
Begitu perhatian. Ia tak menyangka majikannya begitu baik, bahkan setelah mengetahui siapa dirinya. Pria itu tetap menjaganya sebagai seorang partner. Tuan Elang terus memeluk Tessa walau keduanya berdiri bersebelahan.
Aroma bunga dengan warna-warni yang begitu mempesona. Di antara ribuan bunga dengan bentuk dan warna yang berbeda. Tuan Elang berjalan menyusuri jalan setapak yang kering dengan rumput hijau yang tumbuh seperti permadani. Indah seperti taman impian.
Samar-samar nampak sebuah pintu kayu berdiri tanpa sandaran di depan sana. Di ujung taman bunga, membuat Tessa tak bisa mengalihkan perhatiannya. "Tuan, apakah pintu untuk menuju dimensi lain?"
"Kamu akan tahu nanti," ucap Tuan Elang lalu berhenti, sesaat mengedarkan pandangan hingga benang merah yang melintang nampak di sekitarnya. "Apa kamu bisa dansa?"
Pertanyaan yang aneh. Seorang putri dan tidak bisa berdansa? Tentu mustahil. Wajah cantik dengan seulas senyum yang menawan, membuat Tessa mengubah posisinya. Kemudian mengalungkan tangan ke leher sang tuan.
"Kenapa tidak coba, Tuan Muda. Kita lihat, siapa yang tidak bisa berdansa." Tessa memberanikan diri menantang majikannya karena ia juga ingin tahu. Apakah pria setampan dan dingin Tuan Elang bisa berdansa. "Jangan lepaskan apapun yang terjadi."
Tuan Elang mengedipkan mata, lalu menarik lebih dekat tubuh gadis yang kini menjadi miliknya. Satu langkah ke kanan, kemudian ke kiri. Perlahan mengikuti ritme berteman hembusan angin seraya merengkuh harum bunga yang begitu mendamaikan hati.
Iringan musik dari helaan nafas, gesekan dedaunan bersama sorot cahaya emas menyatu membakar benang merah yang menjadi penghalang mereka. Hanya Tuan Elang yang mampu melihat sekelilingnya dengan jelas, sedangkan Tessa melakukan seperti yang diharapkan sang majikan.
Tarian dansa yang menyatukan hati bersama angan yang tak kunjung datang. Tanpa sadar, sentuhan posesif Tuan Elang yang terus mengeratkan pelukan, membuat hati Tessa berdegup kencang. Getaran cinta mulai dirasa.
Detak jantung yang semakin tak karuan. Seketika menyentak kesadaran Tessa, tangannya langsung terlepas. Namun, Tuan Elang langsung menariknya kembali hingga tubuhnya terhuyung membentur dada bidang dengan aroma menenggelamkan. Nyaman untuk menjadi sandaran.
"Fokuslah! Aku tidak bisa selalu menolongmu," bisik Tuan Elang seraya memperhatikan sekelilingnya.
Benang merah yang menjadi penghalang sudah terbakar, tetapi satu gerakan yang dilakukan Tessa mengembalikan posisi mereka ke tempat semula. Apakah harus berdansa kembali? Bagaimana jika satu kesalahan membawa mereka berdua ke titik awal? Sungguh, ia tak paham dengan seluruh kisah yang tak mungkin untuk dijadikan satu malam.
Sementara itu, mereka harus melewati pintu yang kini tak lagi nampak. Pintu menuju masa depan. Kini, mau tak mau, keduanya harus mengulang hal sama, tetapi sebelum memulai lagi. Ia harus meyakinkan Tessa bahwa tarian yang mereka lakukan sangatlah penting. Bukan hanya sekedar iseng belaka.
"Tessa, tempat dimana kita berpijak. Tempat ini dinamakan taman putaran. Ketika dua insan memasuki taman dan bertujuan meraih pintu gerbang sang waktu. Maka hanya tarian yang bisa menghilangkan benang merah penumpas kejahatan. Taman ini tidak untuk jiwa setengah kegelapan."
Tuan Elang menutup mata Tessa, ia memperlihatkan wujud asli dari taman putaran. Dimana setapak tempat mereka berpijak bukan lagi rumput permadani, tetapi cairan hitam yang begitu pekat. Bunga-bunga yang indah berganti dengan sarang laba-laba yang memiliki banyak sisa tulang dengan cairan warna merah.
"Tuan ....,"