
Dilema. Tuan Elang mencoba mencermati seluruh isi file, tapi lagi dan lagi hanya ada jawaban yang samar. Tanda tanya besar terus mengetuk pikiran. Siapa itu, Sang pengelana? Namun tak ada jawaban. Sementara orang yang memenuhi kepalanya telah mencapai tujuan.
Hutan dengan rimbunnya semak belukar. Kabut putih yang tebal dan suara gagak yang memekakkan telinga. Hutan kematian. Dimana hutan itu menjadi perbatasan antara jalan raya dan sebuah kuburan keramat. Baik orang atau kendaraan yang melewati daerah itu harus melakukan sebuah ritual.
Bisa membunyikan klakson tiga kali, atau bersiul lima kali. Terdengar aneh, tapi itu biasa dilakukan untuk keselamatan bagi mereka yang melewati jalan raya perbatasan kabut ilusi. Bagi orang awam. Tidak ada yang berbeda selain hutan belantara. Namun bagi mereka yang bisa melihat menggunakan mata batin.
Wilayah itu seperti lingkaran garis merah yang akan menjerat siapapun yang tidak mematuhi aturan. Hutan kematian adalah rumah bagi Sang pengelana. Di sanalah semua bermula. Bagaimana seorang pengendali dua element menjadi sisa jiwa tak bertuan.
Dave yang kini harus berjuang melawan jiwa lain yang bersemayam dalam tubuhnya. Pemuda itu terus mencoba untuk mempertahankan hak kepemilikan dari raganya sendiri. Meski pada akhirnya harus pasrah merelakan setengah tempat untuk jiwa lain tersebut.
Perlahan kabut ilusi mulai menghilang meninggalkan bebatuan tinggi yang memiliki banyak tulisan aneh. Seperti bahasa sanskerta. Dia tak paham, tapi kenapa otaknya bisa menerjemahkan tanpa ada masalah? Seakan semua tulisan di bebatuan itu menggunakan bahasa Indonesia.
"Gelapnya guntur dalam kebisuan terompet. Langkah seratus, mundur seribu. Terbukalah, gerbang kematian!" Ucap Dave begitu jelas, tegas dengan emosi segenap hati.
Bibirnya bergerak begitu saja. Walau mencoba untuk menolak. Ia tak bisa menghentikan jiwa lain mengendalikan raganya. Seperti boneka tangan yang hanya menari mengikuti instruksi Sang dalang. Begitulah kehidupan yang harus pemuda itu jalani.
Miris dan tidak memiliki arti. Walau begitu, masih ada sisa rasa syukur dengan detakan jantung yang menyadarkan dirinya hidup masih ada untuk direngkuh. Harapan akan selalu datang tanpa diminta. Jadi, apapun yang terjadi. Dia tidak akan menyerahkan raga dengan begitu mudah pada Sang pengelana.
Tanpa Dave sadari. Jika apapun yang ada dipikirannya terbaca dan dipahami oleh jiwa Sang pengelana. Ketika raga manusia biasa menjadi wadah untuk jiwa lain. Maka yang berkuasa bukan manusia itu sendiri, melainkan jiwa yang menjadi inangnya. Akan lebih mudah menyebut sebagai parasit.
"Siapa kamu? Dimana aku berada?" Dave mencoba bertanya, tetapi yang terdengar justru suara bergema, seperti ia terjebak dalam sebuah tabung kaca yang tidak bisa dijangkau.
Menyadari akan hal tidak beres. Dave kembali berteriak. Tetap sama, semakin keras berteriak. Justru gema suara memantul. Apa yang terjadi? Jika bisa merasakan pergerakan tubuhnya sendiri. Kenapa tidak bisa mengendalikan untuk berbicara dan juga menggerakkan tubuhnya?
"Berusahalah lebih keras. Ini ragamu, tapi juga ragaku." Ucap Sang pengelana membalas usaha Dave dengan menyemangati pemuda itu.
Dave tidak tahu siapa dirinya, tapi dia tahu siapa itu Dave. Bukan hanya raga karena pikiran dan emosi pria itu terbuka seperti buku diary. Meninggalkan seluruh jeritan yang berdengung di telinga. Sang Pengelana berjalan menaiki anak tangga bebatuan yang ada di depannya.
Semakin naik anak tangga yang terlewat, kabut ilusi semakin menghilang. Suara burung gagak pun semakin terdengar nyaring memekakkan telinga, walau bagi Sang pengelana adalah nyanyian terindah di alam semesta. Satu langkah, demi langkah hingga mencapai ujung tangga.
Pintu sebuah gua yang tampak gelap dengan sulur akar yang menjadi penghalang. Sang pengelana mengedarkan pandangannya, melihat seberapa banyak perubahan yang terjadi di rumahnya. Tidak ada yang menonjol selain warna akar sulur yang berubah dari coklat menjadi hitam.
Aku kembali, tapi apakah dia ada di dalam? Jika iya, tidak mungkin hanya terdiam dan tidak memberi penyambutan. Apakah aku harus memancingnya keluar? Kurasa ....,~ucap hati Sang Pengelana yang langsung menghindari terjangan belati tajam yang terbang keluar dari dalam gua.
Rupanya, sosok yang dia bicarakan tidak terima hingga menghantarkan salam kematian. Bukan hal aneh karena itu penghormatan bagi jiwa yang tersisa. Namun, raga yang menjadi wadah tidak boleh terluka, meski itu hanya seujung kuku. Satu goresan saja, maka dia juga merasakan sakitnya.
"Sebastian. Masuk!" suara panggilan yang bergema seketika mengusir seluruh burung gagak yang berkoar memutari langit hingga ditelan awan.