BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 6: BASECAMP



Aku akan membawamu ke tempat seharusnya.~batin pria itu meninggalkan tempatnya berdiri.


Sentuhan lembut menyapa kulitnya. Memaksa kelopak matanya untuk terbuka. Aroma bunga cendana yang sangat familiar, membuat tubuhnya menggeliat manja. "Emmptttt, harumnya. Dimana aku?"



Suara seruling terdengar merdu mengalun indah menyempurnakan suasana yang melankolis. Starla tidak sadar, saat ini menempati pemukiman yang dibangun dengan beberapa pemilik kekuatan. Gadis itu diungsikan ke tempat yang seharusnya yaitu tempat basecamp yang selama ini menjadi persatuan seluruh ras.



"Nona sudah sadar. Mari saya bantu bangun," Ucap seorang wanita dengan tudung bambu yang menutupi sebagian wajahnya. Ketika melihat tatapan bingung Starla, wanita itu tersenyum simpul. "Ini basecamp milik Tuan Elang. Jangan khawatir karena Nona aman."



Tuan Elang? Siapa dia? Apa mungkin pria yang melakukan pembunuhan atau orang lain lagi. Ingatannya tidak berubah dan berhenti, tepat di sisa kesadarannya pada waktu itu. Starla meloncat dari tempat tidurnya. Kemudian memeriksa setiap tulang rusuk.



Melihat tingkah aneh Starla. Wanita bertudung hanya menggelengkan kepala. Pasti pikiran gadis itu tidak baik dan ntah berkelana sampai mana. Tanpa mengurangi sikap sopan santunnya. "Nona, Tuan Elang pahlawan bagi kami. Jadi, jangan khawatir. Beliau hanya membawa Nona kemari, lalu pergi kembali."



"Benarkah itu? Lalu, siapa yang menggantikan pakaian ku?" Cecar Starla dengan pertanyaan yang masuk akal, tetapi mendadak si wanita bertudung melepaskan tudungnya.



Wanita pengendali air. Wow! Selama ini, Starla hanya mendengar dari buku sejarah yang ada di perpustakaan ruang ayahnya bekerja. Apakah dunia memberikan kesempatan untuknya menjelajahi kehidupan di luar wilayah ras pengendali pikiran? Jika iya, tidak akan ia lewatkan begitu saja.


"Setiap orang yang ada di basecamp memiliki kemampuan masing-masing. Ingat satu hal, jika Nona ingin tinggal sendiri. Jaga lisan dan pandangan. Apalagi, ketika Tuan Elang datang berkunjung. Beliau tidak suka pembuat onar." Wanita itu memberikan peringatan agar Starla sadar, dimana kini tinggal.


Secara tidak langsung. Starla mencoba membaca isi pikiran dari wanita bertudung, tetapi aneh. Tidak bisa membaca apapun. Apakah disekitar mereka ada yang menggunakan alat penangkal kekuatan? Gadis itu mengedarkan pandangan, menatap keluar jendela. Beberapa anak tengah berlatih di luar sana.


Tentu dibantu dan dilatih orang dewasa, "Berapa jumlah orang yang ada di basecamp?"


Hening.


Starla menoleh kembali melihat wanita yang baru saja menasihatinya. Namun, wanita itu sudah menghilang entah kemana. Kenapa harus pake mode paling menyebalkan? Jadi, sekarang mau komplain pada siapa? Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.


Dari tempatnya berdiri. Ia bisa melihat bagaimana anak-anak dibawah usia lima belas tahun berusaha mengendalikan air, api dan udara. Sorot mata yang serius, semangat yang menggebu-gebu. Semua perasaan itu, pernah ia rasakan. Dulu, saat masih tidak memahami apa itu kekuatan.


Walau ia bisa mendengar banyak ucapan yang orang simpan. Tetap tidak paham, kenapa memiliki kelebihan itu, yang ia anggap seperti mencuri isi pikiran orang lain. Rasanya tidak adil, hingga Ayah Morgan mulai mengajarkan dan memberikan bimbingan khusus untuk melindungi diri sendiri.


Seketika hatinya tersentuh. Ingin rasanya mengajari anak-anak itu, seperti yang ayahnya ajarkan. Bagaimana bersabar mengasah kemampuan, dan berlatih bela diri untuk bisa menjaga diri sendiri. Akan tetapi, apakah mungkin, dia bisa menjadi bagian dari orang-orang yang ada di basecamp ini?