
Tidak ada sentuhan lebih dari genggaman tangan dengan jarak keduanya yang begitu dekat hanya menyisakan jarak lima centi. Tuan Elang meminta Tessa untuk memejamkan mata. Bukan untuk menyembunyikan kekuatannya yang ia punya, melainkan agar gadis itu tidak merasakan pusing saat melewati portal yang akan membawa keduanya ke tempat yang berbeda.
Semilir angin yang berhembus membawa tubuh keduanya tenggelam dalam kabut ilusi. Dunia terasa berputar, meskipun matanya terpejam. Tessa bisa merasakan perubahan dimensi dari udara yang berganti di sekelilingnya. Hawa dingin AC dari sebuah kamar berubah menjadi dingin alam dengan aroma tanah yang basah.
Entah dimana kakinya kini berpijak. Namun, bagaimana cara Tuan Elang menjaganya. Hati dan pikiran langsung percaya pada pria itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Meski badai menerjang, pastilah jiwa dan raga akan tetap terlindungi. Perasaan tidak akan mengelabui.
Seketika, ia teringat tentang Dark Shadow. Kenapa selama ini, tidak sekalipun merasa nyaman. Padahal jiwa mereka terbagi menjadi satu bagian. Lalu, apa yang spesial dari Tuan Elang? Apakah karena bisa mengendalikan waktu atau ada hal lain yang tersembunyi dalam diri pria itu?
"Bukalah matamu!" Titah sang majikan, tetapi tidak melepaskan genggaman tangan yang bisa saja membuat Tessa jatuh ke jurang. "Ini disebut lembah jerat emosi."
Apa itu lembah jerat emosi? Kenapa baru mendengarnya. Tidak sekalipun, orang-orang di dalam istana atau orang lain yang dikenalnya membicarakan lembah yang kini ada di hadapannya. Tidak nampak apapun, selain tanah basah seperti lumpur dan juga beberapa bebatuan lancip yang mencuat seperti puncak gunung.
Jika itu memang lembah. Kenapa tidak seperti lembah pada umumnya? Benar-benar tidak tahu, dimana ia berada saat ini. "Tuan, kenapa tempatnya sangat aneh? Atmosphere disini seakan menolak keberadaanku."
"Jawabannya hanya kamu yang bisa menjawab. Lembah jerat emosi, hanya menerima mereka yang memiliki garis keturunan murni. Apa ini cukup untuk menjelaskan. Apa alasan alam menolakmu?" Jelas Tuan Elang mempertanyakan balik, membuat Tessa menundukkan pandangan.
Ia berpikir, majikannya tidak tahu. Jika dia tidak murni pemilik element. Ternyata sejak awal tahu dan tidak mempermasalahkan itu. Gadis itu tidak sadar. Apapun akan ditanggung dan diterima oleh Tuan Elang, demi memenuhi tujuan hidupnya.
Lembah jerat emosi. Nampak hanya tanah lapang dengan beberapa batu tajam mencuat ke permukaan, tetapi di balik semua itu. Ada cara untuk membuka jalan yang akan membawa ke tujuan selanjutnya. Tentu untuk itu, Tuan Elang harus memulai untuk melakukan hal seperti biasanya.
Akan tetapi, ketika tubuhnya terasa bergerak. Barulah menyadari, jika Tuan Elang harus berlari menginjak bebatuan dengan perhitungan matang. Tidak memungkiri, ia terpesona akan ketangkasan dan kekuatan sang majikan. Aura yang terpancar semakin bercahaya. Wajahnya begitu bersinar dengan mata yang meneduhkan, walau begitu tajam.
Tak terasa, langkah terakhir membuat keduanya mencapai pijakan rumput hijau dengan aroma yang menyegarkan. Perlahan diturunkannya sang pelayan agar bisa kembali berjalan, "Maaf, Aku ....,"
"Tidak apa, Tuan. Jangan sungkan. Perjalanan ini akan menjadi hal baru untukku, tapi untuk Anda. Pasti sudah terbiasa. Lakukan saja sebagaimana mestinya. Aku percaya padamu, Tuan Elang." Sela Tessa tak ingin mengubah emosi menjadi rasa canggung.
Keduanya melanjutkan perjalanan. Kegelapan malam, bukanlah halangan karena majikannya sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk membawa sebuah bola cristal berwarna biru terang yang menjadi pengganti cahaya bulan. Walau begitu, tangan mereka tetap saling menggenggam satu sama lain.
Rerumputan hijau yang mereka lewati. Perlahan merunduk, lalu mulai masuk kembali ke dalam tanah. Tessa merasa perjalanan begitu panjang tanpa ada arah tujuan, sedangkan Tuan Elang masih mencoba untuk bersabar. Ia tak bisa mengatakan apa yang boleh di lakukan dan yang dilarang saat melewati jalan terabasan dengan atmosfer entitas sihir yang di atur oleh alam.
Walau ingin sekali memberi peringatan. Bibirnya tetap terkunci, tangan tetap menggandeng Tessa dan lentera cahaya menjadi penyemangat keduanya. Setengah jam pertama, tidak ada yang terlibat aneh. Satu jam kemudian, rasa lelah di kakinya semakin terasa. Namun, ia masih berusaha untuk tetap maju dan bangkit.
Sebenarnya, keyakinan akan hati masih dipertanyakan. Memang percaya pada pria yang membawanya ke tempat asing tersebut, tetapi hati meragukan dimana kakinya berpijak. Alam hanya mengenal cinta, bukan pertanyaan dalam ketidakpastian. Seperti isi hati yang tidak bisa dibaca oleh orang lain.
"Tuan, bisa istirahat sebentar? Aku sudah tidak kuat." Tessa mengelap peluh yang bercucuran, udara disekitarnya dingin. Lalu, kenapa ia berkeringat bahkan belum berjalan jauh. "Apakah Tuan selalu berjalan seperti ini? Apalagi sendirian."