
Seorang kekasih bisa melepaskan ego untuk orang terkasihnya. Akan tetapi seorang pria akan selalu mengedepankan ego ketika keberadaannya tidak dianggap. Walau hubungan berawal dari perjodohan. Tetap saja memiliki batasan dari tingkat kasta.
Seperti hubungan Tuan Syamsir bersama Putri Sekar sang istri yang telah meninggal dunia. Keduanya berjodoh karena dijodohkan oleh keluarga, tetapi ditengah perjalanan ikatan sakral. Hubungan kedua keluarga mengalami goncangan. Awalnya hanya karena salah paham kecil, tetapi semakin membesar.
Ingatan masa lalu tak akan mengubah masa depan. Kenyataannya, kini ia hanya hidup bersama putri tunggalnya. Tidak ada lagi tempat untuk orang lain. Alih-alih kembali melakukan pekerjaan. Sang kepala desa memilih untuk beristirahat sejenak. Setiap kali kenangan datang menyapa. Hatinya berdenyut merindukan istri tercinta.
Gelapnya malam berarak awan di angkasa. Jangankan bintang jatuh, hembusan angin pun tidak berkelana. Di luar sana, seseorang tengah menatap rumah besar milik kepala desa. Setelah menunggu waktu yang tepat. Akhirnya, semburat cahaya menguar membumbung tinggi menjadi sinyal untuknya beraksi.
Perlahan memejamkan mata. Memusatkan fokus pikirannya melepaskan belenggu jiwa yang menghantarkan kebebasan. Atmosphere mulai terasa berbeda. Arah angin yang terdiam berputar menghentakkan kesadaran, sedangkan tatapan mata seseorang terus berkelana menyusuri setiap sudut halaman rumah.
Langkah kaki tak berjejak terus menerobos masuk. Tidak ada yang bisa menghentikannya, sementara itu. Tuan Elang dan Tessa baru saja berhasil mencapai ujung perjalanan dari lembah jerat emosi. Keduanya tengah duduk di bawah pohon rindang yang memiliki bunga pelangi.
"Tuan, bagaimana Anda bisa sesabar itu?" Tessa menoleh ke belakang karena majikannya memilih duduk menjadi sandarannya. "Selama beberapa waktu bersama Anda, aku melihat sikap Tuan sangatlah dingin."
Bukan penasaran, tapi sekedar pertanyaan spontan. Dimana majikannya tetap bersamanya walau memperlambat waktu. Padahal bisa meninggalkan dan menunggu di ujung perjalanan. Gadis itu terlihat polos hingga membuat Tuan Elang merasa ingin melindunginya. Bukan hanya sekedar tanggung jawab karena membutuhkan bantuan, tetapi rasa empati itu hadir begitu saja.
"Lupakan itu, katakan apa kamu masih lelah?" tanya balik Tuan Elang yang sibuk memainkan jemari mengukir sesuatu di antara lapisan udara.
Gadis itu menggelengkan kepala, niat hati ingin beranjak, tapi ada kekuatan yang menahannya. Ia berpikir mungkin itu hanya ada di dalam pikiran saja. Sekali lagi mencoba untuk bergerak dan tidak sedikitpun berubah posisinya. Apa yang terjadi?
Cemas dengan rasa yang tidak mungkin untuk dijabarkan. Mungkinkah sang majikan meninggalkannya seorang diri? Apalagi fenomena yang saat ini menjadi fokus utama semakin menyilaukan mata, seakan ingin menelannya hidup-hidup. Ditengah gundah gulana dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan. Sekelabat bayangan menghadang cahaya di depan mata dengan tangan yang terulur kearahnya.
''Ayo! Kita harus berjalan tanpa raga dari sini. Lepaskan semua rasa cemasmu dan sambutlah tanganku.'' ajak Tuan Elang, membuat Tessa mengerjap tak mampu berkata-kata lagi.
Tidak bisa berpikir menentukan mana yang nyata dan mana yang ilusi, hingga ia menyambut tangan sang majikan. Kemudian tubuhnya terasa seringan kapas. Begitu beranjak dengan tarikan sang majikan. Tessa baru menyadari, jika raganya terdiam duduk bersandar pada tubuh Tuan Elang sembari menoleh kebelakang. Itu berarti, hanya jiwa yang terlepas bebas berkeliaran.
''Jangan dipikirkan,selama sinar perjalanan tetap bersinar terang. Kita aman, tetapi waktu yang kita punya hanya sekitar setengah jam. Jadi, turuti semua perintahku.'' jelas Tuan Elang seraya merengkuh tubuh Tessa untuk lebih dekat denganya.
Tanpa pria itu sadari. Sentuhannya mengalirkan sesuatu yang lain dalam diri Tessa. Gadis itu merasakan sengatan yang menghangatkan denyut nadi, mendesirkan aliran darah yang memanas. Entah apa yang terjadi. Ia hanya tahu, sesuatu yang salah sudah terjadi. Mungkin, suatu saat nanti akan menjadi masalah baru yang tidak memiliki jalan keluar.
Setiap perjalanan hanya akan memiliki akhir, tetapi tidak seorangpun tahu. Akhir seperti apa yang akan menjadi takdir masing-masing. Termasuk perjalanan Tessa bersama Tuan Elang menuju pintu massa depan. Satu sisi ada kebenaran dan sisi lain hanya tersisa setengah dari kenyataan.
Dari semua sisi, semua orang bersiap untuk menghadapi hari esok. Orang-orang mulai menentukan mana kawan dan mana lawan. Satu persatu mencoba mendapatkan dukungan terbaik dengan kekuatan maksimal. Termasuk pertemuan antara dua pemimpin yang mengadakan pertemuan secara dadakan. Keduanya pemimpin itu berdebat panjang kali lebar tanpa menemukan kepastian.
''Apa Tuan pikir, saya hanya bicara omong kosong? Saya bisa menunjukkan buktinya langsung,'' Seorang pria berwajah garang bertepuk tangan, membuat beberapa anak buah menerobos masuk ke ruang pertemuan. ''Bawa aset tahanan nomor tiga dengan tahanan nomor lima belas. Sekarang!''