BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 20: Hembusan Angin



Kenapa ia bisa berpikir tentang Starla. Padahal gadis itu, baru saja memasuki hidupnya. Namun, melihat apa yang sudah terjadi. Kemungkinan besar hanya si gadis pengendali pikiran yang bisa membantunya.


''Apakah aku harus meminta bantuannya? Bagaimana jika gadis itu menolak?'' tanya Tuan Elang pada dirinya sendiri.


Ia kehilangan kepercayaan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, seorang tuan muda berpikir terlalu overthinking bahkan tidak fleksibel seperti biasanya. Ingin sekali menghilang, lalu kembali menemui Starla, kemudian berbicara maksud kedatangannya. Namun, ia sadar akan satu hal.


Jika saat ini, gadis itu masih berpikir bahwa ia seorang begundal jalan. Satu sisi dilema, tetapi sisi lain merasa membutuhkan. Sedangkan waktunya tidak lama lagi. Ia tahu, jika di luar sana para pemburu bayangan terus mengintai mangsa yang sudah ditetapkan.


Siklus dari gerhana merah akan segera dimulai, di hari itu seluruh alam akan berguncang. Mereka yang memiliki kelebihan akan menunjukan jati dirinya. Tidak ada ya bisa bersembunyi, kecuali mereka yang terpilih untuk menjadi bagian dari akhir pertempuran.


Perlindungan apapun tidak akan berguna karena yang tersisa hanya entitas murni dari para manusia terpilih. Termasuk Dark Shadow, pria pemimpin para pemburu bayangan pun, tidak akan bisa menghindari gerhana merah.


Seperti sinar sang rembulan. Cahaya yang berpendar, begitulah perwujudan dari para pengendali pada malam gerhana merah. Sehebat apapun seorang pengendali, tetap saja tidak akan bisa menghentikan siklus yang terjadi setiap seribu tahun sekali.


Dilema Tuan Elang, juga dirasakan oleh seseorang. Dia yang tengah duduk bersandar menjadi pajangan. Setelah menjadi patung di antara patung bernyawa yang lain. Ia hanya menjalankan pikirannya dengan harapan untuk mencapai sang tuan. Apapun yang sudah terjadi, tentu tidak bisa dirubah kecuali mesin waktu telah ditemukan.


Oh alam , dengarkanlah rintihan hatiku. Sadarkan dia yang menjadi pelindung alam. Bangkitkan dia dari lelapnya angan. Tunjukkan dia jalan kebenaran. Sampaikan padanya, kami mengharapkan jatuh dalam bayangannya.~ batinnya dengan mata terpejam menghantarkan kesenyapan alam dalam hembusan kepasrahan.


Meninggalkan semua orang dalam kegelisahan hati. Rintik hujan menyapa membasahi bumi. Tetesan air yang menghidupkan hingga berganti menjadi kilatan petir yang menggelegar. Cuaca buruk mengubah waktu menjadi kehebohan.


Sementara di danau kerinduan. Tessa Flamboyan baru disadarkan akan kembalinya kekuatan yang selama beberapa saat terlepas. Meski ia tahu, jika jiwanya tidak akan utuh. Setidaknya, penyucian diri mengembalikan raga yang terbelenggu.


"Kembalilah! Lanjutkan tugasmu, ingatlah. Kesucian hanya milik cahaya, bukan kegelapan. Walau badai menerjang, kilatan kebenaran tetap pada keberhasilan." ucap suara yang memudar bersama terbuka kabut awan.


Langkah kaki berjalan menjauh meninggalkan danau kerinduan, namun begitu berpindah tempat. Kedatangannya di sambut dengan tatapan tajam yang mematikan. Kenapa semua orang seperti menatap dengan tatapan permusuhan? Apa yang mereka lihat darinya? Apakah mungkin berkaitan dengan yang baru saja ia lakukan?


Pertanyaan, demi pertanyaan, tetapi tak akan ada jawaban. Tiba-tiba, siluet bayangan datang menghampiri, gerakannya yang cepat terbang bersama hembusan angin. Sekilas cahaya menghantarkan wajah yang sangat dikenalinya. Wajah yang akan selalu memberikan senyuman hangat menyambut kedatangannya.


"Tangkap, Putri pengkhianat ku!" titah pria paruh baya hingga menggerakkan para manusia bertopeng merah bergerak seirama menghampiri Tessa.


Melihat situasi yang sangat tidak mendukung. Tessa spontan menggunakan kekuatannya menghilang dari istananya meninggalkan jejak tak bertuan beraroma kesegaran. Aroma itu membuktikan, jika sang putri sudah terkontaminasi oleh element cahaya murni.


"Cari Tessa Flamboyan!"