Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 22



Degum!!!


Satu sentakan kaki raksasa, membuat tanah yang sedang mereka pijaki bergetar sangat kuat.


Erika dan David menyiapkan diri. Memasang sebuah penghalang yang sangat kuat di perbatasan ladang gandum dan jalanan hutan.


"Sudah lama aku tidak menggunakan sihir. Ternyata ini cukup menyakitkan!" ucap Erika, sedikit mengeluh saat hidungnya berdarah ketika dia membangun penghalang besar dengan tiga lapis sihir.


David tertawa kecil. "Ya, mungkin bagimu sangat menyakitkan. Sudah setengah tahun kamu tidak menggunakan sihir! Terlebih lagi, saat kita datang ke sini kamu terkenal sebagai anggota keluarga penyihir yang cacat!" celetuknya, tak bermaksud mengejek.


Erika hanya memutar bola matanya malas dan fokus menggunakan sihir baru yang beberapa kali dia lihat dari Duke Carlin saat lelaki paruh baya itu melawan para Undead. Ya, Erika meng-copynya tanpa belajar cara menggunakannya dari sang pemilik.


"Aku tahu ada sebuah retakkan di wilayah timur. Ternyata saat aku telusuri beberapa saat yang lalu! Mana bisa lubang sebesar itu disebut retakkan? Bagiku itu adalah celah yang sengaja dibuka agar makhluk dunia sebelah masuk ke sini dengan leluasa."


David menatap adik perempuannya dengan senyuman simpul. "Sudah aku duga. Jika melihat banyaknya makhluk magis yang sering keluar masuk di wilayah ini, sepertinya itu bukan sekedar retakkan biasa! Dan sekarang kamu bilang kalau itu adalah celah. Yah, sangat masuk akal."


David menghela napas panjang dan melirik ke arah Tuan Carlos dan Tuan Tristan yang mengintip dari balik jendela, dengan kedua pupil mata mereka yang bergetar.


"Hahaha ... tampaknya para rakyat kekaisaran itu takut menghadapi makhluk seperti mereka!" celetuk David, sedikit mengejek.


Erika menelisik ke arah belakang dan mengulas senyuman manis pada kedua lelaki itu. "Jangan berbicara seperti itu! Mereka sudah mati-matian mempertahankan posisi berdiri mereka, walaupun kedua bahu mereka sudah terguncang sekencang itu!" celetuknya, disertai tawa kecil di akhir kalimatnya.


David dan Erika mulai fokus menatap ke arah depan. Saat seorang raksasa berhasil menerobos masuk penghalang yang dibuat Erika.


"Kau tahu apa bedanya dunia ini dan dunia kita?" tanya David, membuat adik perempuannya menoleh ke arahnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Apa?" tanya Erika, sejenak memandang sang kakak lelaki sebelum kembali memandang depan.


"Di dunia kita, para penyihir dan makhluknya sangat kuat. Tapi jika mereka bertemu orang yang lebih kuat! Keduanya akan sama-sama runtuh. Berbeda dengan dunia ini. Makhluk magisnya lebih kuat dari dunia kita. Aura mereka lebih gelap! Tapi para penyihir di dunia ini sangat hebat sampai-sampai tidak membuat para rakyatnya gemetaran jika kerajaan itu sudah memiliki satu orang penyihir saja! Aneh, kan? Padahal di wilayah kita ada 7 orang penyihir untuk melindungi satu kota. Benar-benar lemah!" celetuk David, mengejek dunianya sendiri.


"Hey, apa kamu kesal karena kita berdua mati dengan konyol?! Padahal kita berdua adalah penyihir yang cukup terkenal di kota. Kita tewas hanya dengan satu tabrakan mobil, hahaha ... konyol! Bahkan aku telah membunuh para Undead itu di saat aku sendiri merupakan salah satu kaum mereka sekarang inj," celetuk Erika.


Erika tersenyum simpul saat jari manisnya membuat sebuah bola kecil berwarna kemerahan, yang dampaknya akan sangat mematikan saat benda itu dilemparkan.


"Aku bahkan tidak tahan berada di dekat api0 unggun. Aku takut tubuhku bisa terbakar dan menghilang begitu saja. Jadi saat musim dingin mulai muncul di tempat ini. Aku lebih memilih menggigil daripada berdekatan dengan api yang bisa membuat tubuhku hilang!" celetuk Erika, terdengar cukup menyedihkan.


Sementara kedua orang saudara yang sedang melawan makhluk mengerikan itu dengan santai, masih bisa tertawa dan bercanda.


Dua orang lelaki yang ada di dalam rumah, sudah menggigil ketakutan melihat kekuatan Erika dan David yang begitu mengerikan.


"Saya tidak pernah melihat sihir sehebat itu sebelumnya. Apakah Tuan Duke bisa menggunakan sihir seperti itu? Bola kecil yang di lemparkan oleh Nona Erika terlihat tidak menarik, tapi ternyata bisa menghabisi dua orang raksasa besar tingkat 9 sekaligus!" celetuk Tuan Tristan, terlihat sangat kagum dengan sihir keduanya.


Tuan Carlos menoleh padanya. Dia menggeleng pelan dan memberikan jawaban dari pertanyaan Tuan Tristan, dengan kelakarnya.


"Walaupun ayah adalah penyihir hebat dari kekaisaran. Tapi sihirnya tidak sebanding dengan aura mereka berdua. Anda tidak bisa merasakannya?" Tuan Carlos kembali memandang ke arah depan. "Walau pun keduanya terus bercanda. Tapi aura mematikan mereka benar-benar tidak bisa di sepelekan. Mereka berdua sangat serius untuk menangani masalah ini."


Tuan Tristan mengangguk setuju. "Ya, saat di kereta kuda. Saya mendengar gumaman Tuan David yang mengatakan kalau beliau sengaja datang ke sini untuk menghalau semua serangan yang masuk ke dalam dunia ini. Karena bagian timur adalah perbatasan kekaisaran dengan dunia para makhluk gaib itu!" ucapnya, berusaha menjelaskan.


Perhatian keduanya teralihkan saat suara dentuman di luar sana semakin parah. Sontak kedua mata mereka langsung tertuju pada sosok Erika yang berdiri di atas tumpukan dua raksasa yang berhasil dia habisi dengan menggunakan dua pedang panjang yang memiliki aura kegelapan yang sangat pekat.


"Benda itu ...." Tuan Tristan mengerutkan keningnya sandal menuju ke arah dua padang yang di genggam oleh Erika. "Bukankah itu pedang dewa pelindung kekaisaran kita?" tanyanya, terlihat sangat terkejut melihat penampakan dua senjata itu.


"Anda benar, Tuan Tristan. Kenapa saya baru menyadari hal ini?" Tuan Carlos menutup mulutnya yang tidak bisa berhenti terbuka karena mendapatkan banyak kejutan baru. "Mereka, lebih menakutkan dari perkiraan saya. Kalau mereka terdaftar sebagai penduduk kekaisaran kita, mungkin mereka berdua akan menduduki peringkat satu dan dua untuk tingkat penyihir terkuat!"


Tuan Tristan memandang ke arah Tuan Carlos. "Benar yang Anda katakan. Keduanya bisa menggeser peringkat Tuan Duke Carlin dan peringkat satu serta dua. Kalau begini, bukankah identitas mereka harus ditutupi dengan baik? Kalau tidak, saya takut mereka akan menjadi bahan buruan para penyihir kekaisaran yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan peringkat penyihir mereka!"


Tuan Carlos menelan ludahnya susah. Baru kali ini dia merasakan getaran yang sangat kuat padahal dia tidak ikut berperang.


Ketakutan yang datang secara tiba-tiba, menyusut dalam kerudung hati Tuan Carlos dan Tuan Tristan.


Mereka yang merupakan bangsawan dengan keberanian terkuat di kekaisaran. Bahkan saat berperang mereka tidak pernah merasa takut ataupun lemah hatinya.


Kini karena dua orang remaja yang usianya lebih mudah dari mereka, keduanya menjadi gentar dan kebingungan tentang bagaimana cara mereka untuk melindungi David dan Erika dari serangan para penyihir berhati busuk itu.


"Sepertinya kita harus segera menyusun rencana, Tuan Carlos!" ucap Tuan Tristan, tampak begitu serius.


Tuan Carlos mengangguk setuju. "Ya, akan lebih baik kalau kita menyiapkan sebuah rencana kalau-kalau para penyihir sialan itu menyerang kita!" Tuan Carlos memandang tajam ke arah luar. "Bagaimana pun juga, Tuan David dan Nona Erika adalah dua komponen penting yang harusnya di pertahankan. Karena mereka benar-benar memiliki niat untuk melindungi rakyat kerajaan kita!"