
Lucu, tetapi ia tak memiliki waktu untuk bercanda. Setelah sekian lama, akhirnya mendapatkan jalan untuk mewujudkan jalan impiannya. Kini tidak ada alasan lagi untuk mundur. Apalagi menyerah, ia harus bisa kembali ke masa lalu untuk menemukan serpihan ingatan yang selama ini menjadi secercah cahaya.
Ilusi mungkin bisa menipu, tetapi tidak dengan kenyataan yang sudah berlalu. Suatu hari nanti, pintu dimensi ke seluruh alam akan kembali terbuka. Ketika terbuka, seluruh alam akan beraksi. Akan ada bahaya dan banyak perebutan yang bisa menumpahkan darah.
Dunia boleh terguncang akan niat hatinya. Namun, tidak dengan semangatnya yang tidak akan pernah pudar. Sebanyak apapun duri, serpihan kaca yang menghalangi jalannya. Ia bukanlah manusia yang akan menyerah, meski untuk mendapatkan kebenaran harus menyatukan bumi dan langit. Pasti akan ia lakukan karena itulah yang menjadi tujuan akhir dari kelahirannya.
Tuan Elang tidak menyadari, jika gadis yang diajak untuk bekerja sama adalah satu alasan dari kematiannya. Tessa, si gadis dengan setengah jiwa milik kegelapan. Gadis itu bisa menjadi jembatan, sekaligus menjadi senjata terampuh tanpa harus menggunakan elemen apapun.
Semilir angin yang menerpa membawa pesan alam. Merdunya suara seruling yang membelah keheningan mengisyaratkan pada sang Tuan Muda akan situasi dari basecamp. Diantara awan dan hembusan angin, selapis ilusi menjadi gerbang tak bertuan. Namun, ia tak mungkin meninggalkan rumah disaat Tessa masih belum menyetujui penawarannya.
Entah paham akan dilemanya atau bagaimana, gadis itu menggenggam tangannya dengan tatapan lembut yang menyiratkan ketenangan. ''Tuan, Aku akan menjadi partnermu, tapi bagaimana caramu melepaskan aku dari kejaran prajurit istana? Anda tahu benar, jika ayahku tidak akan mencabut perintah. Seperti anak panah yang sudah terlepas dari busurnya, maka tidak bisa ditarik kembali.''
''Kau benar.'' Tuan Elang menjentikkan jemarinya hingga menghentikan waktu, membuat Tessa terlonjak kaget. ''Satu yang bisa membantumu adalah waktu, kamu bisa melihat, mendengar dan juga berinteraksi denganku karena tangan kita bersentuhan. Akan tetapi, di luar sana, bahkan pelayan lain.Tidak ada yang akan bergerak.''
Tuan Elang menunjuk ke arah jam di dinding menggunakan tangan lain, ''Waktu terhenti, tetapi tidak siklus alam. Diluar sana, hanya ada beberapa yang bisa melakukan hal sama. Sekarang, perhatikan arah angin dengan seksama. Apa kamu bisa merasakan kehadiran entitas alam?''
Hari ini, Tessa sepakat mengulurkan tangan untuk menjadi partner dari majikannya. Meski tidak tahu akan diminta melakukan apa, tetap saja sudah setuju dengan satu syarat yaitu ia bisa keluar menikmati alam bebas sesuai dengan keinginannya.Tidak masalah untuk saat ini, tetapi esok. Siapa yang tahu?
Persetujuan Tessa, membuat pria itu menyiapkan segalanya. Setelah sekian lama, rasa tidak sabar hadir menyapa. Ia ingin segera menemukan pembunuh kedua orang tuanya. Namun, ia juga sadar. Jika ingin mewujudkan mimpi, maka harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara waktu.
🍃🍃
Pada malam harinya. Sesuai dengan janji pertemuan. Tessa kembali memasuki kamar majikannya dengan waktu yang sudah ditetapkan. Gadis itu berjalan dengan pasti menghampiri Tuan Elang yang tengah kesusahan memasang ikat lengan untuk menahan lukanya.
"Jika terlalu kencang, bilang saja." ucap Tessa, membuat sang majikan hanya tersenyum tipis bahkan hampir tidak nampak.
Tidak peduli, seberapa kencang yang Tessa lakukan. Sedikit rasa nyeri di lengan, tidak akan memudarkan harapannya. Sekarang sudah siap untuk memulai perjalanan. Aroma darah tidak lagi menguar karena luka sudah dibubuhi ramuan khusus untuk menyamarkan bau.
Tatapan mata ke depan, tetapi tangan terulur di depan sang pelayan. "Ayo! Kamu tidak akan bisa pergi, jika tanpa aku."
"Apakah kita akan meninggalkan rumah? Bagaimana jika di luar sana ada prajurit yang mencari ku?" tanya Tessa dengan keraguan hatinya, meski tatapan kata sang majikan tidak tergoyahkan. "Baiklah, aku menyerahkan diri untuk berlindung padamu, Tuan."