Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 16



Melihat halaman depan yang sudah seperti lautan darah, Duke Carlin menggelengkan kepalanya ampun saat melihat putri keduanya berdiri di tengah-tengah tempat kacau itu.


Ini pakaian yang terbuat dari kain satin berwarna putih, telah diwarnai menjadi merah dengan darah manusia.


Dengan santainya, Nathania membersihkan pedang yang ada di genggaman tangannya dengan menggunakan saputangan milik Tuan Johan.


Kedua orang itu sudah tidak layak dilihat sebagai seorang bangsawan. Walaupun Tuan Johan adalah ksatria yang bertugas untuk menjaga Nathania, Duke Carlin tentu tidak pernah melupakan identitas Tuan Johan sebagai senior kepala ksatria kekaisaran.


Tapi lihatlah penampilan kedua orang tersebut. Sama-sama tidak pantas dilihat oleh mata.


Tapi tampaknya, hanya Duke Carlin yang berpikir seperti itu. Karena semua rakyat senang dan anggota keluarganya yang berhasil selamat juga sangat membanggakan putri keduanya.


"Kak ... bagaimana kamu bisa-"


"Berhentilah berbicara dan buat semua mayat yang ada di sini terbakar! Sebelum mereka bangkit kembali dan menyusahkan aku dan Tuan Johan," seru Nathania, menegur Azel yang hendak membanggakan dirinya.


Azel langsung terdiam dan memandang kakak perempuannya dengan tatapan kesal. "Cih ..."


Tapi walaupun begitu, Azel tetap melakukan perintah kakaknya dan membakar semua mayat zombie yang bergeleparan di halaman rumah mereka dengan sihirnya.


"Kau sudah puas bermain?!" celetuk Duke Carlin, memandang wajah putrinya yang sudah kotor oleh noda darah.


Nathania mengangguk bangga dan memberikan pedang tersebut kepada sang ayah. Membuat Duke Carlin mendenguskan napas kasar dan mengikutinya pergi.


"Bisa-bisanya kamu mengangkat pedang di depan Putra Mahkota. Bagaimana kalau pertunangan kalian berdua benar-benar batal? Kamu tahu konsekuensinya?!" tanya duka Carlin, dengan nada tinggi.


Nathania menghentikan langkahnya, dan berbalik ke belakang. Menatap sosok sang ayah dengan tatapan dingin yang menusuk dalam.


"Ayah, bukankah sebagai penguasa kamu harus berpikir dengan jernih tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dilupakan di saat genting?" celetuk Nathania, perlahan-lahan mendekat ke arah Duke Carlin dengan tatapan mengintimidasi.


"Sayang, masuklah ke dalam untuk membersihkan diri. Jangan pikirkan ayahmu! Biar ibunda yang berbicara padanya," ucap Edelia, berjalan mendekati ayah dan anak yang sedang bertengkar di tengah-tengah ruang utama.


Nathania memalingkan wajahnya ke arah sana ibunda. "Ibu, tolong tegaskan kepada ayah apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dilupakan! Beliau terlalu mementingkan jabatan sampai tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang penguasa. Aku paling tidak suka dengan orang seperti itu. Kekuatannya saja kuat, tapi nyalinya seperti tikus!"


Deg ....


Semua pelayan dan keluarga Nathania yang mendengar perkataan tajam Nathania, yang dilemparkan kepada sang ayah, Duke Carlin, merasa jika sikap Nathania mulai sedikit keterlaluan.


"Anak kurang ajar! Ambilkan aku pemukul. Biar aku-"


"Kenapa tidak sekalian memenggal kepalaku? Bukankah itu lebih baik daripada membuatku tetap hidup tapi tidak berguna?!" Nathania yang hendak pergi meninggalkan tempatnya, kini mulai kembali berjalan mendekati sang ayah dengan melemparkan tatapan membunuh. "Ayah ingin membuat kedua kaki kecilku terluka dan tidak bisa berjalan? Potong saja sekalian!" serunya, lantang.


Suasana tegang mulai menyelimuti kediaman Duke Carlin. Perkataan Nathania yang sedikit keterlaluan, membuat semua orang menjadi tegang dan suram.


Nathania memang orang yang paling hebat jika disuruh menentang sesuatu. Lihat saja kelakuannya sekarang. Sudah sama persis seperti kelakuan anak durhaka!


Tapi tidak sampai di sana, Duke Carlin tiba-tiba menarik sebuah padang dari sarungnya. Mengacungkan ujung pedangnya ke arah Nathania.


Putra Mahkota Justin, yang dari tadi hanya menonton dari lantai 2, kini langsung turun ke lantai satu dan menemui Duke Carlin.


"Tuan Carlin, tolong tenanglah. Anda membuat semua pelayan dan istri Anda takut. Terlebih lagi, Tuan Azel masih terlalu muda untuk menyaksikan kejadian ini." Putra Mahkota memohon dengan tulus. "Tolong turunkan pedang Anda."


Lalu dia berjalan pergi meninggalkan tempatnya, diikuti oleh sang istri dan anak perempuan pertamanya.


"Nona Nathania, bukankah perusahaan Anda terlalu keras untuk didengarkan orang tua? Bagaimanapun juga, Tuan Carlin adalah orang yang sudah membesarkan anda dan mendidik Anda sampai seperti ini." Putra Mahkota berusaha menenangkan emosi Nathania dengan perkataan yang lembut.


Tapi apalah daya, Nathania malah melemparkan tatapan dingin dan tak acuh padanya. "Ini bukan urusan Anda."


Nathania pergi meninggalkan ruangan diikuti oleh pelayan setianya, Nona Sabrina.


***


Di dalam kamar, Nona Sabrina terus melihat ke arah Tuannya yang sedang termenung di tepi balkon jendela kamar itu.


Dengan segelas anggur yang menemani, Nathania terus memandang sang malam dengan tatapan lelah dan sendu.


"Nona, ini sudah masuk jam tidur. Anginnya juga mulai terasa dingin. Jika Anda terus berada di sana, saya takut kalau besok pagi Anda sakit." Sabrina maju dua langkah, dan berhenti tepat di ambang jendela. "Tolong masuklah, Nona."


Nathania melirik pelan pada pelayannya. "Kau saja yang istirahat. Kembalilah ke kamarmu, nanti aku akan tidur saat mengantuk."


Sabrina tidak berani membantah perkataan itu. Terlebih lagi, kini emosi Nathania sedang memuncak. Dia yang berstatus sebagai pelayan kecil, tentu saja tidak berani membuat gara-gara di situasi ini.


"Baik, Nona. Kalau begitu saya undur diri, selamat malam."


Sabrina pergi. Meninggalkan Nathania di dalam kamar seorang diri.


"Cahaya yang sangat remang. Kamu merasa nyaman dengan kamar gelap seperti ini?" tanya seorang lelaki yang sudah jelas Nathania kenali dari suaranya.


Tak perlu menoleh, dia bisa menyebut nama lelaki itu dengan baik.


"Yang Mulia Putra Mahkota, bukankah seharusnya Anda berada di kerajaan? Kenapa malah ada di kamar saya?!" tanyanya, tanpa menatap lawan bicaranya.


Putra Mahkota Justin berdiri di samping Nathania. "Kamu tidak kedinginan? Ternyata anginnya cukup kencang di sini."


Nathania menghela napas lembut nan panjang. "Anda tidak mau pergi? Saya mau tidur!" ucapnya, berusaha mengusir Justin.


Justin melihat Nathania berlalu dari sampingnya, pergi ke tempat tidur dan merebahkan dirinya sambil menarik selimut sampai ke atas dada.


Justin mendekatinya dan berdiri di samping ranjang. "Gadis yang berani. Kamu bisa tidur di saat lelaki asing ada di dalam kamar kamu? Tidak takut aku serang?? Asal kamu tahu, aku masih lelaki normal." Justin menunjuk ke arah dirinya sendiri sambil mengulas senyuman tengil.


Nathania tetap memejamkan matanya. "Ya, saya tahu kalau Anda lelaki normal. Kalau tidak normal, mana mau Anda merencanakan pernikahan dengan saya?!"


"Lalu? Kenapa kamu sudah tidur padahal masih ada aku di sini? Kamu tidak takut aku serang??" tanya Justin, untuk ke sekian kali.


Nathania menggeleng. "Saya yakin, kalau lelaki bermartabat tidak akan melukai seorang perempuan," jawabnya, bijak.


Mendengar itu, Justin tersenyum dan mengangguk beberapa kali sambil berjalan keluar kamar Nathania.


"Sampai jumpa besok pagi. Selamat malam, calon istriku!" salam Putra Mahkota Justin, mengulas senyuman manis.