BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 24: Keduanya



Kotak obat yang tidak biasa. Biayanya akan terbuat dari kertas, kayu atau kaca. Akan tetapi, kotak obat yang majikannya punya terbuat dari besi. Tessa sibuk mendengarkan instruksi hingga lupa dengan tujuannya. Tangannya terus bergerak selama beberapa waktu sibuk mengobati luka goresan di lengan dan punggung Tuan Elang.


Sepuluh menit kemudian, kotak obat kembali ke tempat semula. Kemudian Tuan Elang juga berpindah tempat duduk ke atas ranjangnya. Rasa sakit tidak bisa mengurangi masalahnya. Namun, tatapan menyelidik dari gadis di depannya, sudah pasti memiliki banyak pertanyaan.


"Lepaskan key soul-mu. Kenapa harus bersembunyi dari balik rembulan? Apa itu menyiksamu atau hanya untuk berlindung dan mengecoh keberadaanmu? Tessa Flamboyan, putri Raja terakhir dari dunia di balik awan." Jelas Tuan Elang begitu tegas tanpa keraguan, membuat Tessa tak mampu lagi berkata.


Kurang dari seminggu, majikannya tahu identitas aslinya. Apakah pria itu memberi tahu keberadaannya yang menjadi seorang pelayan? Jika iya, maka ia harus segera pergi meninggalkan rumah mewah itu. Tidak mungkin untuk bertahan lebih lama lagi. Jika sampai tertangkap. Belum tentu akan bisa melarikan diri dari balik dinding penjara istana.


"Tenang. Aku tidak akan membiarkanmu tertangkap semudah itu. Rumahku aman, selama kamu tidak keluar dari pintu gerbang di bawah sana. Bisa bantu lepaskan kaosku?" Sambung Tuan Elang, seketika melegakan pikiran sang pelayan baru.


Sebenarnya, malu untuk melakukan permintaan Tuan Elang. Akan tetapi, tidak memiliki pilihan lain. Secara perlahan, tangannya mendekat mencoba untuk membantu, tetapi matanya terpejam. Tentu apa yang dipegang tidak bisa dipastikan. Tak ingin terjadi tragedi. Diarahkannya melalui telepati, meski tetap harus meraba.


Setelah bersusah payah. Akhirnya berhasil menggantikan pakaian Tuan Elang. Helaan nafas lega yang membuat keduanya kembali canggung. Walau tidak diperlihatkan. Namun kondisi pria itu tidak memungkinkan untuk bergerak terlalu sering. Kali ini, lukanya juga terinfeksi oleh racun. Meski sudah diberikan penawar.


"Tuan, tunggu di kamar saja. Aku akan turun ambil makanannya." Tessa mengambil kaos yang penuh darah untuk dimasukkan ke keranjang pakaian kotor, tetapi bagaimana jika pelayan tahu? Pasti akan menimbulkan kecurigaan. "Tuan, apakah saya boleh memisahkan pakaian satu ini, dari pakaian kotor lain?"


"Pakaian itu, tidak akan bisa digunakan lagi. Bakar saja, maka lebih baik. Masukkan ke tungku pembakaran yang ada di dalam sana." Tuan Elang menunjuk lemari kecil lain yang tergeletak di sudut ruangan kamar. "Lakukanlah. Aku menunggu makananku."


Seorang pelayan hanya memiliki satu tujuan di saat jam kerja menjadi alasan utama kesehariannya yaitu melakukan semua perintah sang majikan. Tidak perlu berdebat, apalagi melakukan pemberontakan. Setidaknya dengan satu peristiwa. Ia tahu, jika majikannya orang yang sangat memperhitungkan segala sesuatu. Teliti dan cerdik.


Singkat cerita, setelah melakukan perintah pertama. Tessa meninggalkan kamar majikannya, lalu bergegas menyiapkan sarapan yang tertunda cukup lama. Beberapa pelayan memberikan pertanyaan panjang kali lebar. Namun, gadis itu hanya menjawab dua kata saja. Perintah Tuan. Sontak saja, tidak ada yang berani menegur.


Entahlah. Baginya cukup bisa berlindung dan meloloskan diri dari pengejaran sang ayah. Tidak ada lagi, yang dibutuhkan selain tetap bertahan hidup dengan rencana yang harus mulai ia rancang kembali. Ia sadar, tidak memungkinkan untuk terus menerus bersembunyi. Selain itu, akan ada masa harus bertemu Dark Shadow.


Bagaimanapun, jiwanya akan selalu meronta untuk bertemu sang pemilik. Setelah berkelana dengan segala rasa dan pikiran. Langkah kakinya kembali memasuki kamar sang majikan. Dimana Tuan Elang sudah berpindah tempat. Pria itu, tengah menatap sebuah gambar usang yang menempati sebuah pigura ukuran 4r. Gambar yang merupakan pemandangan sebuah pedesaan.


Diletakkannya nampan ke atas meja, "Tuan, makanan Anda."


"Hmmm. Letakkan saja," Tuan Elang mengalihkan pandangannya mata menatap Tessa yang masih berdiri di menunggu kedatangannya. "Duduklah. Aku tahu, kamu belum makan."


"Tidak, Tuan. Ini tidak sopan, saya bisa ....,"


Tidak ada lanjutan, begitu Tuan Elang mengedipkan mata. Ia membuat si gadis pelayan menjadi bisu untuk sementara waktu. Suka, tidak suka. Keduanya makan bersama. Meski makanan hanya untuk satu porsi, tetap saja di bagi dua. Selama lima belas menit hanya ada suara dentingan sendok yang beradu di atas piring.


Bukan maksudnya untuk mengambil alih kendali alih fungsi tubuh Tessa, tapi gadis itu terbiasa mendapatkan pelayanan terbaik selama menjadi seorang putri. Cukup diakuinya, bahwa Tessa bukanlah gadis yang manja. Seperti bayangannya. Justru, gadis itu dengan cepat beradaptasi dengan kondisi sekitarnya. Tidak salah lagi, tekad itu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang ada.


"Aku memiliki sebuah penawaran yang bagus untukmu," ujar Tuan Elang seraya mengedipkan mata melepaskan pengendalian yang dilakukannya, membuat Tessa hanya melirik sekilas menyadari bisa berbicara kembali. "Jadilah partnerku, maka kamu bisa hidup di luar sana, tanpa seorangpun curiga akan identitasmu. Jika tidak mau, ya nikmati saja tetap menjadi pelayan dengan rencanamu yang pasti hanya menjadi angan."


"Apa sekarang sudah musim. Majikan mengancam pelayan baru? Apakah ini tidak berlebihan, Tuan Elang?" sindir Tessa tak mau menyerah begitu saja.