
Dilema yang dirasakan Tuan Elang, berbanding terbalik dengan dia yang tengah menikmati seteguk darah segar dari cawan favoritnya. Aroma anyir berubah menjadi manis bak madu yang memuaskan. "Siapa lagi yang kalian tangkap malam ini?"
Dialah sang pemburu element. Orang-orang bayangan memanggilnya sebagai Dark Shadow. Si pemimpin dengan hati berdarah panas. Setiap kali energinya habis, maka darah menjadi obat manjur untuk pemulihannya. Bukan darah hewan, tetapi darah pemilik element. Walau hanya selama setahun sekali.
Sang Pemburu Element setiap waktu hanya memberikan perintah. Walau memiliki misi yang bisa menghasilkan banyak uang demi menjalani kehidupan normal sebagai manusia. Pria itu, terbiasa memilih mangsa setelah menentukan tingkat para pemilik kekuatan.
Semua sudah berjalan begitu lama, bahkan wajah awet mudanya itu adalah hasil dari ambisi yang selama ini digelutinya. Darah manusia biasa hanya menghilangkan dahaga jiwa iblisnya. Akan tetapi, darah para pengendali elemen. Darah itu berbeda karena memiliki keajaiban.
"Dark Shadow, kami hanya berhasil membawa manusia biasa." Lapor sang anak buah dengan mulut bergetar, ia takut akan menjadi mangsa dadakan sang tuan.
Laporan yang mengecewakan. Dark Shadow mengibaskan tangan, mengusir semua orang dari aula tahta yang menjadi kekuasaannya. Apa gunanya manusia? Jika jiwa iblis yang semakin menguasai raganya hanya meminta persembahan darah para pengendali elementer.
Cawan yang menyisakan separuh darah, tak lagi membangkitkan gairahnya. Aroma itu berubah menjadi anyir, tapi tidak mengusik dirinya. Sesuatu lebih mengganggu pikirannya. Tiba-tiba saja, ia teringat peristiwa beberapa tahun silam. Entah kenapa, tetapi hati berkata akan ada badai yang menerjang.
Dielusnya penyangga tangan yang selalu menjadi sandaran kedua tangannya. Tahta yang menjadi tempat ternyaman, seakan siap melayang. Sekilas bayangan masa depan melintas menyapanya. Suara dentingan pedang bersama auman sang pemimpin.
"Arrgghhkk....,"
*Tidak peduli, sekuat apapun kalian. Di dunia ini hanya aku yang kuat dan memiliki tiga elemen sekaligus. Jadi, semua orang akan tunduk di bawah kakiku.~batin Dark Shadow, kemudian beranjak meninggalkan tahtanya*.
Dunia tahu, siapa dia tetapi pria satu itu. Tidak tahu, jika dunia selalu berputar. Seperti masa depan yang sudah menjadi milik orang lain. Takdir bukan miliknya, lagi. Alam menghadirkan seseorang yang harus menghabisi dirinya.
Sayup-sayup terdengar suara seruling bambu, hembusan angin yang mengalun indah simfoni. Setiap insan menyibukkan diri memenuhi takdirnya masing-masing. Walau tak semua tahu, kemana mereka akan mencapai tujuan. Tetap saja, usaha selalu dilakukan.
Termasuk Starla. Meski mendapatkan penolakan secara halus. Rupanya gadis itu mau berusaha lebih keras untuk bisa diterima para penghuni basecamp. Tidak semudah membaca pikiran orang, tetapi tidak sesulit belajar menggunakan pedang dan anak panah.
Elemen sangat penting untuk dipelajari, namun yang lebih penting adalah belajar melindungi diri sendiri. Untuk itu, setiap raga yang bernafas bisa melakukan latihan bela diri. Suka, tidak suka. Mau, tidak mau. Maka diharuskan.
Cara Starla berusaha berbaur dengan para penghuni basecamp, membuat wanita bertudung sesaat luluh. Ia bisa melihat keteguhan hati gadis itu. Usia muda, tapi tidak mengandalkan emosi yang membabibuta. Ketenangan yang bisa menjadi pembelajaran bagi semua orang.
Ada rasa tak tega. Akan tetapi, akalnya menolak mengulurkan bantuan. Bukan karena dendam, apalagi benci. Dia hanya mencoba melindungi para penghuni basecamp dengan menjaga jarak dari Starla. Meski sang tuan sudah menjelaskan, bahwa gadis itu pantas mendapatkan kesempatan untuk memperdalam pengendalian elemen.
Nyatanya, logika mengalahkan naluri hatinya. Sekali lagi, berpura-pura tidak melihat. Biarlah, gadis itu memulai perjuangannya seorang diri. Berharap dengan kerasnya kehidupan, maka akan menyerah. Kemudian meninggalkan basecamp. Sesederhana itu.
Satu pemikiran yang merugikan, bahkan tidak menghargai usaha Starla. Wanita bertudung kembali memainkan seruling bambu miliknya. Melepaskan rasa dan asa dalam balutan melodinya. Suara nan indah, bagai lagu pengantar tidur.
Para penghuni basecamp terbawa irama, tak terasa alunan itu melepaskan rasa sesak yang terpendam. Lelehan air mata memudarkan pandangan, tetapi tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat ke arah pohon. Dimana wanita bertudung berada, Starla yang melihat itu, langsung mengambil batu.
Satu bidikan mengenai tepat sasaran. Anak panah yang hampir mengenai lengan wanita bertudung terjatuh seketika bersamaan batu seukuran jari kelingking. "Nona, apa kamu baik?"