BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 18: Ikatan



Wah ungkapan hati yang tak akan pernah bisa tergambarkan dalam surga dan duka dalam alur kehidupan bersama setiap hal nafas yang panjang. Mungkin takdir berkata lain namun sebuah takdir kehidupan akan tetaplah sama.


Kesegaran air yang mengalir, mengubah haluan entitas yang ada di dalam tempat suci tersebut. Suara yang terus memberikan bimbingan untuk melakukan penyucian diri. Tessa yang tenggelam dalam dimensi lain, membuat Dark Shadow merasakan kegelisahan yang luar biasa hebat.


Merasa detak jantungnya berdekap begitu cepat. Iya tak mengerti apa yang telah terjadi, namun ikatan batinnya terlalu kuat mengarah pada gadis yang memiliki separuh jiwanya. Sudah pasti, ini ada kaitannya dengan Tessa Flamboyan.


"Apa yang terjadi pada gadis itu? Bukankah tadi sudah pergi dari sini. Lalu kenapa perasaanku sangat tidak tenang? Kuharap kamu baik." gumam Dark Shadow pada dirinya sendiri.


Ingin sekali meninggalkan tempatnya, tetapi dia sadar akan satu hal. Saat ini tidak bisa melakukan apapun. Apalagi untuk bisa melakukan sesuatu, seperti mencari keberadaan Tessa. Kenyataannya adalah raganya masih cukup lemah. Semua itu karena misi terakhir yang baru diselesaikan.


Mana, tidak mungkin untuk meninggalkan markas. Di luar markas, maka tidak akan ada yang bisa melindungi. Sementara di tempat lain Tuan Elang tengah mencoba untuk memecahkan misteri yang baru saja di dapatkan. Kasus yang akan ia selidiki. Kali ini terasa begitu berat, bahkan tidak menemukan titik terang. Sesuatu menyentil hati dan juga pikiran.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ingatan di dalam kepala ku, trus saja berputar seperti semua telah terjadi dan akan kembali terjadi. Bukankah perasaan ini aneh? Sesuatu yang terasa seperti milikku, tapi terasa jauh menjadi milik orang lain.' Monolog Tuan Elang pada dirinya sendiri.


Di tengah kegelisahan yang dirasakan begitu banyak kesimpulan yang tidak bisa dijabarkan. Ingin sekali menyelesaikan. Akan tetapi semakin menggenggam justru semakin menginginkan. Meski demikian, tapi tak mempengaruhi apapun.


Ketika pikiran mulai tenang dengan emosi yang baik. Helaan nafas semakin menerpa hingga sayup-sayup terdengar suara kicauan burung begitu merdu, indah dan sangat menyenangkan. Alam selalu memberikan sesuatu yang baru, hingga aliran darahnya terasa semakin membaik.


Perlahan ingatannya mulai kembali. Sebuah bayangan yang menyapa. Membawanya pada masa lalu. Masa di mana ia masih menjadi seorang balita. Bagaimana kenangan itu bisa bersamanya? Akan tetapi, satu hal yang pasti. Suara-suara yang terus berdatangan membawanya kembali ke masa lampau. Hunian yang terbuat dari atap jerami dan beralaskan sebuah permadani lusuh. Rumah itu terlihat begitu sederhana dengan banyak kekurangan, tetapi dari sudut pojok terlihat beberapa orang tengah berkumpul membicarakan sesuatu yang serius.


Apa yang mereka bicarakan? Tidak ia pahami, tapi begitu kenyataannya. Ia bisa melihat, bisa mendengar, bahkan bisa merasakan. Hanya saja, i tidak untuk mendapatkan pemahaman. Seakan semua yang ada di depannya. Tidak bisa diubah, apalagi untuk diperbaiki. Meskipun ia ingin memperbaiki. Nyatanya itu sulit.


"Tuan, apakah itu anak yang terpilih?" tanya salah satu pemimpin yang mengikuti rapat tersebut.


Pria yang mendapatkan pertanyaan. Menyingkap sorban yang menutupi wajahnya, lalu beralih menatap seorang bayi yang masih dalam gendongan seorang wanita dengan tudung di kepalanya.


"Benar, Dialah Sang Pemimpin yang akan membawa kedamaian di kedua alam semesta."