan mereka.


Lebih tepatnya, Tuan Aron membimbing jalan Tuan Carlos, Duke Carlin, dan Tuan Tristan.


Sementara Erika dan David sedang pergi patroli di dalam hutan untuk sekedar memastikan apa ada sesuatu yang berbahaya di sekitar Kerajaan utara.


"Tentu kita akan pergi ke Kerajaan utara, bukan? Saya sudah meminta pada beberapa pelayan untuk menyiapkan kamar kalian. Bahkan paduka Raja juga mengizinkan kalian untuk tinggal." Tuan Aron menoleh ke arah tiga orang yang berjalan di belakangnya dengan membawa kuda mereka. "Kalian yang datang dari jauh untuk membantu kami menyelamatkan desa, tentu harus diperlakukan dengan baik, bukan?"


Duke Carlin menunduk dan berterima kasih pada Pangeran ke-7 Kerajaan utara itu. "Terima kasih karena Anda sudah termurah hati pada kami, Pangeran. Walaupun kedatangan kami sangat tiba-tiba, sapi kami tetap mendapat sambutan yang layak dari Kerajaan Anda. Sungguh terima kasih," ucapnya, tetap menjaga sopan santunnya.


Tuan Tristan dan Tuan Carlos juga mengucapkan hal serupa. Berterima kasih pada Pangeran Aron karena telah menyiapkan tempat tinggal untuk mereka.


"Lalu bagaimana dengan kalian berdua? Kalian akan tinggal di istana juga?" tanya Pangeran Aron, menoleh ke kanan dan melihat dua orang yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


David menggelengkan kepalanya pelan. "'Jika Anda berkenan, bisakah Anda menyiapkan satu rumah di sekitar perbatasan? Saya baru saja membuat penghalang di sekitar benteng perbatasan Kerajaan utara dan timur. Saya harap Anda bisa menyediakan suatu rumah sederhana untuk kami tinggal," ucapnya, menjelaskan.


"Anda tidak ingin tinggal bersama kami di sana? Tahu Anda tinggal di luar, saya tidak menjamin adanya pelayan yang bisa ikut dengan Anda. Apalagi di area perbatasan. Takutnya, banyak pemberontak yang berdatangan dan membuat para pelayan kami cedera." Pangeran Aron sedikit merasa sungkan karena menolak permintaan itu.


Tapi saat Pangeran Aron melihat ekspresi wajah Erika yang buruk, dia langsung diam dan memandang David dengan tatapan masam.


"Saya akan mengusahakannya. Saya akan bicara terlebih dahulu pada Yang Mulia Raja mengenai hal ini. Anda bisa ikut kami terlebih dahulu ke istana dan beristirahat di sana selagi para pelayan menyiapkan rumahnya," jelas Pangeran Aron, setelahnya.


David mengangguk paham dan melihat adik perempuannya yang terus mencari sesuatu yang cukup mencurigakan baginya.


"Ada apa?" tanya Tuan Carlos, berjalan mendekati Erika dan ikut menoleh ke sekeliling mereka.


"Saya mencium bau tidak sedap dari sekitar sini. Seperti bau monster yang hidup di rawa-rawa." Erika menoleh ke arah Pangeran Aron dengan pasti. "Apakah di sekitar sini ada danau atau rawa-rawa?" tanyanya.


"Rawa-rawa? Sepertinya di sekitar sini memang ada rawa-rawa. Jika Anda masuk ke arah barat di bagian hutan sana, Anda akan langsung menemuinya. Jangan bilang kalau Anda mau masuk ke dalam hutan itu, Nona Erika. Di sana juga berbahaya karena dijaga siluman ular yang pandai meracik racun," ucap Pangeran Aron, bukan hanya sekedar memperingatkan tapi seperti sudah melarang Erika untuk pergi ke sana.


"Benarkah?" tanya Erika, sayangnya malah pergi ke sana dan diikuti Tuan Carlos pula.


"Carlos, kamu akan ikut pergi dengan nona Erika?" tanya Duke Carlin, membuat putra bungsunya menoleh sejenak arahnya dan mengangguk singkat.


"Saya akan baik-baik saja, Ayah. Anda tidak perlu mencemaskan saya."


Setelah mengucapkan itu, Tuan Aron dan Erika naik ke atas kuda dan pergi ke arah yang ditunjukkan Pangeran Aron.


Pangeran Aron menghela napas panjang nan kasar, lantas mengalihkan pandangannya pada Tuan David.


"Apakah karakter nona Erika memang seperti itu? Berjiwa bebaskan tidak kenal takut. Padahal nyawanya hanya satu. Tapi dia sangat pemberani, ya?" celetuk Pangeran Aron, sama sekali tidak berniat untuk mengejek.


Pangeran Aron, Duke Carlin dan Tuan Tristan, membelalak lebar dengan mulut setengah terbuka karena saking terkejutnya mendengar fakta tersebut.


"Lalu? Apa yang terjadi pada nona Erika setelah itu? Anda berhasil menyelamatkannya??" tanya Tuan Tristan, tampak penasaran dan bersemangat dengan pembahasan mereka.


David menggeleng pelan. "Tentu tidak. Saya tidak sekuat itu untuk bisa melawan Pangeran iblis. Erika lah yang dipulangkan oleh Pangeran iblis secara langsung dan diantar ke rumah."


David kembali tertawa. Namun kini suara tawanya terdengar hambar dan terkesan mengejek dirinya sendiri.


"Gadis sekecil itu bisa membuat Pangeran ke-7 dunia bawah kerepotan karena kelakuannya yang meminta ini dan itu sebagai persyaratan pernikahan. Hahaha, bahkan saya merasa sangat bodoh karena sudah mengira Erika tidak akan pernah kembali." David menoleh ke arah tiga orang lelaki yang masih terkejut dengan tatapan masam. "Saya melupakan tentang Erika yang merupakan salah satu penyihir terkuat tingkat negara."


Setelah mendengar penjelasan itu, tidak ada lagi perkataan yang terlontar dari ketiga lelaki yang mengikuti langkah David.


Semua orang diam dengan perasaan berkecamuk dan malu. Ya, malu dengan diri mereka yang sempat membanggakan diri karena bisa meraih jabatan bangsawan di usia tua sementara di lain tempat ada seorang gadis yang berusia 10 tahun, tapi sudah mampu mengalahkan Pangeran kegelapan.


"Aku sudah menduganya. Aura yang dimiliki nona Erika memang tidak sepatutnya kita sepelekan," gumam Pangeran Aron, masih tetap menunjukkan ekspresi masamnya.


***


"Kita akan pergi ke mana, Nona Erika?" tanya Tuan Carlos, yang sedang bingung memilih jalan karena mereka menemui persimpangan.


Erika memejamkan matanya dan mencari hawa keberadaan yang lebih pekat dari dua arah itu.


"Kita pergi ke kanan, Tuan Carlos!" ucap Erika, sambil menunjuk ke arah yang dia rasa memiliki hawa keberadaan kegelapan yang begitu pekat.


"Hey gadis kecil. Jangan pergi ke sana! Di sana ada ayahku yang sedang membimbing para prajurit kegelapan. Sebaiknya kamu pulang saja dan biarkan mereka membuat kerusuhan sendiri dan membereskannya sendiri!" celetuk seorang lelaki, yang sedang bersantai di atas salah satu dahan pohon yang cukup kuat, di sisi kiri tempat mereka berhenti.


Erika yang cukup mengenali suara lelaki itu, spontan bendungan dan melihat Pangeran ke-7 dunia bawah yang pernah di buat kerepotan karena ulahnya.


"Yang Mulia? Sejak kapan Anda boleh berkeliaran seperti itu oleh baginda raja??" tanya Erika, setengah mencemooh.


Lelaki bersurai merah itu melompat turun dan memandang wajah Erika yang tampak cantik, tapi setelah memiliki hawa kegelapan yang sangat pekat di dalam dirinya.


"Aku tidak menyangka kamu sudah mati dan masih bisa bertahan di alam ini. Erika, bukankah sebaiknya kamu ikut aku ke dunia bawah?" tanya lelaki bersurai merah itu, mendekati kuda Erika dan menggenggam tangan kanan Erika dengan lembut.


Erika tersenyum manis kepadanya. "Saya harap Anda bisa menunggu saya. Karena sebentar lagi saya akan ikut bersama Anda. Saya pastikan itu akan benar-benar terjadi."


Lelaki bersurai merah itu mengangguk paham dan mengecup punggung tangan Erika sebelum menghilang bagai kabut.


"Baik. Aku akan menjemput kamu setelah urusan kamu di dunia ini selesai, calon pengantinku!"