Beautiful Undead

Beautiful Undead
Chapter 25



Erika dan David tiba di sebuah tanah lapang dengan beberapa pohon besar yang tumbuh di empat sudut lapangan berbentuk persegi panjang itu.


"Seharusnya di sini terjadi banyak pertempuran, kan? Angin berkata seperti itu. Tapi kenapa tempatnya sangat bersih??" tanya David, tampak bingung.


"Penyihir di kekaisaran ini tidak hanya Anda, Pangeran Kedua!" ucap seorang lelaki berjalan menghampiri mereka dengan tatapan angkuh.


Langkah ringan seperti dulu, subuh kurus dan rambut kelabu yang panjangnya menutupi punggung, serta wajah rupawan lelaki itu ditutupi dengan kipas bambu berwarna putih.


Membuat lelaki bergaya oriental itu, mendapat perhatian khusus dari Erika yang memang dari awal menyukai pakaian adat dari Negara China itu.


"Siapa Anda?" tanya David, berdiri di depan Erika dan menghalangi lelaki itu untuk mendekat ke arah adik perempuannya.


Lelaki berurai panjang itu tersenyum saat melihat tatapan waspada dari Pangeran Kedua.


"Sepertinya Anda sudah melupakan saya karena selama tidak bersua. Nama saya adalah Aron. Sekarang menjadi garis keturunan terakhir dari Ras Naga. Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia."


Lelaki itu memperkenalkan diri dengan sopan. Tapi sayangnya, Erika dan David hanya memandangnya dengan tatapan malas lalu berjalan pergi meninggalkan Aron.


"Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Aron. Kalau begitu sampai nanti. Kami masih ada pekerjaan yang menunggu," ucap David, segera bergegas pergi meninggalkan Aron dan mengikuti langkah Erika.


Wush ....


Angin berembus cukup kencang dan panas. Membuat kedua langkah remaja itu terhenti dan keduanya menoleh ke arah belakang, menatap Aron yang tampak tak mengizinkan keduanya meninggalkan tempat tersebut.


"Siapa yang memperbolehkan kalian pergi begitu saja? Bukankah sebagai dua anak remaja yang lebih muda, seharusnya kalian berdua menyapa saya juga?" Aron berjalan mendekat ke arah mereka. "Entah sejak kapan Pangeran Kedua menjadi sangat tidak sopan? Sementara Anda, Lady Nathania. Bukankah seharusnya Anda menikah dengan Putra Mahkota? Tapi sekarang mengapa Anda berada di dekat Pangeran Kedua?"


Aron mendekatkan wajahnya ke arah Nathania dengan tatapan menelisik. "Jangan-jangan gosip yang saya dengar dari para Lady saat mengunjungi kekaisaran itu memang benar. Anda berdua memiliki hubungan yang cukup dalam sampai-sampai berusaha kabur agar Lady Nathania tidak jadi menikah dengan Putra Mahkota Justi."


Hump!


Erika mencengkeram kuat mulut Aron dan memandang lelaki itu dengan tatapan tajam membunuh. "Sekali lagi aku mendengar kamu berbicara sembarangan tentang hubunganku dan kakak lelakiku. Aku pastikan semua gigi dan lidahmu tidak berada di tempat yang seharusnya!" ucapnya, mengancam dengan cara yang menakutkan.


David menelan ludahnya susah. Baru kali ini dia melihat Erika benar-benar marah.


Walaupun biasanya Erika memang orang yang pemarah. Tapi berbeda dengan yang ini.


Ekspresinya benar-benar nyata. Membuat siapa pun lawan bicara yang mengetahui identitasnya, tak akan lagi bisa mengucapkan suatu patah kata pun untuk menyinggung perasaannya.


"Owh ... sekarang nona kecil ini sedang mengancam saya?" tanya Tuan Aron, melepaskan cengkeraman tangan Erika dari mulutnya dengan begitu mudah.


Greb!


Tuan Aron menggenggam pergelangan tangan kecil Erika sampai memerah bahkan berubah warna menjadi biru.


Tapi tampaknya gadis itu tidak kesakitan sama sekali dan terus memandang lurus ke arah Tuan Aron.


"Jika Anda sudah selesai menghalangi pekerjaan mereka. Bisakah Anda melepaskan tangan adik perempuan saya?!" ucap seorang lelaki, datang bersama teman lelakinya peserta ayahnya juga.


Tuan Carlos tampak berkuda bersama Tuan Duke Carlin dan Tuan Tristan.


Tapi siapa sangka kalau Tuan Duke akan ikut mereka pergi dan kini Erika harus berkata pan langsung dengan lelaki yang paling tidak ingin dia temui.


"Nona Erika, Anda baik-baik saja?" tanya Duke Carlin, turun dari atas kuda dan berjalan mendekati Erika dan David.


David menghela napas lega saat melihat tiga orang lelaki itu menghampiri mereka saat keduanya mengalami masalah yang sulit saat berhadapan langsung dengan Tuan Aron.


"Yang Mulia, salam untuk pilar kekaisaran." Tuan Aron menundukkan kepalanya, menyambut kedatangan Tuan Duke dengan segala hormat.


"Tidak perlu terlalu kaku, Tuan Aron. Anda memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengan saya. Jadi tolong jangan bersikap terlalu sopan kepada saya," ucap Tuan Duke, menyapa balik Tuan Aron.


"Bukan masalah yang besar, Tuan Carlin. Tapi jika saya boleh tahu, kenapa aura anak perempuan Anda sangat berbeda dari saat dulu saya bertemu dengannya untuk pertama kali? Apa jangan-jangan ini bukan putri?" tanya Tuan Aron, menatap Erika dengan tatapan tajam dan menusuk.


Tuan Carlin segera menyembunyikan Erika dari tatapan mengintai Tuan Aron. Dia meletakkan Erika di belakang punggungnya dan menghalangi pandangan lelaki itu dari sang putri.


"Yang Mulia, bukankah tindakan Anda kurang sopan santun disebut sebagai Putra Mahkota kerajaan utara?!" celetuk Tuan Duke, tampak tidak nyaman saat Tuan Aron memeriksa Erika dengan tatapan saksama.


"Ahh ... maaf kalau tindakan saya membuat Anda tersinggung. Saya tidak bermaksud melakukannya, Tuan Duke. Hanya saja, saya merasa sedikit penasaran karena sikap dan caranya bicara tidak seperti seorang Lady dari keluarga bangsawan," celetuk Tuan Aron, dengan tatapan yang masih terus mengawasi ke arah Erika.


Tuan Duke melirik tajam ke arah Erika yang bersikap tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Putra Mahkota kerajaan utara ini.


Dia tidak kenal, jadi untuk apa dia terus mengawasi atau memperhatikan lelaki itu? Seperti orang yang kekurangan pekerjaan saja.


Erika menghela napas kasar dan berlalu pergi meninggalkan beberapa lelaki yang sudah berkumpul dengan suasana canggung di satu tempat.


"Erika, kau mau ke mana dengan kaki seperti itu?!" teriak David, membuat Tuan Carlos dan Tuan Tristan, terfokus pada kedua kaki Erika yang berdarah karena tidak menggunakan alas kaki.


"Memang ke mana perginya sepatu Lady Erika? Apakah dari tadi dia ke mana-mana tidak menggunakan sepatu, seperti itu??" tanya Tuan Carlos, memandang ke arah David yang terus bergumam kesal karena kelakuan adik perempuannya.


David menoleh ke arah Tuan Carlos dan mengulas senyuman kecut. "Dia membuang alas kakinya karena dia kira sepatu hak tinggi membuat pergerakannya terbatas dan dia tidak bisa berlari sesuka hati."


David menghela napas kasar. "Apakah tidak ada di antara kalian yang memiliki sepatu boot? Tampaknya Erika akan lebih nyaman menggunakan alas kaki dengan permukaan datar daripada sepatu hak tinggi yang bisa melukai tumitnya."


"Saya memilikinya, Tuan David. Tapi sepertinya akan kebesaran di kaki nona Erika. Apakah tidak papa?" tanya Tuan Tristan, mengeluarkan sesuatu dari keranjang pedal kudanya.


Tuan David menerima pemberian itu sambil mengucap terima kasih dengan ramah. "Aku bisa mempersempit ukurannya. Terima kasih karang sudah membantu, Tuan Tristan."


Setelah mengucapkan hal itu, David segera mengejar langkah Erika yang sudah cukup jauh dan membiarkan beberapa lelaki itu berdiam diri di tempat mereka dengan memperhatikan keduanya.


"Ternyata mereka bukan Pangeran Kedua dan putri anda, ya?! Wah, kalau begitu saya sudah bertindak terlalu kasar kepada dua orang remaja asing yang sudah berusaha melindungi kekaisaran ini, ya?" celetuk Tuan Aron, mengulas senyuman kecut.


Duke Carlin mengangguk mantap. "Ya, Anda harus meminta maaf kepada mereka berdua secepatnya."


"Baik-baik! Saya akan segera melakukannya setelah situasi di lingkungan ini kondusif. Sekarang, bisakah kita mulai membasmi para siluman yang membuat tanah utara menjadi tercemar?" tanya Tuan Aron, seketika menatap tiga orang lelaki di depannya ini dengan tatapan tajam nan menusuk.


"Kami memang datang untuk hal itu, Tuan."