
Dua jiwa satu raga. Dave mulai menerima kehadiran Sebastian. Keduanya mencoba untuk saling membantu dan memahami. Tidak tahu, apakah itu akan berhasil atau justru semakin mempersulit keadaan. Setidaknya pernah mencoba untuk berbagi raga, tanpa harus bertarung seperti preman jalanan.
Namun, Dave tidak menyadari. Jika semakin sering Sebastian mengendalikan raganya. Maka, secara tidak langsung akan mengusir jiwa asli dari sang pemilik tubuh. Pemuda itu begitu polos hingga mudah jatuh dalam cerita manis Sebastian. Sementara Sang pengelana mencoba mempertahankan citra baiknya.
Tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Saat ini, sangat penting untuk menyakinkan Dave, jika dia hanya meminjam raga pemuda itu sementara waktu. Tentu sampai dia menemukan raganya sendiri. Padahal, keyakinan akan menemukan raga yang sudah lama tak menampakkan barang hidungnya. Hanya sebatas angan.
Perjalanan berlangsung menyururi lembah kegelisahan. Dimana lembah itu terletak di sisi utara hutan kematian. Wilayah yang hanya dipenuhi rumput ilalang dengan bebatuan yang tersebar di beberapa titik tempat, tetapi ketika melihat dari atas langit. Orang baru bisa melihat, jika bebatuan yang sebesar bola kasti memiliki pola unik.
Satu sisi, Dave menerima perlakuan baik hingga begitu bersimpati pada tragisnya kehidupan Sebastian. Akan tetapi, tidak dengan Dark Shadow. Sang pemburu murka, setelah mendapat info akan kebangkitan jiwa yang tersisa. Sebagian tubuhnya bergetar. Kekuatan besar yang pernah ia takuti. Kini datang dan pasti untuk mendapatkan raga yang ada padanya.
Alih-alih bersedih dengan rasa takut yang membelenggu. Dark Shadow justru mengambil secangkir darah persembahan, meneguknya hingga tandas dengan sisa setetes warna merah yang mengalir dari sudut bibirnya. Aroma anyir yang selalu membangkitkan semangat.
"Tuan ....,"
"Perketat keamanan villa penjara. Ganti lentera segel menjadi yang baru dan pastikan penjaga akan berjaga selama dua puluh empat jam. Paham? Pergilah!" tegas Dark Shadow seraya mengibaskan tangan kanannya, pria itu tak ingin mengambil resiko apapun.
Selain rasa takut yang datang menyapa. Kebenaran akan apa yang selama ini tersimpan di dalam villa penjara. Tentu, ia tidak ingin ada orang yang mengungkap rahasianya. Semua orang yang menjadi pengikutnya, tidak boleh melupakan kekuasaan yang ia miliki hingga tak terkalahkan.
Itu hanya sebuah pemikiran dengan rencana dari satu pihak saja. Walau sadar, untuk mewujudkan impiannya. Para pengikut setia harus membuat lentera segel. Lentera ini, bukan sembarang lentera. Bahan utama pembuatan yang bisa menjadi pembangkit bulu roma meremang. Tetap saja, siapapun yang memiliki lentera cinta. Maka kehidupan akan jauh dari bayangan para iblis.
Aneh, tapi nyata. Mereka juga menyenbah iblis. Namun, tidak ingin ada iblis yang datang memaisli villa penjara. Semua itu karena banyak buku kuno yang menceritakan kisah sejarah masa lampu tersimpan di salah satu ruangan yang kini sudah dipenuhi debu pastinya. Walau begitu, lentera segel harus dibuat tanpa syarat.
"Apakah semua akan kembali seperti dulu?" tanya Dark Shadow yang bermonolog pada dirinya sendiri. "Pertemanan, keluarga, lalu perpisahan dengan pengkhianatan. Apakah semua siklus akan tetap sama? Tidak peduli dengan waktu atau keadaan. Aku tidak akan membiarkan dia mengambil raganya kembali."