BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 27: Dua untuk Satu



   Pertanyaan Tessa tidak begitu penting, tetapi ia sadar bahwa  gadis itu tidak menyadari apa kesalahan yang membuat perjalanan menjadi begitu lama. Padahal, ketika ia pergi melewati lembah jerat emosi seorang diri. Tidak akan lebih memakan waktu kurang dari sepuluh menit.


    


    Namun ia ingat, dulu saat pertama kali menemukan tempat tersebut. Justru tidak tahu apapun hingga harus menikmati banyak rintangan yang bisa menghilangkan kesadaran seseorang. Sebenarnya, ia bisa menemukan tempat tersebut berkat setengah dari sisa memorinya yang semakin memudar walau tidak ingin melupakan.


    


    Meski sudah mendapatkan beberapa jenis obat penawar nyatanya tidak menghentikan perubahan ingatan yang ada di dalam kepalanya. Ia kini mengandalkan ingatan baru yang sesekali bergabung dengan ingatan masa lalu.


        


        Sungguh ironis, tapi begitulah namanya kehidupan. Apa yang seharusnya diingat, justru terlupakan. Sementara apa yang seharusnya dilupakan, justru terus mengusik pikiran dan hati hingga terkadang sulit untuk dipisahkan dari kenyataan. Seperti waktu yang sudah berlalu, semilir angin juga memberikan hembusan semangat baru.


        


        Setelah istirahat sejenak, Tessa kembali bangit dari rasa lelahnya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Namun, sungguh ia sangat terkejut. Ia baru sadar, jika ternyata, ia tidak berjalan walau hanya sejengkal. Sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi.


    


    Terlebih tatapan mata sang majikan hanya menyunggingkan seulas senyum tipis. Jika semua seperti yang ia pikirkan, maka perjalan tidak semudah yang dibayangkan. Ingin mengeluh, tetapi gelengan kepala sang majikan meluruhkan seluruh rangkai  kata yang siap berbaris rapi mengabsenkan diri.


    


     Lagi dan lagi hanya bisa mengandalkan semilir angin untuk kembali menemukan titik terang dari masalahnya kali ini, hingga lentera kristal yang ada di tangan Tuan Elang menjadi sebuah petunjuk. Perjalanan bukan tentang seberapa hebat dari seorang pengendali elemen, tetapi seberapa yakin di setiap usaha yang akan dilewatinya.


    


    


    Secara tidak langsung. Alam hanya menerima kepasrahan dalam hati, penerimaan dalam ingatan, dan langkah tanpa keraguan. Pendar cahaya yang menyadarkan Tessa, bahwa hatinya masih tidak meyakini tempat yang dipijak nyata adanya. 


    


    "Tuan, jika perjalanan ini tergantung dengan kepercayaanku. "Anda bisa terlambat. Sebaiknya ....,"


    


    


    "Tidak akan ada yang pergi meninggalkan rekannya." Tuan Elang semakin mengeratkan genggaman tangannya, memberi kekuatan agar Tessa kembali semangat. ''Aku ada bersamamu. Ayo, kali ini kita lakukan bersama.''


    


    


    Rasanya seperti hembusan angin yang menyegarkan. Keduanya menganggukkan kepala, lalu mengubah posisi. Dimana Tuan Elang berdiri di belakang Tessa, kemudian menyatukan tangan lainnya menggenggam kristal cahaya bersama, membiarkan malam semakin lebih terang. Sangat dekat hingga suara nafas saling terbalaskan.


    


    


    


    


    Pemuda itu berjalan menikmati pemandangan alam di sekitarnya dengan bibir terus bergerak menjelaskan beberapa hal alami yang menjadi kebiasaan para manusia. Tidak mungkin, ia akan membiarkan jwa yang mengendalikan raganya menjadi manusia udik.


    


    ''Dave, apa manusia zaman mu terbiasa berenang di tengah malam?'' tanya sang pengendali raga, membuat Dave berpikir sejenak karena tak paham dengan maksud pertanyaan tersebut. ''Di danau dua ratus meter dari tempat kita berdiri. Ada beberapa anak remaja yang bermain api unggun.''


    


    ''Bukan hanya itu saja. Mereka juga mengajak seorang gadis cantik yang diam ketakutan dengan kedua tangan terikat. Jika seperti gambaran yang kudapatkan, maka gadis itu aka melayani empat remaja yang memiliki kesadaran sepuluh persen. Tentu melakukannya di dalam air yang dingin.''


    


    Bagaimana bisa menjelaskan secara detail seperti itu? Ketika ia saja terkurung di dalam raganya sendiri. Lagi pula, ia tidak paham dengan gambaran yang menceritakan kejadian yang akan terjadi beberapa waktu kedepan. Jujur aja, saat ini masih dalam proses untuk menerima takdir dalam hidupnya.


    


    


    ''Apa masih sanggup untuk mencampuri urusan orang lain? Akan tetapi, ketika kata seorang gadis kembali terngiang. Mana mungkin ia akan berdiam diri, ''Selamat saja dia. Setidaknya itu akan menjadi satu pahala sebagai tabungan untuk mendapatkan tiket nirwana.''


    


    ''Apa kamu serius?'' tanya sang pengendali raga mencoba memastikan akan mendapatkan tiket ke nirwana.


    


    


    Ya harap maklum, bagaimanapun ia bukanlah manusia pada zaman Dave dibesarkan. Pada zaman dulu untuk mendapatkan tiket nirwana, maka manusia harus ikut berperang  mengorbankan darah seperjuangan. Jadi, semudah seperti pa yang dikatakan oleh Dave.


    


    Tak ingin berdebat, Dave mengiyakan, membuat sang pengendali tubuhnya langsung berlari tanpa memberikan peringatan. Secara reflek, ia ikut bernafas dengan suara yang tersenggal. Sesuatu dapat dirasakan dan ternyata, jiwanya tidak merasakan apapun selain semilir angin malam.


    


    Benar saja, begitu sampai di dekat danau yang cukup gelap karena hanya mengandalkan lampu di beberapa titik lokasi. Dave melihat ke depan dengan tubuh bersembunyi di belakang salah satu pohon nan rindang. Para remaja itu sibuk meneguk botol  hitam dengan logo anggur seraya bersenandung ria.


    


    


    ''Gadisnya ada di bawah pohon, lihat wajahnya sudah ketakutan.'' ujar sang pengendali raga, membuat Dave ikut penasaran. ''Apa kamu punya rencana?''