BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 14: Patung Azazil, Kisah Sebastian



Jiwa yang tersisa dengan panggilan Sang Pengelana. Bagi mereka yang menjadi penghuni hutan kematian mengenal jiwa tersebut dengan nama Sebastian. Pria yang semasa hidup menjadi manusia telah mengabdikan diri menjadi penjaga makam keramat.


Bukan hanya Sebastian yang menjadi penjaga makam karena seluruh garis keturunan dari keluarga pria tersebut, merupakan ahli waris untuk meneruskan sumpah setia para pemilik kepercayaan yang menyembah patung iblis bernama Azazil.


Patung yang berdiri tegak gagah di dalam gua di depan tempat Dave berdiri. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi. Dave berjalan memasuki gua dengan menyingkirkan sulur akar tanpa merusaknya. Pria itu merasa tenang dengan aroma dupa yang menyengat, bahkan lembabnya udara tak mengubah keberanian menjadi pecundang.


Satu langkah, demi langkah menyusuri bebatuan dengan tinta hitam di beberapa titik yang nampak menjijikkan. Sudah pasti banyak hal yang tidak sedap dipandang, tetapi jiwa di dalam raga Dave. Tidak gentar, berbeda dengan jiwa manusia yang terus seperti penonton di balik kaca. Dave asli merasa gemetar.


Untuk pertama kalinya dengan mata kepalanya sendiri melihat tumpukan mayat tak utuh tergantung seperti jemuran pakaian. Belum lagi terdengar suara pujian yang berbahasa asing. Satu yang pasti, mereka yang membacakan pujian tengah melantunkan doa menyebut nama Tuhan.


Apakah gua itu menjadi tempat pemujaan para setan? Atau menjadi tempat persembahan? Entahlah. Namun, jiwa yang menguasai raganya seakan siap memberikan jaminan atas keselamatannya. Keyakinan yang aneh, tapi seperti itulah yang dia rasakan.


Patung Azazil yang memancarkan mata merah menyala, membuat Sebastian menundukkan pandangan. Lalu berlutut di hadapan patung yang selalu dia agungkan. "Sembah, Tuan Ku Azazil. Hamba berkunjung untuk menemukan raga yang telah dicuri para pemburu bayangan. Restuilah ....,"


[Hey, Bung. Apa kamu menyembah patung yang tidak bisa bicara? Sepertinya dunia sudah semakin gila.]~sela Dave secara spontan, satu yang dipelajari olehnya yaitu kedua jiwa bisa saling berkomunikasi melalui batin.


Penghinaan yang dilakukan Dave hanya Sebastian yang bisa mendengar semua itu. Jika dia, tidak mengunci pintu mata batin. Sudah pasti mereka yang sibuk berdoa menyembah patung Azazil akan menebas kepala dari raga yang kini menjadi wadahnya. Tidak habis pikir dengan keberanian mulut si bocah ingusan.


Tanpa berlama-lama. Sebastian membawa raga manusia itu pergi meninggalkan gua. Bukan takut pada para pengikut Azazil, tapi ia masih membutuhkan raga Dave untuk mendapatkan raganya kembali. Perjalanan mencari keberadaan dari para pemburu bayangan yang dipimpin oleh Dark Shadow.


Dave yang merasa tubuhnya kembali ringan. Tidak bisa berbuat apapun, ketika gelap menyapa meninggalkan kesunyian. Entah apa yang terjadi. Namun di alam bawah sadarnya. Sayup-sayup terdengar suara nyanyian yang begitu merdu. Melody yang mengalun indah ditemani petikan gitar yang penuh penghayatan.


Rasanya seperti tengah dinyanyikan lagu nina bobo, "Rasa kantuk menyerangku, lagu ini benar-benar memabukkan."


Musik yang hanya terdengar samar berubah menjadi jeritah yang menyakitkan, bahkan gendang telinganya hampir pecah akan suara melengking yang terdengar seperti berteriak di depan telinga langsung. Mencoba memaksakan diri untuk membuka kelopak matanya. Begitu sulit, tapi niat hati menjadi keberhasilan.


"Pemuda dengan impian sederhana yang memiliki suara indah dengan jemari ajaibnya. Dia adalah Sebastian Moon. Putra bungsu dari Pertapa Fang Moon. Kehidupan memberikan banyak kesempatan untuk memilih takdirnya. Akan tetapi, dunia kejam berkata lain."


Kabut bayangan yang melesat kesana kemari menatap reruntuhan bangunan di depannya dengan aura kemarahan yang luar biasa. Dave bahkan harus menahan gemetar tubuhnya agar tetap sadarkan diri. Ia ingin tahu, apa yang terjadi pada Sebastian.


"Kami memang menjadi garis keturunan penjaga makam, tapi pembantaian yang dilakukan oleh Dark Shadow. Menghancurkan keyakinan kami atas Tuhan. Kami bersumpah untuk menjadi penjaga makam keramat, namun Tuhan tidak memang menyelematkan umatnya. Ini bukan hanya tanah pembalasan dendam. Bagiku, ini tanah kehidupan."


Panjang kali lebar Sebastian menceritakan awal mula dari kehidupan manusia menjadi sosok jiwa yang tersisa. Meski semua yang terjadi padanya sudah begitu lama. Tetap saja luka yang masih memiliki bukti nyata, tidak mungkin terhapuskan. Kini Dave paham, duka dan luka yang membuat jiwa sang pengelana menjadi gentayangan.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Apa harus ku panggil Sebastian atau pastur, atau kakak hantu?" tanya Dave bingung sendiri dengan cara penyampaian kalimat yang terdengar tidak sopan.


Sang Pengelana menghentikan pergerakannya, lalu menatap Dave yang ada di depan matanya. "Sebastian." Jawabnya, lalu melesat kembali masuk ke dalam raga Dave yang kali ini terasa lebih mudah untuk dimasuki.