BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 9: Tak di Anggap



Satu bidikan mengenai tepat sasaran. Anak panah yang hampir mengenai lengan wanita bertudung terjatuh seketika bersamaan batu seukuran jari kelingking. "Nona, apa kamu baik?"


Wanita bertudung langsung melompat, tapi bukan untuk berterima kasih pada Starla. Melainkan memungut anak panah yang jatuh di bawah pohon. Sesaat mengamati bentuk, aroma dan seni dari pahatan yang ada di anak panah itu. Tetapi tidak mengenal siapa yang memiliki ciri khas dengan simbol belati.



"Ka Sasha, apakah kamu baik-baik saja?" tanya seorang anak usia dua belas tahun yang berlari menghampiri si wanita bertudung karena begitu mengkhawatirkan keadaan gurunya.


Sasha tersenyum, lalu menyimpan anak panah dengan membungkus panah itu ke dalam bola air. Kemudian duduk mensejajarkan posisinya agar bisa menatap Orion si anak yang memiliki element pengendali api. "Aku baik. Jangan khawatir Orion."


Kebersamaan yang selalu menyentuh hati bagi semua orang, tetapi tidak untuk Starla. Ditengah keramaian, gadis itu merasa kesepian. Tidak satupun menerimanya. Bagaimana bisa hatinya memimpikan sejenak tinggal di basecamp hanya untuk mengajarkan ilmu yang dia punya?


Mustahil. Sakit rasanya, ketika kehadirannya sama seperti makhluk tak kasat mata. Terabaikan, ''Sebaiknya aku pergi dari sini. Mereka tidak membutuhkan aku, ayolah Starla. Apa tujuan awalmu hingga nekat ke kota? Sudahi semua rasa empati yang ada di hatimu."


Keputusan yang tepat. Starla berjalan melipir meninggalkan kerumunan orang-orang. Langkah kaki menyusuri jalan yang tertutup rumput ilalang. Andai suasana hatinya baik. Semua akan terlihat indah, walau itu hanya hembusan angin yang menerpa menggoyangkan dedaunan.


Sayup-sayup terdengar suara gemericik air. Itu berarti di sekitarnya ada sungai, atau mungkin air terjun. Sebagai seorang pengendali pikiran, maka ketenangan sangatlah penting. Niat hati meninggalkan basecamp, tetapi langkah kakinya berganti haluan.


Perjalanan menyusuri jalan hijau berteman kesendirian terbayarkan dengan pemandangan yang kini memuaskan pandangan matanya. Aliran air jernih dari atas ketinggian tujuh meter yang jatuh menimba bebatuan besar di depan sana. Surga dunia.


Gadis itu sibuk menikmati pemberian alam. Tanpa sadar ada mata batin yang terus mengawasinya, hingga Sasha datang menghampiri si gadis yang telah menyelamatkan nyawanya.


"Terima kasih." ucap Sasha langsung mengalihkan perhatian Starla ke arahnya. "Jangan minta diulang. Aku tidak suka pengulangan."


Apakah barusan, si wanita bertudung bicara dengannya? Bukannya senang, Starla malah menengok kesana kemari, tapi tidak ada orang selain mereka berdua. Jadi, pendengarannya tidak salah dengar.


"Kata terima kasih hanya akan menjadi pengulangan. Bagaimana jika diganti dengan membantu orang?" ujar Starla memulai aksinya, orang boleh menganggap dia lugu, atau kalem.


Akan tetapi, jangan pernah melewatkan kesempatan dan peluang emas. Apalagi di wilayah yang nampak tenang dengan air yang berlimpah. Dia sadar, Sasha bisa melakukan sesuatu untuk memberikan pelajaran padanya. Anggaplah ini ujian atau apa, satu yang ingin dia ketahui.


"Percuma kamu berusaha." Sasha menggeser posisinya, menghadapi Starla yang tengah menggali informasi. Bukan hal asing untuk membaca ekspresi wajah walau hanya melihat dari sekilas lirikan mata.


Wanita itu mengangkat tangannya menunjuk ke arah air terjun. "Wilayah itu, bukan hanya air tetapi juga api. Di setiap sudut dari ke empat arah mata angin. Kamu akan menemukan dua element menyatu. Tuan Elang mengatur sedemikian rupa, agar kami semua tetap terlindungi."


"Maaf, Tuan Elang. Siapa dia? Apakah pria yang membunuh begundal jalanan itu?" tanya Starla ingin memastikan, tetapi tatapan tak senang menjadi jawabannya.