BASECAMP IMPERFECT HUMAN

BASECAMP IMPERFECT HUMAN
Bab 32: Gerbang Sang Waktu



Tak ingin membuat Tessa ketakutan dalam tekanan, Tuan Elang melepaskan tangannya. Membiarkan gadis itu kembali membuka mata. Ia merasa pemandangan ilusi lebih baik, dibandingkan kenyataan yang ada. Jika diibaratkan, maka seperti buah kedondong. Mulus diluar, tetapi berserat di dalam.


Kali ini, Tessa tak ingin menambah beban masalah untuk dilimpahkan pada pundak sang majikan. Tekad di hati kembali menyala terang, "Tuan, aku siap untuk memulainya, lagi."


Rasanya lega mendengar kepastian dari Tessa, walau ia sadar harus memulai dari awal kembali. Kini tidak ada lagi keraguan di hati gadis itu. Perlahan memposisikan diri saling mengeratkan genggaman tangan, lalu memulai langkah pertama mengikuti irama dari alam. Namun, kali ini terdengar berbeda. Suara musik yang merdu berubah rintihan tangis yang menggetarkan jiwa.


Akan tetapi seseram apapun suara yang menjadi irama dalam tariannya. Kedua insan itu tak mempedulikan godaan yang terus datang. Justru semakin menegaskan langkah kaki dengan pandangan mata saling bertautan hingga melupakan sekelilingnya.


Satu usaha yang dilakukan bersama-sama, membuat pintu gerbang yang menghilang kembali muncul mengikuti arah ukiran. Selaras dengan tarian yang menjadi persembahan. Semakin mendekat dalam jangkauan. Sang waktu yang semakin menipis, membuat Tuan Elang mempercepat langkah kaki dalam peraduan.


Pada akhirnya tarian itu mencapai batas yang merupakan tangga menuju pintu gerbang. Lalu, melepaskan pelukan, tetapi tetap menyatukan genggaman tangan. "Tessa, bantu aku putar roda waktu searah jarum jam!"


"Bagaimana caranya, Tuan?" tanya Tessa tak paham karena di depannya hanya ada pintu gerbang, namun tidak ada roda waktu yang dimaksud oleh sang tuan.


Tanpa menjelaskan. Tuan Elang mengulurkan tangan kirinya menyentuh gerigi emas yang perlahan menampakkan diri. Tentu saja gadis itu seperti orang buta. Gerbang di depannya adalah gerbang sang waktu. Dimana hanya terlihat oleh mata yang berdarah murni.


Setelah melihat gerigi roda emas dengan banyak jarum beraneka ukuran. Barulah Tessa memegang sisi lain yang akan membantu pekerjaan majikannya. Putaran searah jarum jam hingga berbunyi klik satu kali, lalu memutar kembali berlawanan arah jarum jam hingga berbunyi klok, kemudian memutar berlawanan arah jarum jam kembali. Namun langsung dilepaskan begitu saja.


Melihat itu, Tuan Elang dengan tangkas menahan tangan Tessa sebelum menyentuh gerigi roda yang berputar. Bukan hanya akan menjadi masalah baru, jika sampai keduanya saling bersentuhan. Bisa saja gadis itu menjadi korban yang harus menetap dan menjadi santapan para laba-laba.


Beberapa detik gerigi roda berputar akhirnya berhenti dengan gerbang yang mulai memudar. Pemandangan di sekeliling berubah dari terang menjadi gelap gulita. Hujan deras bersama petir yang menyambar. Perubahan itu sangat signifikan hingga mengalihkan perhatian keduanya secara bersamaan.


"Dimensi masa lalu." ucap Tuan Elang membiarkan air membasahi tubuhnya, "Disini, tidak ada yang bisa diubah karena semua sudah terlewati, tapi kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang mungkin menjadi rasa penasaran selama ini. Satu kesempatan untuk satu jiwa. Katakan, apa keinginan mu dari masa lalu?"


"Dimensi masa lalu? Apakah maksud Tuan, aku bisa melihat hari kelahiranku atau apapun yang masih berhubungan dengan diriku?" tanya Tessa memastikan pemahaman yang tidak salah mengerti, membuat Tuan Elang menganggukkan kepala membenarkan.


Jika benar seperti itu, maka tidak salah untuk mencari satu kebenaran tentang masa lalunya. Ia ingin mendapatkan jawaban atas pertukaran jiwa yang kini menjadi anugrah sekaligus kutukan untuknya. Yah, hanya itu yang ingin dia tahu karena kehidupan tak berarti tanpa kenyataan yang pasti.


Tanpa disadari Tessa alam menerima permintaannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hujan petir yang menggelegar berubah menjadi sinar mentari yang begitu cerah. Hembusan angin yang menyebarkan aroma kayu manis ke seluruh penjuru. Di depan sana rumah-rumah dengan bangunan seadanya.


"Bukankah itu desa terujung dari istanaku?" tanya Tessa bermonolog pada dirinya sendiri.