BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 7: Jaminan atas Starla



Seketika hatinya tersentuh. Ingin rasanya mengajari anak-anak itu, seperti yang ayahnya ajarkan. Bagaimana bersabar mengasah kemampuan, dan berlatih bela diri untuk bisa menjaga diri sendiri. Akan tetapi, apakah mungkin, dia bisa menjadi bagian dari orang-orang yang ada di basecamp ini?



Sadar diri. Tujuannya ke kota bukan untuk memberikan ilmu, tetapi mencari pembunuh ayahnya. Namun, hati meronta meminta untuk mengajarkan semua yang telah dipelajari. Tak tahan lagi. Starla berjalan meninggalkan kamar.



Banyak pasang mata yang menyambutnya dengan tatapan tidak suka. Meski begitu, tidak seorangpun mencoba untuk mengusik. Apalagi menegurnya sebagai seorang tamu. Starla mengedarkan tatapan matanya melihat seluruh area base camp.



Kenapa aroma cendana begitu kental? Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Tempat yang menjadi pijakan adalah alam bebas dengan deretan rumah pohon yang memiliki hiasan bambu gantung berbentuk seruling mini. Dimana ketika hembusan angin menerpa.



Nyanyian alam terdengar seirama mengikuti hembusan angin. Hanya saja ada yang tidak bisa dipahami olehnya. Kenapa kekuatannya tidak bisa digunakan? Padahal ini alam bebas, bukan ruangan yang memiliki segel kekuatan.



Gadis itu hanya berasumsi segala sesuatu dengan kenyataan yang sangat sederhana. Sementara kenyataan yang tak terlihat, jauh apa yang dibayangkan. Tanpa Starla sadari. Setiap langkah kakinya terus diawasi oleh tatapan mata setajam elang.



Dia yang duduk bersila di tempat peristirahatan dengan mata terpejam. Tatapan mata batin yang bisa menembus dimensi ruang dan waktu. seulas senyuman menghiasi wajahnya. Starla memang memiliki kekuatan pengendali pikiran hampir setara dengan Morgan.



Hanya saja, gadis itu tidak tahu. Kelemahan terbesar sebagai pengendali pikiran adalah pada dirinya sendiri. Semakin banyak tenggelam dalam seluruh emosi orang-orang di sekelilingnya. Maka secara tidak langsung menonaktifkan kekuatan yang terasah sekalipun.



Kebenaran pahit, tapi tak semua pemilik kekuatan pengendali pikiran tahu akan hal itu. Satu atau dua orang sangat memahami, namun demi menjaga keseimbangan. Mereka yang tahu, memilih bungkam agar pikiran tidak ikut terkontaminasi oleh dunia yang dipenuhi tipu muslihat.



"Tuan Elang, boleh saya masuk." Ucap seseorang dari balik pintu kayu, sontak membuat pria yang tengah memperbaiki auranya menjentikkan jemari.



Pintu terbuka dengan sendirinya, kemudian masuklah si wanita bertudung. Wanita itu berjalan menghampiri Tuan Elang, lalu duduk bersimpuh dengan satu lutut sebagai sandaran. Wajah menunduk memberikan penghormatan. Inilah cara seluruh penghuni basecamp ketika menghadap ke Tuan penolong mereka.



"Tuan, apakah tidak bahaya membawa gadis itu masuk ke basecamp? Bukannya saya menentang, apalagi berani mempertanyakan keputusan Tuan Elang. Saya hanya merasa, gadis itu terlalu muda bahkan sangat jelas tatapan matanya dipenuhi ambisi." Lapor Si Wanita Bertudung begitu lirih, walau terdengar jelas ditelinga sang Tuan.



Sesaat hanya ada keheningan. Tuan Elang tidak mengatakan apapun. Baik itu penolakan atau penerimaan. Pria itu masih duduk bersila dengan mata terpejam. Hembusan angin yang menerpa bergulung menuju ke utara. Perubahan arah angin yang begitu mendadak. Apakah akan terjadi sesuatu?




Benar juga yang dikatakan sang Tuan. Apa gunanya hak pengawasan? Tentu untuk terus memantau setiap tindakan dari Starla. Jadi, kenapa masih mempermasalahkan, bahkan tidak berpikir dua kali untuk mempertanyakan keputusan pria di depannya.



"Maafkan Aku, Tuan Elang." Ucap Si wanita bertudung semakin menundukkan pandangan, seseorang memegang kedua tangannya. Sontak ia mendongak bertepatan netra matanya terpaut pada netra sang Tuan. "Tuan Elang ....,"



Bibirnya terasa kelu. Keringat dingin bercucuran. Energi yang begitu besar menyebar menguasai kesadarannya. Walau hatinya memiliki banyak kata, tetapi bibir tak bisa digerakkan. Tuan Elang tengah melakukan sesuatu padanya, tapi apa?



Setiap kali peningkatan yang dicapai sang tuan. Ia tidak pernah mendapatkan penjelasan lebih. Kecuali itu memang penting untuk diketahuinya. Selama beberapa menit, dia kehilangan kendali atas raganya sendiri. Namun, ketika tatapan mata itu terputus. Keadaan kembali normal, bahkan seperti tidak tidak terjadi apapun.



"Namanya silent eyes. Akurasi dari kelebihan pengendali pikiran." Tuan Elang melepaskan kedua tangannya, lalu beralih menatap ke depan. Dimana jendela besar ada di hadapannya. "Starla mungkin memiliki kekuatan lahir sembilan puluh persen, tetapi untuk meningkatkan kemampuan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan."



Apa maksud Tuan Elang? Jujur saja, sebagai pengendali air. Dirinya tidak paham bagaimana orang mengendalikan pikiran orang lain, tetapi setelah apa yang barusan terjadi padanya. Tentu keraguan di hati hancur melebur bersama debu.


Tuan Elang memiliki banyak element. Tidak harus disebutkan karena semua orang di basecamp bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Apalagi, ketika pria itu mengajarkan para pengendali pemilik kekuatan dengan cara yang simple. Namun sangat mudah untuk dipraktikkan.


"Silent eyes atau disebut juga mata pedang. Satu serangan yang melumpuhkan lawan. Seorang pengendali pikiran akan mencapai tahap ini, setelah bisa mengalahkan emosi dan pikirannya sendiri. Tidak ada keserakahan, tidak ada kelemahan. Starla hanya harus memusatkan diri dan sering berlatih."


Cukup jelas, walau terdengar sangat berbahaya. Bagaimana jika gadis itu mendengar, lalu mempelajari secara diam-diam? Tidak boleh berjadi. Sayangnya, Si Wanita bertudung melupakan sesuatu. Dimana setiap persetujuan dan penolakan yang terus bergulir di dalam kepalanya itu. Sang Tuan tahu dengan begitu saja.


"Pergilah!" titah Tuan Elang tak ingin menjelaskan apapun lagi.


Apa arti penjelasan? Ketika pikiran tidak siap untuk menerima kenyataan. Setiap hal baru pasti akan terus ada. Mau menerima atau menolak. Mau suka atau tidak suka. Kehidupan yang mereka jalani memang di penuhi manusia pemilik kekuatan.


Perbandingan seribu banding sepuluh karena masa kini. Para pemilik kekuatan hanya hitungan jari saja. Jika setiap ras tidak menjaga keluarga dan anak-anak, maka bisa dipastikan akan punah untuk selamanya. Namun diantara para pemilik kekuatan. Bayangan gelap mulai berkelana mencari serpihan inti jiwa yang terbagi menjadi dua bagian.


Tuan Elang menatap jauh ke depan. Dimana hutan belantara yang menjadi basecamp bersebelahan dengan jurang nan dalam, "Aku akan memberikan keadilan pada kalian. Itu janjiku, Ayah, Ibu. Tunggulah di alam sana, akan ku kirim dia yang telah memisahkan kita."


Sesak di dada tak lagi ia rasakan. Semua emosi hanya akan menjadi penghalang, walau dengan emosi itu element air akan mudah dikendalikan. Tetap saja, kini pengendalian miliknya semakin mendekati kata sempurna. Sudah saatnya untuk memulai orde baru. Akan tetapi, apakah para pemilik kekuatan sudah siap untuk berperang?


Sekali lagi memikirkan segala sesuatunya. Kenyataannya, selain dia sendiri. Para pemilik kekuatan hanya ingin kehidupan yang tenang dan damai. Mereka tidak ingin kembali merasakan kehilangan salah satu anggota keluarga. Semua itu hanya akan menjadi rasa takut yang membelenggu.


Lalu, siapa yang akan menghentikan mereka? Sang pemburu element. Rasanya tak bisa lagi untuk mengelak, tetapi tak ingin berjuang. Jadi, apa gunanya memiliki kekuatan? Pernyataan dan pertanyaan yang tidak bisa diutarakan.


Dilema yang dirasakan Tuan Elang, berbanding terbalik dengan dia yang tengah menikmati seteguk darah segar dari cawan favoritnya. Aroma anyir berubah menjadi manis bak madu yang memuaskan. "Siapa lagi yang kalian tangkap malam ini?"