
Maaf, Tuan Elang. Siapa dia? Apakah pria yang membunuh begundal jalanan itu?" tanya Starla ingin memastikan, tetapi tatapan tak senang menjadi jawabannya.
Sedikit penjelasan dari wanita bertudung. Kini Starla memiliki informasi yang mungkin akan membantu atau tidak sama sekali. Pada kenyataannya, ia berdiri ditempat yang asing. Seakan alam yang terbuka berubah menjadi kubah penjara alami.
Kecemasan yang ia rasakan terus mengetuk menyusup ke dalam hati dan pikirannya. Namun, suara langkah kaki dari arah belakang mengalihkan perhatiannya, tetapi tidak perhatian sang wanita bertudung yang masih menikmati jernihnya air terjun.
"Apa kamu tidak mendengar suara langkah kaki?" tanya Starla dengan heran, apalagi wanita yang berdiri di sebelahnya hanya mengedikkan bahu.
Rasa penasaran, membuat Starla menoleh ke belakang. Sayangnya, tidak ada siapapun di belakang sana. Selain tanah lapang dengan rumput hijau, lalu langkah siapa yang barusan?
"Percuma kamu cari. Tuan Elang bukan untuk mainan. Sejauh apapun kamu berusaha, dia ada di antara kita." Wanita bertudung berbalik, lalu berjalan meninggalkan Starla tanpa melanjutkan apa yang mereka bahas sebelumnya.
"Hey, tunggu!" Panggil Starla berlari kecil menyusul wanita yang ada di depan sana.
Langkah kaki yang semakin menjauh, bahkan tanpa menoleh ke belakang lagi. Dimana Tuan Elang menampakkan diri, berdiri gagah ditempat yang menjadi tempat Starla sebelumnya. Seulas senyuman tersungging menghias wajah tampannya.
Gadis yang polos, tapi dunia luar terlalu ganas. Harus ku apakah? Sepertinya sudah waktuku untuk memenuhi janji pada pria tua itu.~batin Tuan Elang menyeringai, lalu menghilang bersama hembusan angin.
Meninggalkan basecamp tempat para pengendali tinggal. Di luar sana, kehidupan banyak orang tetap berjalan normal untuk sebagian. Namun, tidak untuk seseorang yang merenung menatap pantulan wajahnya dari cermin meja rias.
Setiap kali keluar rumah. Ada saja orang yang menatapnya aneh, entah apa masalah orang lain dengannya. Ia pun tak tahu, tetapi terkadang denyutan yang menyerang bagian belakang kepala seperti setruman tegangan tinggi. Rasanya begitu menyakitkan.
Serpihan ingatan hanyalah separuh kenyataan. Sama seperti kehidupannya yang terus berusaha mencari kebenaran akan hidupnya. Masa lalu menjadi sekilas bayangan gelap. Bagaimana ia bisa menemukan apa yang diinginkannya? Sedangkan hati terus meronta.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang melengking hingga telinganya berdegung kesakitan. Sontak menutup telinga menggunakan kedua tangannya. Hitungan satu hingga sepuluh bersama tarikan nafas perlahan mengembalikan ketenangannya.
"Dave!" Seru panggilan dari luar bersahut-sahutan dengan gedoran pintu yang tidak memberikan kenyamanan apapun.
Entah kenapa. Intinya, jangan pernah biarkan siapapun untuk mengetahui perbedaan warna matanya. Sebagai pria kelas menengah. Maka lebih baik bersikap normal dan tidak menunjukkan kepribadian yang menonjol. Meski begitu, tetap saja ada hal yang tidak bisa dihentikan.
Orang yang tinggal di sekitar perumahan Laskar, mereka tahu siapa Dave Cullen. Si pria dengan bibir pucat, seperti mayat yang hidup saja. Padahal dia bukan vampir, bahkan dokter menjelaskan hal itu karena pengaruh genetika dari keluarga Dave.
"Ada apa?" tanya Dave tak suka dengan kedatangan tetangga satu itu, dimana datang dan pergi sesuka hatinya.
Bukannya menjawab, tetangga yang bernama Waluyo mendorongnya masuk kembali ke dalam rumah. Lalu bergegas mengunci pintu rumah milik Dave, kemudian menyerahkan sebuah koran bekas yang baru saja ia dapatkan dari pembungkus tempe di rumahnya sendiri.
"Lihat, ini kamu bukan?" cecar Waluyo menunjuk sebuah takjub berita yang ada di koran bekas.
Sebuah berita dengan sub judul pembantaian sekelompok preman jalanan yang biasa berpatroli di wilayah block M castle. Walau samar gambar yang tertangkap kamera, tetap saja ada yang bisa melihat gambaran jelas dari sang pelaku. Termasuk dia sendiri.
Diambilnya koran bekas itu, sebentar saja mencocokkan sekilas wajah yang tertera di koran dengan wajahnya sendiri. "Kenapa mirip?"
Bingung, tetapi sekali lagi membaca ulang isi berita hingga nampak di akhir kalimat tanggal, bulan dan tahun kejadian. Peristiwa itu terjadi sudah cukup lama dan saat itu, ia masih tinggal di daerah lain. Jangankan wilayah block M castle. Perumahan yang menjadi tempatnya bernaung saja, tidak tahu pada masa itu.
"Ini bukan aku." Dave menyerahkan koran bekas itu pada Waluyo, "Tunggu dulu, kenapa kamu tiba-tiba baik denganku?"
Senyuman aneh terbit, membuat Dave waspada. "Sebenarnya, aku penasaran kenapa kamu selalu suka seharian duduk dirumah. Padahal anak lain mencoba mengajakmu untuk gabung nongkrong di cafe atau mall."
Dave pikir, ada yang tidak beres, ternyata hanya masalah sepele. Tanpa menjawab. Dave mengeluarkan Waluyo dari rumahnya. Tidak peduli dengan suara umpatan yang harus masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
Namun koran berkas yang tertinggal tergeletak jatuh ke lantai menarik perhatiannya. Pria itu masih penasaran. Apalagi wajah samar di dalam kolom kotak memang terlihat mirip dengannya. Seketika tatapan mata sibuk mengamati tanpa berkedip. Semakin lama, semakin fokus hingga kepulan asap hitam mengejutkannya.
"Astaga, kenapa bisa seperti itu?" tanya Dave pada dirinya sendiri.